Teknik Potong Dress Rapi Ala Barber Shop

Pernah nggak, Sist, beli dress atau gamis yang kepanjangan lalu dipermak ke tukang permak tapi hasilnya tak bisa rapi seperti semula?

Atau mungkin dress sudah dipotong, tapi tetap terasa tak nyaman dan tetap kepanjangan?

Di Rumah Tsabita, hampir tiap hari ada saja pelanggan datang untuk permak dress dan gamis ready to wear. Kebanyakan untuk potong bagian bawah akibat kepanjangan. Sebagian besar para pelanggan ini membeli dress atau gamisnya secara online. Memang salah satu kekurangan toko online (online shop) bagi pembeli ialah adanya kemungkinan salah ukuran, salah warna, atau ketidaksesuaian dengan picture. Saat itulah mereka berbondong-bondong mencari tukang permak.

Memang, jahitan massal yang dikerjakan dalam partai besar seperti konveksi yang memproduksi baju-baju yang dipasarkan secara online, biasanya tak serapi jahit pribadi maupun butik seperti di Rumah Tsabita. Bisa dibilang, jahitan asal jadi. Hasilnya, terkadang panjang sebelah, berkerut, jahitan loncat dan berlubang, dll. Tentu tidak semuanya seperti itu. Banyak pula penjahit konveksi yang memperhatikan kualitas jahitannya. Biasanya upah jahit menjadi lebih mahal dan hanya mengerjakan model dan pesanan tertentu yang membandrol harga lebih tinggi di pasaran.

Nah, kali ini, saya bagikan trik dan teknik sederhana cara memotong dress ala barber shop agar hasilnya rapi dan pas sesuai ukuran panjang dress. Teknik ini saya pelajari secara otodidak karena tak diajarkan saat kursus. Asisten yang membantu di toko juga saya ajarkan trik ini agar siapapun yang datang ke Rumah Tsabita bisa mendapat pelayanan dengan standar kualitas yang sama meski dikerjakan oleh orang yang berbeda.

Alat yang digunakan adalah:

  1. Meteran
  2. Gunting bahan
  3. Hanger yang berbahu tegap (tidak turun)
  4. Jarum pentul

Cara memotong:

  1. Gantung dress atau gamis yang hendak dipotong menggunakan hanger, gantung agak tinggi.
  2. Ukur dengan meteran dengan cara terbalik sesuai panjang yang diinginkan, misal 128cm
  3. Sematkan meteran dengan jarum pentul.
  4. Beri tanda bagian yang hendak dipotong sesuai ukuran. Jangan lupa tambahkan 1 sampai 3 cm untuk jahit lipat atau kelim atau necci (sesuai selera).
  5. Potong dari arah kanan bawah hingga lurus dan rapi. Periksa beberapa kali hingga benar-benar sesuai ukuran pada meteran.
  6. Jika potongan bawah sudah rapi, tinggal dijahit kelim kecil atau neci, sesuai selera.
  7. Hasilnya dijamin rapi dan tidak panjang pendek.

    dengan menggantungnya pada hanger,
    terlihat jelas bagian bawah tidak rata

    ukur dari atas dengan posisi meteran terbalik,
    paskan dengan ukuran yang diinginkan

    jangan lupa bagian bawah ditambahkan 1 sampai 3 cm
    untuk lipatan jahitan

    potong lurus dengan kondisi masih digantung
     dengan hanger

    potongan rata dan rapi, tinggal dilipat, dikelim, ataupun dinecci

    Perhatikan:


    Hindari memotong dress dengan meletakannya di lantai dan mengurangi sama rata diukur dari bawah. Hal ini, bisa terjadi jika bagian dress dari semula tidak rata, akan tetap tidak rata dan panjangnya tak sama meski sudah dipotong melingkar.

    Sssttt... sebenarnya ini rahasia lho. Rumah Tsabita laris manis gara-gara hasil permakan selalu rapi. Pelanggan yang puas, rela membayar berapapun ongkos permakan. Coba saja buktikan!

    Nah, itu dia trik dan teknik sederhana potong dress dan gamis ala barber shop. Mudah kan? Kalian juga bisa mencoba sendiri di rumah. Cara ini abadi sepanjang masa dan tak ada kata kedaluwarsa.***

    Viral! Pernikahan Santuy Seiring Sejalan: Ada Kera Saktinya

    Semua yang unik memang selalu menarik perhatian. Setuju, nggak? Karena pada dasarnya manusia memang menyukai kejutan. Hal yang nggak biasa, nyeleneh, atau bahkan aneh, langsung menyedot perhatian publik dan menjadi viral. Apalagi di zaman sekarang, setiap orang bisa dengan mudah membagikan informasi lewat media sosial.

    Baru-baru ini ada yang mencuri perhatian saya. Yaitu pernikahan Faisal dan Anggi, yang mendadak ramai di Twitter setelah akun @seterahdeh membagikan foto pernikahan mereka. Pasalnya, sepasang pengantin ini unik dan ... antimeanstream, kira-kira seperti itu. Teman-temannya bilang, ini pernikahan tersantuy yang pernah mereka datangi.

    Jika orang lain hanya melihatnya sekilas dan tersenyum simpul melihat keanehan mereka, lain dengan saya yang justru menyimpan foto-foto itu. Hehe.... Bukan apa-apa, sebagai orang yang bergerak di bidang wedding organizer, fenomena kemunculan tema-tema unik memang selalu menarik buat saya. Sekalian cari referensi, yekan.

    viral gara-gara kera sakti dan Suzzana

    Nah, apa yang unik dari pernikahan Faisal dan Anggi?
    Mari kita bahas satu persatu.

