6 Manfaat Memelihara Kucing Bagi Anak-anak


Memelihara kucing, ternyata banyak manfaatnya. Meski tak bisa diandalkan untuk berburu tikus-tikus di rumah seperti dulu, kucing tetap punya banyak kelebihan.

Kami memelihara kucing kampung di rumah. Awalnya karena kasihan melihat seekor kucing kecil dan induknya yang nampak hamil besar, luntang lantung mencari makan dari rumah ke rumah. Kucing kecil ini kemudian kami namai Arrioggy, atau lebih sering dipanggil Oggy saja. 

Mungkin karena bawaan orok si dede kucing dalam perut, selama hamil, Mama Kucing sering mengabaikan Oggy. Mama Oggy lebih sering jalan-jalan entah ke mana. Makanpun sering terlewat. Akhirnya, Oggy yang masih sangat kecil lebih banyak bermain dengan kami.

Bulan lalu Mama Oggy melahirkan empat bayi kucing. Keempatnya memiliki warna bulu yang berbeda. Mungkin karena Mama kucing belang tiga: kuning, hitam, dan putih, satu lagi warna bapa abu-abu. Atau mungkin diambil dari warna bulu bapa kucing yang berbeda-beda pula, entahlah.

Semenjak Oggy dan keluarganya tinggal bersama kami, saya merasakan banyak manfaatnya bagi anak-anak. Di bawah ini saya tuliskan enam manfaat memelihara kucing bagi anak-anak yang sudah saya rasakan.

1. Menumbuhkan kasih sayang


Bukan hanya manusia, kucing pun makhluk ciptaan Tuhan yang membutuhkan kasih dan sayang. Melihat muka Oggy yang imut, tubuhnya yang mungil dan kurus ketika baru dipelihara, anak-anak spontan berkata: "Lucu kucingnya, Mih. Kasihan, kita pelihara ya?" Dan melihat kesungguhan mereka merawat Oggy, saya bisa melihat kasih sayang mereka pada sesama makhluk Tuhan tumbuh secara alami.
Memelihara kucing cocok untuk anak perempuan dan laki-laki. Bagi anak perempuan, rasa keibuannya muncul dengan memelihara kucing. Bagi anak laki-laki, rasa kasih sayangnya pun tumbuh tanpa membuatnya menjadi 'feminin'.

2. Merangsang empati


Empati tidak tumbuh secara instan. Zaman sekarang melihat postingan di media sosial sangat terlihat empati orang-orang kepada sesama makin berkurang. Banyak orang mencibir, mengolok, merisak, menyiksa orang lain baik verbal maupun nonverbal. Tidak ada rasa kemanusiaan dan empati. Tidak berpikir panjang atau berusaha memahami bagaimana jika seandainya musibah yang sama menimpa diri ini.

Nah, dengan memelihara kucing, terlihat sekali empati anak-anak menjadi terangsang. Anak-anak selalu berusaha membuat Oggy dan keluarga senang dan betah tinggal di rumah.
Anak-anak sering merasa kasihan jika melihat hewan disiksa oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengajarkan arti penting empati. "Nak, kucing juga makhluk Tuhan. Ia juga bisa sakit. Perbuatan orang itu menyiksa kucing tidak benar. Kita tidak boleh melakukan hal seperti itu pada semua makhluk Tuhan, baik manusia maupun hewan-hewan."

3. Melatih problem solving


Jujur, saya tidak suka ada hewan berkeliaran di dalam rumah saat malam hari. Maka, anak-anak memfasilitasi tempat tinggal yang hangat untuk Oggy dan keluarga di teras. Mereka bilang: "Oggy kamarnya di sini ya, di sini hangat kok kalau malam. Ummi ngga akan marah kalau kamu ingin jalan-jalan, tapi di luar saja jalan-jalannya."

Hmm... bisa juga anak-anak ini memecahkan masalah. Mereka memecahkan masalah saya yang tidak suka kucing berada di dalam rumah saat malam, juga masalah tempat tinggal bagi keluarga kucing itu untuk tinggal.

Dulu, Oggy suka pipis dan pup sembarangan. Saya katakan pada anak-anak: "Oggy harus dibiasakan buang air di tempat khusus, baru boleh dipelihara." Anak-anak pun mulai melatih Ogyy buang air di tempatnya.

