06 Januari 2020

Upacara Adat Jawa Temu / Panggih Pinanganten

Tags

TEMU / PANGGIH


Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, dua orang mempelai melaksanakan upacara panggih pinanganten. Panggih pinanganten didampingi kedua orang tua masing-masing pengantin serta para pinisepuh. Pelaksanaannya yaitu setelah melaksanakan akad nikah.

Umumnya, adat yang berkembang di pedesaan, para pengantin melaksanakan upacara Panggih ini sesaat sebelum dimulainya resepsi pernikahan.

adat jawa panggih
pengantin putri membasuh telapak kaki pengantin kakung

 

Alat-alat untuk Upacara Panggih


Sebelum kita melaksanakan upacara panggih, terlebih dahulu kita menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk upacara panggih pinanganten.

Yaitu:
  1. Gantalan : terdiri dari daun sirih yang di dalamnya telah diisi dengan pinang (jambe muda), dan diikat dengan lawe wenang. Gantalan ini dibuat sebanyak dua buah. Satu diperuntukkan pengantin putri, satu lagi diperuntukkan pengantin kakung. Cara menggulung gantalan daun sirih pun tak sembarangan. Caranya adalah dengan menggulung sesuai urat/serat daun agar bertemu yang disebut "suruh temu rose", artinya ros (urat)-nya daun bertemu kanan dan kiri.
  2. Bokor besar : yaitu wadah terbuat dari kuningan yang berisi air dan bunga setaman / bunga telon (mawar, melati, kenanga).
  3. Telur ayam dan baki : telur ayam kampung ini diletakkan di atas baki terbuat dari kuningan yang dialasi kain putih dan bunga.
  4. Irus : yaitu alat untuk mengambil air bunga dalam bokor.
  5. Sindur : yaitu kain yang digunakan untuk menyelimuti kedua pengantin menuju pelaminan.
Bokor, baki berisi telur ayam kampung, beserta irus diletakkan di pintu tengah tempat akan dilaksanakannya upacara panggih pinanganten.

 

perlengkapan temu panggih
alat-alat upacara panggih

 

 

Pelaksanaan Panggih


Berikut ini adalah urutan pelaksanaan upacara panggih
  1. Rombongan pengantin kakung datang membawa sanggan berupa 'gedang ayu suruh ayu' dengan maksud 'sedyo rahayu'.
  2. Sanggan ini diterima oleh ibu pengantin putri dan disimpan. Setelah itu diadakan acara serah terima oleh kedua keluarga keluarga pengantin.
  3. Setelah acara serah terima sanggan, pengantin putri berjalan menuju pintu tengah tempat upacara panggih akan dilaksanakan dengan diapit oleh kedua orang tua dan diiringi pini sepuh.
  4. Pengantin kakung juga menuju pintu tengah dan diapit kedua keluarga dan diiiringi para pini sepuh. (Sekarang ini, upacara panggih dilaksanakan di atas panggung untuk kemudahan pengambilan dokumentasi)
  5. Kedua pengantin saling melempar gantalan yang disebut balang-balangan suruh. Hal ini memiliki makna agar saling bertemu rasa dalam hati kedua mempelai.
  6. Pengantin putri menyalami dan mencium tangan pengantin kakung.
  7. Juru rias / dukun manten mengambil sedikit air setaman dan diusapkan pada tengkuk dan ubun-ubun kedua mempelai.
  8. Pengantin putri duduk bersimpuh di depan pengantin kakung. Pengantin kakung menginjak telor ayam dalam baki hingga pecah dengan kaki kanan, dan dipegang oleh pengantin putri.
  9. Pengantin putri membasuh kaki pengantin kakung dengan air setaman dalam bokor.
  10. Pengantin putri mengusap telapak kaki kanan pengantin kakung.
  11. Kedua mempelai berjalan beriringan dengan jari kelingking saling bertautan dengan posisi pengantin kakung di sebelah kanan dan pengantin putri di sebelah kiri .
  12. Singepan sindur, yaitu ibu pengantin putri menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur sementara bapak pengantin putri memegang kedua ujung sindur di depan kedua mempelai. Hal ini mengandung arti bapak dan ibu mempersatukan kedua insan yang belum saling mengenal dan mengantarkannya menuju kehidupan rumah tangga.
Demikian rangkaian upacara adat Jawa Temu / Panggih pinanganten. Setelah dilaksanakan panggih ini, selanjutnya diteruskan dengan acara Sungkeman dan Kacar Kucur.***