    1. Engangement: LEGO


    Belum apa-apa, tema dekorasi pertunangan  Faisal-Anggi ini sejak awal sudah unik bin aneh. Pasangan yang sepakat mengusung judul 'Seiring-Sejalan" untuk acara besar mereka ini, memilih lego sebagai tema.

    Lego? Iya, lego. Mulai dari tempat cincin pertunangan, dekorasi dan background photo booth-pun bertemakan game dan lego. Unik banget kan?


    cincin pertunangan, tempatnya juga unik

     



    2. Prewedding: BOBOIBOY dan BOO


    When Boboiboy meets Boo

    Lain pertunangan, lain pula foto prewedding. Masih mengambil tema film, kali ini dipilihlah Boo (karakter tokoh utama dalam film Monster Inc.) dan Boboiboy (film kartun dari Malaysia) sebagai dua karakter yang digunakan untuk pengambilan foto. Faisal dan Anggi menggunakan kostum boneka kedua karakter tersebut. Iya, boneka badut itu lho... unch banget nggak sih? Dan kenapa pula mereka menggunakan karakter anak-anak? Mungkin semacam menolak tua? Hehe..., kek saya itu mah!

    3. Undangan

     

    undangannya begini

    Mau tau seperti apa undangannya? Undangannya berupa bungkusan berisi permen-permen, pin dan sticker Seiring-Sejalan, lengkap dengan attire guide yang juga nyeleneh. Antara lain: pakai kacamata (secara Anggi-Faisal itu berkacamata dua-duanya, kali, biar samaan), pakai sneakers, dan selfi dan diunggah di Instagram dengan mention akun Seiring Sejalan (promosi, tetep...).

    4. Wedding 

     

    Akadnya tetap pakai busana adat

    Nah nah nah, pas acara pernikahan tiba, makin kelihatan dong, betapa random-nya kedua mempelai ini. Kita catat bareng:

    1. Foto prewedding dipajang paling depan dan bersandingan dengan foto Suzzana.
    2. Saat acara ijab qabul, nampak seperti pengantin pada umumnya dengan mengenakan busana adat Sunda. Biar sakralnya dapet.
    3. Cincin pernikahannya warna hitam, Sist, dengan material black rhodium dan blue diamond. Tempat cincinnya lego yang dimasukkan ke dalam prisma box.
    4. Saat acara resepsi, alih-alih pakai heels atau sepatu formal, kedua pengantin justru mengenakan sepatu sneakers anak-anak couple-an dari Nike yang digambar sendiri warna warni menggunakan spidol sharpie.
    5. Lihat baju pengantin perempuannya, nggak ada kelihatan seperti ratu sehari!
    6. Apalagi baju pengantin laki-laki, tak jauh beda dengan MC meski tetap pakai dasi.
    7. Dan ada nametag dengan tulisan digital berjalan macam jam mushola.
    8. Lagu band-nya Kera Sakti dan Meteor Garden dong.
    9. Minum air putihnya ambil sendiri dari galon dispenser.
    10. Ada nomor telepon layanan keluhan khusus parkir.
    11. Flashmob-nya mulai dari Black Pink, lagu India, AKB48
    12. Ada doorprise-nya berupa sepuluh buah buku TTS. Seterah pengantinnya deh, nikahan mereka juga.

    minum ambil sendiri

     

    5. Souvenir


    Se-nyeleneh-nyelenehnya mereka, ternyata pasangan Seiring-Sejalan ini peduli lingkungan juga lho. Buktinya, souvenir bagi undangan yang datang berupa sedotan stainless yang bisa mengurangi pemakaian sedotan plastik untuk bumi bebas sampah di masa depan. Dalem banget kan pesannya.

    souvenir

    Adakah yang mau juga konsep pernikahan seperti mereka? Siapa tau bisa viral juga. Hehe.


    Tips Liburan Berkesan Di Villa Puncak Bogor

    Satu kata tentang Puncak Bogor: dingiiiinnn. Bahkan bagi saya yang terbiasa dengan udara kampung di lembah perbukitan dan terkenal dingin saja harus mengakui bahwa udara di Puncak Bogor memang dingin sekali. Akhirnya saya bisa merasakan juga menginap di villa di Puncak Bogor bersama keluarga besar.

    Dulu saat tinggal di Bandung, saya beberapa kali melewati Puncak Cipanas Bogor jika ingin main ke rumah abang tertua saya di Jakarta. Bis Prima Jasa yang saya tumpangi kadang lewat jalur Puncak. Saya bisa menikmati kebun teh yang menghampar luas sejauh mata memandang dari kaca jendela. Juga pemandangan alam pegunungan dihiasi bangunan villa yang bertebaran di lereng sepanjang kanan dan kiri jalan. Saat itu saya bertanya dalam hati: "kapan ya, saya bisa menginap di salah satu villa itu?" Lalu kujawab sendiri: "someday".

    villa ini cocok untuk seluruh keluarga dari anak-anak hingga orang tua

    Mungkin Tuhan mendengar dialog hati saya waktu itu. Semacam semesta mendukung, saya berkesempatan menginap (sekaligus jalan-jalan di beberapa tempat sepanjang perjalanan berangkat dan pulang) di komplek villa Coolibah akhir tahun lalu.

    Liburan yang singkat dan padat. Anak-anak juga sangat menikmati liburannya. Sampai sekarang mereka terus menanyakan kapan kami akan menginap lagi di puncak? Saya bilang: kapan-kapan. Hehe....

