Terbang Pun Ada Syaratnya Di Bukit Gantole Paralayang Bogor

"Aku ingin terbang tinggi, seperti elang
melewati siang malam, menembus awan..."

Ada yang familiar dengan penggalan lirik lagu Dewa ini kah? Jika iya, berarti kita satu angkatan. Haha!

Yup! Angkatan 90-an yang selalu punya kebanggaan tersendiri dengan segala kekayaan pengalaman masa kecil yang indah dan penuh kenangan.

Sebenarnya saya tak akan membahas umur atau generasi 90-an. Saya hanya ingin bercerita tentang terbang.
Yess! Terbang.
Di tempat ini, kamu bisa terbang seperti elang! Jadi lirik lagu Dewa ini bukan omong kosong, kan? Meski terbang di sini, harus menggunakan paralayang.

Masih dalam rangkain perjalanan saya dan keluarga menuju villa di Puncak, Bogor, kami mampir ke Bukit Gantole, Puncak Bogor. Lokasi Bukit Gantole ini tak jauh dari Masjid At-Ta'awun sekitar 500 meter.
Alamat Bukit Gantole terletak di Jalan Raya Puncak Bogor km. 87, Gunung Mas, Bukit Gantole. Kami mampir dalam perjalanan berangkat setelah sebelumnya mampir pula di Cimory Riverside.

Jalan menuju Bukit Gantole ini sendiri mudah diakses. Dari arah Jakarta melalui tol Jagorawi, keluar dari exit tol Ciawi yang langsung menuju puncak. Saat masuk, kami dikenakan tiket masuk Rp 13.000,- per orang yang sudah termasuk asuransi.

Dari pintu masuk, kami masih harus meneruskan perjalanan naik ke atas bukit. Karena kami datang saat liburan akhir tahun, tempat parkir yang sebenarnya cukup luas, tidak mampu menampung semua kendaraan pengunjung.  Kami harus parkir di tepi jalan, agak jauh dari lokasi paralayang.
Di dekat mobil kami terparkir, terhampar pemandangan kebun teh seluas mata memandang ke bawah bukit. Di bagian atas kebun teh, banyak pepohonan yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat berfoto. Spot-spot cantik dengan aneka macam bentuk semacam gasibu atau sejenisnya, banyak diminati muda mudi yang hendak menuju Bukit Gantole maupun yang sudah hendak pulang. Ornamen-ornamen seperti payung warna-warni, juga banyak ditambahkan untuk menambah cantik tempat ini.

Kami tidak mampir ke tempat ini, karena tujuan kami memang naik ke atas bukit paralayang. Lokasi puncak bukit paralayang sendiri tidak bisa dilewati kendaraan bermotor dan memang harus berjalan kaki. Tapi tenang, jika haus ataupun butuh asupan kalori, tak perlu khawatir. Banyak penjual makanan dan minuman di sepanjang jalan menuju puncak bukit. 

Selain penjual makanan dan minuman, banyak pula penjual pakaian, kaos, jaket, syal, topi, serta pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Mas Jo yang kedinginan pun membeli penutup kepala dan telinga di lapak penjual topi.

terbang dengan paralayang

Sesampainya di puncak Bukit Gantole, udara memang terasa lebih dingin. Udara berhembus segar. Matahari siang yang terik tak kami rasakan karena hembusan angin yang sejuk.

Di tempat ini, banyak pengunjung yang tertarik mencoba terbang dengan paralayang atau paragliding. Tarif untuk terbang paralayang di Bukit Gantole ini sebesar Rp 350.000,- bagi wisatawan lokal, dan Rp 400.000,- bagi wisatawan asing. Tarif tersebut sudah termasuk perlengkapan penerbangan sekaligus juga transportasi dari lokasi pendaratan (landing) menuju kembali ke lokasi penerbangan.

Tak perlu khawatir dengan keselamatan saat terbang. Di sini, pengunjung akan didampingi oleh instruktur yang terlatih dan berpengalaman dalam kegiatan paralayang.

Sebelum mulai terbang, Tim Paralayang Puncak Bogor yang berada di bawah Federasi Aero Sport Indonesia (ASI) ini akan mengukur kecepatan angin menggunakan alat ukur kecepatan yang canggih.  Paralayang bisa dilakukan jika tidak hujan dengan kecepatan angin maksimal 20 km/jam.

Nah, syarat-syarat untuk bisa terbang adalah:
  1. sehat jasmani dan rohani
  2. tidak mengidap epilepsi
  3. tidak memiliki riwayat penyakit jantung
  4. berat badan 20 kg sampai 85 kg
  5. bagi yang berusia kurang dari 18 tahun, wajib mendapat izin orang tua

Karena paralayang termasuk olah raga ekstrim, jika ingin terbang solo tentu harus memiliki lisensi atau tersertifikasi. Jika belum memiliki lisensi, pengunjung tetap bisa melakukan tandem flight yang didampingi pilot tersertifikasi. Kabarnya, untuk bisa memiliki lisensi kita bisa mendaftar di sini dengan biaya sebesar Rp 7.500.000,-. Kalau sudah mahir dan terlatih, baru bisa terbang solo.

Saya dan keluarga harus puas melihat-lihat pemandangan saja karena takut ketinggian. Melihat mereka yang sedang menyiapkan dan memakai perlengkapan penerbangan saja sudah sangat mengasyikkan. Belum lagi melihat proses melakukan ancang-ancang. Mereka berlari di landasan dengan menyeret paralayang dengan berat yang katanya hampir 15 kg, lalu berjuang agar bisa terkembang dan ... terbang!

Ada yang langsung berhasil terbang. Ada pula yang harus mencoba beberapa kali dengan bantuan tim instruktur. Saat sudah berhasil terbang, tak sedikit yang menjerit-jerit dari atas sana. Mungkin saking excited-nya, atau senang, atau takut, atau ... entahlah, saya tak merasakan sendiri. Alih-alih melihat paralayang, saya sudah bahagia melihat emak dan bapak yang sehat wal afiyat mendampingi kami. Melihat mereka masih bisa tersenyum hingga hari ini saja rasa senangnya sudah membuat saya terbang!

melihat senyum beliau berdua rasanya hati saya sudah terbang

sehat mendampingi anak cucu berlibur

Setelah mengambil beberapa foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Oh ya, selain paralayang, di sini ada pula flying fox dari atas bukit menuju ke bawah dekat area parkir. Pemandunya pun sudah tersertifikasi dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang tak perlu diragukan lagi. Sensasinya tak jauh beda dengan terbang paralayang juga kan?

Kalian adakah yang pernah mencoba sendiri terbang dengan paralayang? Bagaimana rasanya, boleh lah berbagi sedikit di kolom komentar ya.***

tak berani mendekat landasan terbang paralayang, cukup puas selfi dari jauh

dak besi ini sebenarnya berada di atas pohon-pohon besar

terbang ala kami

Blog about fashion, beauty, and culture

4 comments:

  1. kayaknya ini tempat yang biasa dipakai kejuaraan paralayang internasional bukan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.
      Selain di Bogor, ada juga yang di Sumedang.

      Delete
  2. DAri kalimat pembuka lagu Elang dah ketahuan nih angkatan berapa hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ssstt...
      Pura-pura tau aja itu lagu siapa, belum lahir saya padahal. Hehe...

      Delete