membasuh kaki acara panggih
pengantin kakung menginjak telur ayam di atas baki hingga pecah

sinduran
singepan sindur

Blog tentang kecantikan, make up, fesyen dan mode, dan budaya

54 komentar:

  1. wah, saya baru tahu upacara yang seperti ini, termasuk yang nginjak telornya sampai pecah, bermanfaat nih infonya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khusus untuk pernikahan adat jawa saja sih ini, Kak :)

      Hapus
  2. Wah, jadi ingat dulu saat pernikahan. Prosesinya memang seperti itu kak.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau orang Jawa memang iya mas, ada acara Panggih atau Temu Manten.
      Auto nostalgia, rupanya :)

      Hapus
  3. Jadi inget waktu aku nikah dulu, pakai adat jawa gini juga. Jadi berasa nostalgia ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan filosofi dan doa yang terkandung di dalamnya meresap juga dalam sendi kehidupan rumah tangga kita ya mbak.

      (((Sendi kehidupan)))

      Hapus
  4. Hahahaha mbak Lasmi jadi inget proses nikahan ku dl. Aku nikah pake adat Jawa krn ibu ku berasal dr suku Jawa sedangkan bapak dan suami ku org Betawi. Krn aku juga ga paham2 bgt ttg adat Jawa ketika suami tanya, aku jawab ajh "udah ikutin ajh". Nah benerkan sekarang jd punya kenang-kenangan nikah di pakein adat Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, makin kaya budaya jika menikah dengan suku lain.
      Berarti adat Betawi tetep dipakai nggak mbak? Kan seru ya pakai palang pintu segala. Hehe

      Hapus
  5. Saya tuh selalu seneng lihat upacara adat begini. Kayak penuh haru suasananya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khidmat ya mbak.
      Saya saja pasti selalu merinding.

      Ratusan kali membimbing acara panggih dan temu manten, ratusan kali pula merasakan sensasi yang sama: keagungan dan sakralnya doa-doa yang melingkupi dua buah hati yang disatukan Tuhan dan alam semesta, serta dua keluarga besar yang meleburkan segenap restu bagi rumah tangga kedua mempelai.

      Rahayu rahayu

      Hapus
  6. Saya dari sulawesi merasa mendapatkan informasi dengan membaca artikel mbak. Indonesia memang kaya akan budaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak.
      Jika bukan kita yang melestarikan budaya dan kearifan lokal, siapa lagi :)

      Hapus
  7. Sering lihat upacara seperti ini di televisi tapi belum pernah menyaksikan secara langsung, sangat menarik ❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lihat di streaming pernikahan mbak Kahiyang Ayu jangan-jangan :>

      Hapus
  8. Kapan saya bisa melepaskan kejombloan ini
    Biar kaki saya dibasuh, wah tampak romantis dan berkesan kayaknya
    Saya sering melihat prosesi seperti ini

    BalasHapus
  9. Throwback ke acara nikahan 7tahun lalu.
    Kami menikah dengan adat Jawa meski suami Padang, sempat keluarga suami minta adat Minang dan diminta pakai sunting. untung ga jadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klien saya pernah ada yang menggunakan rangkaian upacara adat Jawa, lalu pada sesi foto keluarga menggunakan adat Minang karna suaminya dari Padang.

      Ya, dia pake suntiang juga. Saya harus belajar lagi tentang adat Minang khusus untuk klien satu itu. Baju adat berikut aksesorisnya pun didatangkan dari penyedia baju adat dari Jakarta karena di tempat saya (bahkan teman2 perias satu kabupaten saya hubungi) tidak ada yang punya.