    Saya dan anak-anak jarang bepergian. Diajak pergi ke kota membeli barang dagangan saja senangnya bukan main. Apalagi diajak liburan ke tempat yang sudah lama kami inginkan.

    Villa yang kami sewa ini cukup luas. Cukup untuk lima keluarga. Liburan kali ini semacam liburan keroyokan. Lima keluarga yang masih saudara sepupuan, janjian menyewa satu rumah villa bersama untuk liburan akhir tahun sekaligus merayakan tahun baru. Ada keluarga emak (include saya dan anak-anak tentunya), keluarga Paman Suid, keluarga Paman Beki, keluarga Paman Rudin, dan keluarga Paman Mukhtar.

    Masing-masing keluarga menempati satu kamar. Saya dan keluarga besar Emak menempati kamar paling belakang karena datang paling akhir. Tentu saja, kami mampir-mampir dulu lho. Sebelum sampai di villa ini, kami mampir ke Cimory Riverside dan Bukit Gantole Paralayang.

    Tapi tak apalah. Meski tak bisa memilih kamar, toh semua kamar menyenangkan. Bahkan pintu kamar kami menghadap langsung menuju taman belakang dan kolam renang. Semacam paviliun yang tidak terhubung dengan bangunan utama.

    kolam renang anak-anak

    kolam renang dewasa

    Hari belum lagi sore saat kami tiba. Tapi udara sudah terasa dingin. Herannya, anak-anak girang melihat kolam renang pribadi yang bisa digunakan kapanpun mereka mau. Meski airnya sangat dingin, mereka tetap saja berenang dan bergembira. Maklum, kami hanya bisa berenang jika sesekali saja ke tempat wisata yang ada kolam renangnya. Padahal di sini airnya super dingin sekali. Tidak seperti di wisata air panas guci waktu itu. Ternyata mau air hangat maupun air dingin, kolam renang tetap menjadi magnet yang menarik bagi anak-anak.

    Sore itu saat anak-anak berenang, kami para orang tua berkumpul saling menanyakan kabar. Maklum kelima keluarga ini hanya bisa bertemu jika lebaran saja. Keluarga perantau semua. Maka bisa bertemu di hari selain lebaran itu jadi terasa sesuatu banget.

    Para orang tua duduk di rerumputan melepas lelah selepas perjalanan dari rumah tinggal masing-masing.

    taman belakang yang luas

    Saya?
    Saya yang mageran ini hanya leyeh-leyeh di kamar setelah puas melihat-lihat sekeliling villa.

    Uniknya, begitu tahu ada orang datang di villa ini, beberapa penjual keliling bergantian masuk ke area halaman menjajakan dagangan. Mulai dari sate ayam, gorengan, rujak serut, sampai penjual pernak-pernik aksesoris dan juga penjual kaos dan sweater rajut.

    Kami yang berjumlah total 25 orang kelaparan dan kedinginan waktu itu, menyerbu setiap ada penjual datang. Padahal makanan yang dibawa pun banyak.

    Saya membawa aneka kue dan roti yang kami beli dalam perjalanan. Ada pula yang membawa snack ringan dan jajanan kering Bibi-bibi membawa lauk matang siap santap dari rumah. Sementara nasi pun sudah matang setelah salah satu bibi yang datang lebih dulu memasaknya dengan peralatan yang sudah tersedia.

    Oh, ya. Di villa ini sudah tersedia perlengkapan memasak, seperti rice cooker, wajan, ulekan, panci, pisau, dan juga perlengkapan makan (piring, gelas, sendok). Rupanya para bibi sudah berencana memasak selama satu hari satu malam di villa ini. Sedangkan saya yang lebih suka membeli makanan matang, rencananya ingin membeli saja di warung sekitar.

    Malam menjelang. Kami berkumpul di taman belakang. Para ibu merebus kacang tanah dan menyiapkan kopi dan minuman. Para bapak menyiapkan arang untuk bakar-bakar jagung. Anak-anak bermain bergerombol di ayunan dekat kolam renang. Sesekali mereka berlari berkejaran. Para remaja nonton Youtube sepuasnya karena tersedia jaringan wifi dengan password yang tertulis besar-besar di ruang tengah dan bisa diakses siapa saja. Sayang jangkauannnya tak sampai ke kamar saya, hehe.

    bakar jagung, pesta kacang rebus, ubi goreng plus kopi

    Malam itu benar-benar dihabiskan untuk mengobrol ke sana kemari, ngalor ngidul. Terasa keakraban dan kekeluargaan meski jarang sekali bertemu. Meski ingin ikut nimbrung sampai malam, saya keburu mengantuk dan akhirnya tertidur.

    Kamar yang saya tempati paling luas karena memang anggota keluarga yang ikut paling banyak. Ada banyak extra bed yang bisa dibawa ke kamar berikut bantal, sprei, dan selimut. Semua kebagian kasur dan bantal masing-masing satu. Jadi, tak perlu khawatir tak kebagian tempat. Penjaga villa di sini benar-benar berusaha memberikan kenyamanan dan juga pelayanan terbaiknya.

    Malam-malam saya terbangun saat semua orang sudah terlelap. Rupanya, para Bapak tidak ada di kamar kami. Ke mana mereka tidur? Saya hendak mencari ke rumah induk, tapi baru saja membuka pintu sedikit, udara dingin menggigit langsung menyergap. Embun tampak menetes dari pintu dan jendela kaca. Saya urung keluar kamar dan kembali tidur sambil menggigil kedinginan.

    Saat pagi datang, Mas Jo masuk ke kamar untuk mengambil air wudhu dan salat subuh. Saya tanya dong, di mana para bapak tidur semalam. Kata Mas Jo, mereka tidur di lantai atas.

    Mas Jo mengajak ke lantai atas selesai salat. Ternyata ada ruangan luas di lantai atas sini. Sekeliling ruangan terbuat dari kaca transparan. Sofa panjang melingkari ruangan dan ada meja bar di sebuah sudut. Di atas plafon, terpasang lampu disko warna warni. Saya membayangkan, jika yang menyewa villa ini serombongan anak-anak muda, mungkin tadi malam kami berajojing ria dengan mengundang DJ dan memutar musik breakbeat, haha! Karena yang menyewa keluarga besar, jadilah tempat ini difungsikan sebagai mushola dan tempat tidur para bapak. Sepertinya villa ini juga cocok untuk acara meeting dan gathering perusahaan atau instansi.

    menanti fajar, pemandangan dari kamar paviliun saya

    Matahari mulai menyingsing. Saya, mba Sri dan anak-anak pergi berjalan-jalan keluar villa. Ternyata di komplek ini memang isinya villa yang disewakan semua. Tidak terlihat ada rumah penduduk atau sekedar warung tempat kami bisa membeli makanan untuk sarapan. Kami sudah berjalan keluar jauh dari komplek, tapi tetap saja tidak menemukan ada tanda-tanda warung ataupun toko. Kami pun kembali ke villa dengan perut semakin lapar.

    Sampai di villa, para ibu berinisiatif membeli sayuran ke pasar tradisional terdekat dengan menggunakan ojek karena tak ada yang bisa menyetir mobil sementara para bapak masih melanjutkan tidur dan tak bisa mengantar. 

    Penjaga villa memanggil beberapa ojek pangkalan. Kami dibawa menuju salah satu pasar yang berada agak jauh dari komplek. Saya bahkan lupa nama daerahnya.

    Sampai di pasar, kami membeli banyak sekali sayuran, buah, dan ikan. Dan ternyata harganya... wow... mahal cyiin. Lebih mahal dari supermarket! Mungkin karena mereka tahu kami pendatang dan tak bisa menawar. Dari bahasa saja sudah berbeda. Mereka berbahasa Sunda halus sekali dan kami tak bisa menjawab. Tawar menawar harga jadi tidak sinkron, haha! Semacam roaming nasional, begitulah. Daripada ribet, kami bayar saja sudah sesuai harga dari penjual sayur lalu pulang dengan ojek yang sama. Bayar ojeknya 30.000 per orang pulang pergi.

    ruang tengah luas, sekaligus menyatu dengan ruang makan dan dapur

    Jelang siang, giliran para bapak yang nyemplung ke kolam renang. Semua orang dibuat diterpingkal-pingkal melihat enam orang berbadan subur itu menceburkan diri ke dalam kolam bertelanjang dada. Mirip lomba. Lomba siapa paling maju perutnya, haha! Para bapak yang dulu sewaktu kecil mandi di sungai bersama, kini bernostalgia bisa mandi bersama di kolam yang sama. Unch banget, kan?

    Hari semakin siang. Habis sudah waktu kami berlibur di villa ini. Kami pun bersiap-siap untuk pulang. Sembari bersiap, beberapa kuda yang disewakan oleh penduduk sekitar, berdatangan dan menawarkan kudanya. Anak-anak antusias bergantian naik didampingi si pemilik. Pemilik kuda akan menuntun kudanya mengelilingi komplek villa coolibah ini dan kembali ke villa setelah berputar satu kali. Semua tampak senang dan puas berlibur dan menginap di villa ini. Belum puas naik kuda di sini, anak-anak minta naik kuda lagi di The Ranch saat perjalanan pulang.

    lupa tak ambil foto bagian depan villa, dapat juga dari mbah G

    Oh ya, saya punya tips untuk menginap dan berlibur sekeluarga dan beramai-ramai di villa:
    1. Bawalah makanan matang untuk disantap selama di villa. Jika tidak, pesan makanan lewat go food saja. Serius, tak ada warung makan maupun restoran jika tidak keluar komplek villa.
    2. Jika berencana memasak, bawa bahan makanan mentah dari rumah, lengkap dengan beras dan bumbu-bumbu.
    3. Bawa jaket tebal, sweater, dan baju ganti lebih dari satu.
    4. Bawa payung juga ya, Sist. Sempat gerimis di sini meski tak lama. Tapi perlu payung juga jika tak berniat hujan-hujanan saat harus bolak balik mengambil keperluan yang masih berada di dalam mobil.
    5. Bawa mainan agar anak-anak tidak bosan dan mati gaya. Bola, raket, sepatu roda, sepeda kalau perlu.
    6. Bawa snack dan cemilan. Laper terus gaess.
    naik kuda dulu sebelum pulang, sewanya 35 ribu

    Kira-kira segitu saja tips dari saya untuk menginap tanpa kelaparan dan kehausan di villa Puncak Bogor.

    Komplek Villa Coolibah beralamat di Jl. Raya Cipanas-Cianjur, Cimacan, Kecamatan Cipanas, Bogor, Jawa Barat.