      Hapus
  10. Baru tahu nih tentang upacara adat ini. Ribet juga ya dalam pelaksanaannya, ya iyalah..namanya juga upacara. Tapi ya hal hal seperti ini memang patut dilestarikan. Agar anak cucu kelak gak asing sendiri dengan adat dan budaya setempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Getul. Jika bukan kita yang mlestarikan siapa lagi. Giliran diambil pihak asing karena mereka peduli dan belajar, malah kita marah-marah hehe

      Hapus
  11. Istriku wong jowo, jadi waktu resepsi dulu adalah adat2 jawanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akulturasi budaya ya mas jika menikah beda suku :)

      Hapus
  12. Setiap gerakan ada artinya ya?
    Upacara adat kan mengandung banyak filosofi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.
      Semua mengandung simbol, filosofi, doa-doa dan harapan.

      Hapus
  13. Waktu ngunduh mantu resepsi di keluarga suami, kami pake adat jawa begini nih. Tapi ya karena Jawanya jawa medan, nggak medok banget adat jawanya.
    Kebetulan aku dan suami terlahir dari dua suku. dia Batak jawa, sedang aku Melayu -minang. Dan keinginanku memakai semua baju adat kami :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus banget akulturasi budaya seperti ini. Jika terus dilestarikan tidak akan hilang.

      Hapus
  14. Teh Lasmi, nuhun pisan loh untuk artikelnya. Menambah wawasanku ttg adat perkawinan Suku Jawa, nih. Keren banget!

    Indonesia tuh beneran kaya raya deh,ya adat istiadatnya, alamnya, ah, I love my country!

    Ntar kalo ada waktu lowong, mau balik ke blog ini ah, mau nambah wawasan ttg adat istiadat dlm perkawinan yg dibahas secara apik oleh Teh Lasmi. 🙏🙏💞💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Al.
      Btw, saya asli Jawa mbak.
      Jadi panggilan teteh kurang tepat sebetulnya. Hehe...

      Hapus
  15. Kalau di sini, di Panggih itu artinya ketemu. Hem bisa jadi emang diambil dari kata itu karena prosesi ini emang sedang mempertemukan dua belah pihak calon manten ya

    BalasHapus
  16. Banyak filosofinya loh ya kan mba dari semua prosesi ini, termasuk harapan agar kedua pengantin siap mengarungi bahtera rumah tangga yang gak selamanya mulus terus.

    BalasHapus
  17. Sekarang di kampung2 suka di skip injak telornya, nggak tau kenapa.
    Cuma yang pasti ya saling melempar kembang melati gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah?
      Kalau di kampung saya masih lengkap, sih.
      Oh ya, fyi, itu melempar gantalan yang terbuat dari daun suruh dan pinang yang diikat.

      Kalau melati, biasanya adat Sunda ya, kalau ngga salah.

      Jadi pas pengantin putra datang, disambut dengan taburan melati, setelah dikalungkan rangkaian bunga melati pula oleh ibu calon mempelai putri, dan diberi segelas air putih.
      Maaf jika keliru. Untuk upacara adat Sunda saya belum begitu mendalami.

      Hapus
  18. Paling seneng liat acara pernikahan berbagai adat. termasuk adat jawa gini, banyak hal yang baru dan saya seneng liatnya kayak adat temu panggih ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Senang bisa berbagi pengetahuan meski lewat tulisan. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  19. Duh jadi inget jaman nikah dulu, aku melewati prosesi ini juga...kennagan yang indah dan ya semua prosesi ini sarat makna dan petuah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.
      Kalau anniversary saya suka buka2 album fotonya :)

      Hapus
  20. Tradisi seperti ini memang kelihatannya ribet. Tapi sebenarnya memiliki makna yang dalam. Makanya, Indonesia itu kaya banget, kan? Upacara pernikahan aja tradisinya ada banyak sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Yuk mari kita lestarikan budaya nusantara.