    Harga sewa satu hari satu malam Rp 4.000.000,-

    Rincian fasilitas:
    • Jumlah kamar tidur : 5 kamar
    • Extra bed sesuai permintaan termasuk bantal dan selimut.
    • Kamar mandi masing-masing dalam kamar, ada shower air hangat, bath tub, kloset duduk, dan wastafel di semua kamar mandi
    • Ruang tamu
    • Ruang tengah luas
    • Ruang makan
    • Dapur lengkap dengan peralatan memasak dan alat makan
    • Ruang meeting atau bisa difungsikan untuk pesta di lantai atas
    • Kolam renang
    • Taman dan kebun belakang luas
    • Parkir hingga empat mobil
    • Ada tempat khusus bakar-bakar dan barbaque 
    • Ayunan, tempat jemuran
    Oh ya, penjaga villa tinggal di rumah kecil yang terpisah tepat di samping tempat parkir. Jika memerlukan apapun yang membutuhkan bantuan dari penjaga, kita bisa langsung ke rumahnya dan meminta tolong. Bapak penjaga yang merupakan penduduk asli tempat ini, tak akan segan memberikan bantuan.

    Ada yang pernah menginap di villa ini juga? Atau ada rencana menginap di sini akhit tahun ini? Selamat berlibur ya!

    Belajar Jahit Otodidak: Cara Membuat Pita Sederhana

    aplikasi pita pada kebaya

    Aplikasi pita ini mulai hype lagi ketika tren lengan terompet merebak. Karena fashion memang selalu kembali berputar dari masa ke masa, tak mengherankan jika banyak aplikasi yang dulu sudah 'tidak musim' suatu saat akan muncul lagi dan banyak diminati.

    Membuat pita seperti ini biasanya tak diajarkan saat kursus menjahit ya, Sist. Namun, kita bisa belajar sendiri secara otodidak untuk membuatnya. Caranya pun cukup mudah. 

    Hiasan pita sederhana ini banyak diletakkan tepat di atas lengan terompet. Tapi banyak pula yang diaplikasikan di beberapa bagian lain sesuai keinginan. Bahkan, pita ini dalam versi ukuran yang lebih kecil juga dipakai sebagai hiasan bross dagu. Banyak pula lho yang membuat pita-pita kecil seperti ini untuk jepitan rambut. Untuk hiasan pita pada kebaya pun oke kan?

    Nah, kalian yang sedang belajar menjahit otodidak, tak rugi belajar cara membuat pita sederhana ini.
    Berikut ini langkah-langkahnya:

    1. siapkan kain ukuran 8 x 12 cm
     (atau ukuran lebih kecil / lebih besar dengan perbandingan 2:3)

    2. lipat bagian memanjangnya, jahit, sisakan bagian tengah sedikit untuk lubang

    3. jahit kanan dan kiri, dengan posisi lubang digeser ke tengah

    4. bagian kanan dan kiri sudah dijahit, lubang ada di tengah

    5. balik kain melalui lubang, agar jahitan tidak terlihat

    6.a. tampak atas, jelujur dengan jarum tangan tepat bagian tengahnya

    6.b. tampak bawah setelah dijelujur

    7. tarik benang jelujur

    8. ikat dengan sisa benang

    9. aplikasikan pada bagian pakaian yang diinginkan

    Nah, mudah bukan cara membuat pita sederhana ini? Bagi yang belajar secara otodidak pun pasti bisa mempraktekannya. 

    Semoga bermanfaat!***

    Terbang Pun Ada Syaratnya Di Bukit Gantole Paralayang Bogor

    "Aku ingin terbang tinggi, seperti elang
    melewati siang malam, menembus awan..."

    Ada yang familiar dengan penggalan lirik lagu Dewa ini kah? Jika iya, berarti kita satu angkatan. Haha!

    Yup! Angkatan 90-an yang selalu punya kebanggaan tersendiri dengan segala kekayaan pengalaman masa kecil yang indah dan penuh kenangan.

    Sebenarnya saya tak akan membahas umur atau generasi 90-an. Saya hanya ingin bercerita tentang terbang.
    Yess! Terbang.
    Di tempat ini, kamu bisa terbang seperti elang! Jadi lirik lagu Dewa ini bukan omong kosong, kan? Meski terbang di sini, harus menggunakan paralayang.

    Masih dalam rangkain perjalanan saya dan keluarga menuju villa di Puncak, Bogor, kami mampir ke Bukit Gantole, Puncak Bogor. Lokasi Bukit Gantole ini tak jauh dari Masjid At-Ta'awun sekitar 500 meter.
    Alamat Bukit Gantole terletak di Jalan Raya Puncak Bogor km. 87, Gunung Mas, Bukit Gantole. Kami mampir dalam perjalanan berangkat setelah sebelumnya mampir pula di Cimory Riverside.

    Jalan menuju Bukit Gantole ini sendiri mudah diakses. Dari arah Jakarta melalui tol Jagorawi, keluar dari exit tol Ciawi yang langsung menuju puncak. Saat masuk, kami dikenakan tiket masuk Rp 13.000,- per orang yang sudah termasuk asuransi.

    Dari pintu masuk, kami masih harus meneruskan perjalanan naik ke atas bukit. Karena kami datang saat liburan akhir tahun, tempat parkir yang sebenarnya cukup luas, tidak mampu menampung semua kendaraan pengunjung.  Kami harus parkir di tepi jalan, agak jauh dari lokasi paralayang.
    Di dekat mobil kami terparkir, terhampar pemandangan kebun teh seluas mata memandang ke bawah bukit. Di bagian atas kebun teh, banyak pepohonan yang disulap sedemikian rupa menjadi tempat berfoto. Spot-spot cantik dengan aneka macam bentuk semacam gasibu atau sejenisnya, banyak diminati muda mudi yang hendak menuju Bukit Gantole maupun yang sudah hendak pulang. Ornamen-ornamen seperti payung warna-warni, juga banyak ditambahkan untuk menambah cantik tempat ini.

    Kami tidak mampir ke tempat ini, karena tujuan kami memang naik ke atas bukit paralayang. Lokasi puncak bukit paralayang sendiri tidak bisa dilewati kendaraan bermotor dan memang harus berjalan kaki. Tapi tenang, jika haus ataupun butuh asupan kalori, tak perlu khawatir. Banyak penjual makanan dan minuman di sepanjang jalan menuju puncak bukit. 

    Selain penjual makanan dan minuman, banyak pula penjual pakaian, kaos, jaket, syal, topi, serta pernak-pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Mas Jo yang kedinginan pun membeli penutup kepala dan telinga di lapak penjual topi.

    terbang dengan paralayang

    Sesampainya di puncak Bukit Gantole, udara memang terasa lebih dingin. Udara berhembus segar. Matahari siang yang terik tak kami rasakan karena hembusan angin yang sejuk.

    Di tempat ini, banyak pengunjung yang tertarik mencoba terbang dengan paralayang atau paragliding. Tarif untuk terbang paralayang di Bukit Gantole ini sebesar Rp 350.000,- bagi wisatawan lokal, dan Rp 400.000,- bagi wisatawan asing. Tarif tersebut sudah termasuk perlengkapan penerbangan sekaligus juga transportasi dari lokasi pendaratan (landing) menuju kembali ke lokasi penerbangan.

    Tak perlu khawatir dengan keselamatan saat terbang. Di sini, pengunjung akan didampingi oleh instruktur yang terlatih dan berpengalaman dalam kegiatan paralayang.

    Sebelum mulai terbang, Tim Paralayang Puncak Bogor yang berada di bawah Federasi Aero Sport Indonesia (ASI) ini akan mengukur kecepatan angin menggunakan alat ukur kecepatan yang canggih.  Paralayang bisa dilakukan jika tidak hujan dengan kecepatan angin maksimal 20 km/jam.

    Nah, syarat-syarat untuk bisa terbang adalah:
    1. sehat jasmani dan rohani
    2. tidak mengidap epilepsi
    3. tidak memiliki riwayat penyakit jantung
    4. berat badan 20 kg sampai 85 kg
    5. bagi yang berusia kurang dari 18 tahun, wajib mendapat izin orang tua

    Karena paralayang termasuk olah raga ekstrim, jika ingin terbang solo tentu harus memiliki lisensi atau tersertifikasi. Jika belum memiliki lisensi, pengunjung tetap bisa melakukan tandem flight yang didampingi pilot tersertifikasi. Kabarnya, untuk bisa memiliki lisensi kita bisa mendaftar di sini dengan biaya sebesar Rp 7.500.000,-. Kalau sudah mahir dan terlatih, baru bisa terbang solo.

    Saya dan keluarga harus puas melihat-lihat pemandangan saja karena takut ketinggian. Melihat mereka yang sedang menyiapkan dan memakai perlengkapan penerbangan saja sudah sangat mengasyikkan. Belum lagi melihat proses melakukan ancang-ancang. Mereka berlari di landasan dengan menyeret paralayang dengan berat yang katanya hampir 15 kg, lalu berjuang agar bisa terkembang dan ... terbang!

    Ada yang langsung berhasil terbang. Ada pula yang harus mencoba beberapa kali dengan bantuan tim instruktur. Saat sudah berhasil terbang, tak sedikit yang menjerit-jerit dari atas sana. Mungkin saking excited-nya, atau senang, atau takut, atau ... entahlah, saya tak merasakan sendiri. Alih-alih melihat paralayang, saya sudah bahagia melihat emak dan bapak yang sehat wal afiyat mendampingi kami. Melihat mereka masih bisa tersenyum hingga hari ini saja rasa senangnya sudah membuat saya terbang!

    melihat senyum beliau berdua rasanya hati saya sudah terbang

    sehat mendampingi anak cucu berlibur

    Setelah mengambil beberapa foto, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tujuan. Oh ya, selain paralayang, di sini ada pula flying fox dari atas bukit menuju ke bawah dekat area parkir. Pemandunya pun sudah tersertifikasi dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang tak perlu diragukan lagi. Sensasinya tak jauh beda dengan terbang paralayang juga kan?

    Kalian adakah yang pernah mencoba sendiri terbang dengan paralayang? Bagaimana rasanya, boleh lah berbagi sedikit di kolom komentar ya.***

    tak berani mendekat landasan terbang paralayang, cukup puas selfi dari jauh

    dak besi ini sebenarnya berada di atas pohon-pohon besar

    terbang ala kami

    Mencicipi Es Krim Lezat Di Cimory Riverside

    Sebelum ke tempat ini, saya hanya tahu jika Cimory itu merek susu sapi yogurt. Anak-anak sangat menyukai rasanya yang segar. Tak jarang jika pergi ke minimarket mereka membelinya dan diminum saat masih dingin segar, segera setelah diambil dari dalam lemari pendingin (showcase).
    Nah, akhir tahun lalu, saat berangkat menuju ke villa di Puncak Bogor untuk menginap dan liburan tahun baru bersama keluarga besar, kami menyempatkan mampir ke Cimory Riverside.

    Cimory Riverside terletak di Jln. Raya Puncak Km 76, Ds Cipayung, Mega Mendung Bogor 16750. Jarak dari The Ranch Bandung hanya sekitar 500m. Jika kami mampir ke The Ranch saat pulang, kami justru mampir di Cimory Riverside ini dalam perjalanan berangkatnya.