      Hapus
  21. Kalau pernikahan Jawa masih kental banget adatnya ya. Tapi yah pastinya setiap daerah punya adat pernikahan masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua suku masih memegang adatnya.
      Hanya saja sekarang ini ada kecenderungan kaum muda atau generasi milenial yang tidak ingin menggunakan upacara adat dalam pernikahan karena dianggap ribet.

      Padahal jika kita tahu filosofinya, maknanya sangat dalam.

      Tak kenal maka tak sayang, kan. Hehe

      Hapus
    2. Hehe benar juga sih Mbak. Termasuk saya juga waktu nikah dulu nggak pake upacara adat, bukan karena merasa ribet sih tapi karena keluarga suami yang nolak karena nggak sesuai pemahaman katanya hehe

      Hapus
    3. Yang penting doanya ya mbak, bagi rumah tangga mempelai agar ke keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

      Hapus
  22. Mbak..jadi buka kenangan jaman mantenan kwkw
    Aku asli Kediri suamiku Madiun. Jadi nikah tahun 2002 komplit adat Jawanya, karena Mertuaku memang masih kuat pegang adatnya - padahal Ortuku lebih praktis dan aku berdua suami malah pengin sederhana. Tapi ada hikmahnya meski jadi habis-habisan di dana tapi bisa nguri-uri budaya Jawa khususnya untuk acara pengantin.

    BalasHapus
  23. waw aku ya pengen sih ada upacara adat saat resepsi
    pengennya sekaligus melestarikan budaya
    tapi aku emoh repot-repot eeee, hahaha

    BalasHapus
  24. Beda banget dengan adat di Buton, saya dulu menikah, justru kaki saya yang dicuci sama nenek-nenek, sungguh saya tidak sopan banget ya hahaha.

    Sebenarnya bagus ya, secara filosofinya, bahwa seorang istri wajib menghormati suaminya.
    Makanya kakinya saja dicuci.

    Cuman saya agak penasaran sama kaum anti patriarki menilai hal itu :D

    BalasHapus
  25. Pakemnya emang gini ya mbak?
    Seingat saya para keponakan yang menikah dengan adat Jawa komplit ngga sampai harus menautkan jari
    Apa mungkin disesuaikan dengan permintaan pengantin?

    BalasHapus
  26. Wahhh ini pengetahuan sekali. Beberapa kali lihat upacara adat trmu panggih dalam pernikahan tapi brlum tau maknanya apa. Nice artikel 👍

    BalasHapus
  27. Pernah saya handle pernikahan jawa yang lengkap gini nih, seneng liatnya. Adat Jawa tuh lebih banyak dan bervariasi yah.

    BalasHapus
  28. Di Medan sendiri, beberapa sepupu dari garis ibu masih ada upacara temu Panggih mba.

    Ibuku Jawa. Meski gak punya kampung di Jawa sana, beberapa keluarganya masih ada yang pake adat ini.

    Kalo di keluarga kami sendiri, jarang menikah pake adat. Meski ayah Melayu tapi beliau lebih terbuka dan gak mewajibkan adat dalam pernikahan .Yang penting tetap sesuai syariah aja hehe

    BalasHapus
  29. Saat masih kecil saya senang sekali jika menghadiri upacara pernikahan saudara jauh atau tetangga saya yang orang Jawa. Mereka adatnya seperti ini, sungguh runut dan unik. Saya senang sekali menyaksikan dan mengikuti prosesi demi prosesinya.

    BalasHapus
  30. Aku selalu suka menghadiri acara adat suku manapun. Kalo diundang, aku pastikan gak datang telat biar bisa lihat prosesi dr awal.

    Hmm tp ntar kalau menikah aku pgn yg sederhana aja sih, nasional aja, jd gak ush pakai adat2an. Kr suka lihatnya, jadi males ribetnya wkwkwk

    BalasHapus
  31. Jamanku kecil di Lampung juga ada kegiatan seperti ini pas ada yang nikah. Gak tau deh apakah sekarang masih begini atau tidak

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.