    Cimory Riverside ini buka pukul 07.00 s.d. 22.00 WIB. Di sini, ada tiga wahana seru yang ditawarkan yaitu Museum Lulu, Monster Aquarium, dan Cimory Forest Walk. Masing-masing wahana ini harus membeli tiket dulu, ya Sist.

    1. Museum Lulu


    Untuk masuk ke museum ini kita harus membeli tiket sebesar Rp 30.000,- untuk Senin - Jumat (weekdays) dan Rp 40.000,- untuk Sabtu dan Minggu (weekend). Konon, Museum Lulu ini museum 3D terbesar di Puncak. kami tak masuk ke dalam dan hanya melihat-lihat saja dari luar.

     

    2. Monster Aquarium

     

    Tempat ini berisi aneka binatang laut dalam aquarium raksasa. Untuk masuk ke dalam kita harus membeli tiket Rp 15.000,-. Karena anak-anak tampak tak terlalu antusias, kami pun tidak masuk ke dalam.

     

    3. Cimory Forest Walk

     

    Nah, untuk bisa lebih dekat di area sepanjang riverside ini, kita harus membayar tiket sebesar Rp 15.000,-. Tak hanya bisa berjalan-jalan melihat pemandangan alam yang indah, di sini ada juga peternakan sapi dan kebun binatang mini. Kabarnya, sekarang ada juga taman lampion yang baru di bangun. Saat kami ke sana, taman lampion ini belum ada.

    maskotnya lucu menggemaskan

    Sebenarnya ingin sekali kami makan siang di restoran yang terletak di tepi sungai itu dan mencicipi aneka menu yang menggoda selera. Semacam sensasi baru, karena bangunan resto memang dibuat agak tinggi. Dari tempat itu kita bisa melihat view Cimory Riverside yang indah dan asri alami. Saya membayangkan sungai Watu Sewidak di kampung saya jika dibuat seperti ini, pasti indah dan juga banyak diminati pengunjung. Ingin terus berlama-lama di sini. Sayangnya, kami dalam perjalanan berangkat menuju puncak. Jadi, kami tak bisa menikmati tempat ini lebih lama. Kami hanya bermain sebentar di playground sambil makan es krim serta bergantian pergi ke kamar kecil sebelum melanjutkan perjalanan. Tak lupa foto dulu di depan botol susu.

    sama tinggi dengan botol susu

    generasi susu

    Saya sempat masuk ke Factory Outlet (FO). Banyak benda lucu yang bisa dijadikan oleh-oleh. Lain kali jika main ke sini lagi, harus benar-benar dipertimbangkan waktunya. Kami memang lumayan terburu-buru agar tak terjebak sistem buka tutup jalan naik ke puncak.

    Meski hanya mampir dan belum puas meng-eksplore semua wahana yang ada di Cimory Riverside ini, anak-anak tampak cukup puas. Mereka bilang es krimnya enak. Mudah-mudahan kami bisa ke sana lagi jika ada waktu dan rejeki lebih.***

    bermain di play ground, gratis, es krimnya yang bayar

    Mbah Kakung yang sabar menemani cucu-cucunya bermain

    Yang Unik Di The Ranch Bandung Mega Mendung Bogor

    Warga Jabodetabek yang jenuh dengan rutinitas kerja sehari-hari, biasanya gemar mencari tempat refreshing bernuansa alam pedesaan. Mereka perlu berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan kota yang tak ada habisnya.

    Hal inilah yang membuat The Ranch Bandung yang sudah dibuka sekitar dua tahun lalu di Bogor, tepatnya di Jl. Raya Puncak Km 77,5 Kopo Cisarua Bogor Jawa Barat ini selalu kebanjiran pengunjung terutama saat weekend. Letak tempat ini dari arah Jakarta sekitar 500 m sebelum Cimory Riverside.

    Saya dan keluarga menyempatkan diri mampir dalam perjalanan pulang dari acara keluarga di Villa Puncak Bogor. Sekali jalan, beberapa tempat disinggahi. Asas mumpung lewat, begitulah kira-kira.

    The Ranch Bandung di Puncak Bogor ini buka setiap hari dari jam 08.00 - 21.00 WIB pada hari-hari kerja (weekdays) dan buka dari jam 08.00 - 21.00 WIB setiap Sabtu dan Minggu (weekend).

    Sebaiknya datang lebih pagi ya Sist, jika kalian berencana datang ke sana. Sebab, meski perjalanan Jakarta-Bogor hanya tiga jam, tapi ada sistem buka tutup jalan naik dan turun dari Puncak yang lama penutupannya bisa sampai empat jam! Tak mau kan, kita terjebak di jalan yang ditutup? Maju tak bisa, mundur apalagi. Sudah mirip terjebak kenangan bersama mantan dong, lol.

    The Ranch Bandung ini tempatnya cukup luas, asri, sejuk, segar, meski saat siang hari tetap saja panas karena belum banyak pohon besar yang bisa dijadikan tempat berteduh. Area parkirnya menurut saya perlu diperluas lagi karena pada musim liburan dan weekend tempat ini sangat penuh pengunjung.

    Biaya parkir mobil di The Ranch ini cuma Rp 10.000,- dan tiket masuk sebesar Rp 20.000,- / orang di atas usia 2 tahun. Tiketnya bisa ditukar dengan susu sapi. Susu sapi ada tersedia dalam tiga rasa: rasa stroberi, cokelat, dan plain/original.

    karena bikin instastory itu butuh seni

    Masuk ke dalam,  kita akan disuguhi pemandangan cantik alam pegunungan, kebun teh, bunga-bunga dan spot-spot cantik yang instagramable.

    Ada Jembatan Dongeng, yang tidak tahu bagaimana ceritanya kenapa dinamakan seperti itu, tapi ini memang unik sih. Bagus, terbuat dari kayu yang terbentang di ketinggian. Dari jembatan ini terlihat jelas hampir sebagian besar view di dalam The Ranch. Terlihat indah bak di negeri dongeng. Mungkin inilah kenapa dinamakan jembatan dongeng.

    Selain itu ada peternakan domba lengkap dengan Rumah Kakek ala-ala petani Western negeri kulon sono. Unik juga menurut saya. Jalan-jalan ke sini bikin saya auto keinget rumah dan peternakannya Nenek Bebek, kakaknya Gober Bebek yang kaya raya tapi pelit itu loh. Ada kotak pos kuno, tungku penghangat ruangan, kursi malas, berbagai properti petani yang... pokoknya serba berbau tradisional versi Western gitu deh. Kalau di Indonesia sih, rumah pedesaannya jelas tidak seperti ini.

    Pengunjung juga bisa memberi makan domba-domba dengan membayar Rp 30.000,-. Kita bisa berfoto selfi ala petani dengan meminjam beberapa topi petani yang tersedia. Anak-anak kota datang ke sini sih demen banget kelihatannya. Saya sama anak-anak mah B saja, kan kita mah petani juga, haha! Meski begitu tetap senang juga berfoto dengan domba. Domba-domba ini dibiarkan bebas di kandang terbuka. Jadi, pengunjung bisa 'membaur' dan bersinggungan langsung dengan domba-domba ini.

    Selain domba, ada juga sapi perah. Anak-anak bisa mendapat pengalaman memerah susu sapi jika menginginkannya. Sayang sapi-sapi dan anaknya kurus-kurus, jadi kurang menggemaskan.

    Oh ya Sist, untuk menikmati berbagai macam wahana yang tersedia, kita memang harus membayar lagi. Tarifnya bermacam-macam. Antara lain:

    1. Memberi makan kelinci, bayar Rp 20.000,-. Kita akan diberi seikat sawi atau wortel untuk diberikan kepada anak yang hendak memberi makan.

    Uniknya, kelinci-kelinci ini menempati kandang yang dibuat mirip seperti habitat aslinya. Ada terowongan-terowongan kecil dalam tanah tempat kelinci-kelinci itu tidur. Anak-anak kecil senang menggoda kelinci yang muncul tiba-tiba dari lubang-lubang terowongan.

    2. Panahan anak-anak Rp 25.000,-
    Panahan dewasa Rp 35.000,-

    3. Naik kuda
    Nah, ini yang menjadi favorit di The Ranch ini. Pengunjung bisa menaiki kuda dengan membayar Rp 30.000,- satu orang. Anak-anak yang lebih kecil menaiki kuda poni.

    Kita juga bisa lho sekalian menyewa kostum rompi, sepatu, dan topi koboi biar lebih berasa wah gimana gitu. Unik pokoknya. Pastinya akan jadi kenangan yang manis bagi anak-anak mencoba pengalaman baru menaiki kuda keliling area The Ranch didampingi petugas. Anak-anak saya pun tak mau ketinggalan untuk menaiki kuda meski tak mau memakai rompi, sepatu dan topi.

    Puas jalan-jalan, kita bisa ngadem di dekat food corner sekalian mencicipi makanan yang ada di sana. Ada es krim, sosis bakar, dan juga restoran serta tempat ngopi juga. Saya dan anak-anak cuma membeli es krim dan sosis bakar. Rasa sosisnya biasa saja meski harga lumayan mahal. Sepertinya banyak menu yang disediakan di restoran, tapi kami tidak membeli di sana karena asas pengiritan.

    Yang sebenarnya, saya selalu membawa bekal makanan sendiri jika bepergian. Namun, karena tak dibolehkan untuk membawa makanan ke dalam, jadi kami sengaja tidak memesan makanan di restoran dan makan bekal yang dibawa di dalam mobil saat perjalanan pulang.

    Oh ya, sebelum pulang saya sempat masuk ke dalam Factory Outlet (FO) yang terpisah dari bangunan utama dekat tempat paskir dan jalan masuk. Banyak aneka souvenir yang dijual di FO. Ada kaos-kaos, topi, juga berbagai macam pernak-pernik aksesoris lucu dan unik. Bagi yang membawa uang lebih, tak perlu bingung mencari oleh-oleh.

    Itu dia, pengalaman mampir di The Ranch Bandung Mega Mendung Bogor. Ada yang pernah ke sana juga? Mungkin ada wahana lain yang saya belum tahu karena kami buru-buru pulang ke Jakarta. The Ranch ini tempatnya sangat luas untuk dijelajahi semua dengan jalan kaki. Karena saya ke sana berssama Bapak dan Emak saya yang lumayan sepuh, jadi tidak bisa mengeksplore semuanya karena khawatir beliau berdua kelelahan. Share di kolom komentar dong pengalaman kalian pergi ke The Ranch ini atau tempat wisata alam lain yang sejenis. Barangkali bisa saya kunjungi pula di lain kesempatan.***

    tampak depan
    anak gembala

    jembatan dongeng tampak dari bawah

    kuda kecil dan mamaknya, paling disukai si Adik

    anak main sendiri, emak sibuk selfi
    patung kepala kuda jadi ikon The Ranch
    naik kuda keliling The Ranch
    Rumah Kakek dari jauh
    selalu paling rempong dengan barang bawaan
    tiga generasi
    mamak ratu harus duduk di atas tahta dong