4. Memberi rasa tanggung jawab


Saya punya banyak sekali pekerjaan dan tak selalu bisa memperhatikan semua kebutuhan hidup Oggy dan keluarga kucing ini. Jadi, tanggung jawab memenuhi semua kebutuhan hewan peliharaan dibebankan pada anak-anak. Mereka melakukannya dengan senang hati.

Oh ya, anak saya berumur 13 tahun dan 9 tahun. Mereka bahu membahu mengurus Oggy sekeluarga. Mulai dari soal makanan, kebersihan tempat tinggal, kebersihan badan, sampai kebutuhan batin. Oggy sekeluarga kerap diajak berjalan-jalan atau sekedar bermain dalam rumah. Selesai bermain, semua perangkat dan mainan yang digunakan langsung dibereskan kembali. Tentu, mereka tidak ingin disalahkan Ummi-nya jika rumah menjadi kotor dan berantakan gara-gara kucing, haha!
Rasa tanggung jawab anak-anak juga dibuktikan dengan menyisihkan uang saku untuk membeli makanan kucing. Saya tidak menganggarkan pos uang tambahan untuk kebutuhan makan Oggy dan keluarga. Anak-anak rela berhemat agar bisa membeli makanan untuk kucing.

5. Menghadirkan kebahagiaan tanpa gadget


Saya membatasi penggunaan gadget pada anak-anak. Satu hari jatah mereka hanya satu jam saja. Selebihnya, mereka mencari-cari jenis permainan lain.

Nah, karena kucing ini hewan yang sangat manis dan lucu, mudah dilatih dan merespon permainan. Anak-anak sangat senang bermain-main dan bersenang-senang dengan Oggy. Mereka tak bosan tinggal di dalam rumah sepanjang hari tanpa gadget. Ada saja permainan yang diciptakan dengan mainan dan benda-benda di sekitar untuk bermain bersama kucing.

6. Mengajarkan siklus hidup makhluk hidup


Oggy memang sudah menjadi bagian dan anggota keluarga kami. Akhir bulan lalu, nasib naas menimpa Oggy. Sebuah sepeda motor yang sedang melintas, tanpa sengaja melindas tepat di bagian rahang Oggy yang mungil. Tragisnya, kejadian ini terjadi di depan mata anak-anak saat hendak bersiap berangkat sekolah.

Kedua anak saya menangis sedih menyaksikan kucing kesayangannya menemui ajal pelan-pelan. Saya memeluk Oggy dengan ceceran darah yang terus menetes dari mulutnya, membuat saya pun tak kuasa menahan air mata.

Kami menguburkan Oggy di bawah pohon durian di kebun terdekat agar bisa mengunjunginya sewaktu-waktu. Untunglah Mama Oggy masih punya empat bayi yang bisa menjadi pelipur duka dan lara karena kehilangan Oggy. Hari ini umur bayi kucing menginjak satu setengah bulan. Bayi-bayi ini belum bisa melompati kardus tempat mereka tinggal. Mereka hanya tidur dan menyusu sepanjang hari. Begitulah makhluk hidup, lahir, besar, lalu mati.

Kematian Oggy, menjadi pelajaran. Saya sampaikan pada anak-anak bahwa setiap makhluk hidup itu akan mati. Tak peduli berapapun umurnya, jika Tuhan menakdirkan mati, maka ia akan mati. Hewan saja akan dicintai dan dikenang selama hidup dan kematiannya jika berbuat baik, apalagi manusia.

Saya katakan pula pada anak-anak, kita harus terus berbuat baik sebab kita tak pernah tahu berapa umur kita. Orang-orang besar akan dikenang jasa dan kebaikannya. Nama mereka lebih panjang umurnya dibanding dengan usia hidupnya.

Video ini berisi momen paling lucu anak-anak bermain bersama Oggy.


Nah, itulah enam manfaat memelihara kucing bagi anak-anak yang perlu kita tahu sebagai orang tua. Ada juga kah yang memelihara kucing di rumah? Atau tidak mau memelihara kucing karena alergi atau alasan lainnya? Saya tunggu share pengalamannya di kolom komentar ya.***

Coba Lipstiknya Anaz Siantar, Millenial Duolips LT Pro

Lipstik Millenial Duolips Anazsiantar Series dari LT Pro ini saya dapatkan sebagai cashback setelah mengikuti seminar dan workshop Arman Armano beberapa waktu lalu. Acara tersebut memang disponsori oleh LT Pro.

Awalnya saya tak begitu tertarik mencoba lipstik ini. Secara saya kurang cocok dengan lipstik matte sih sebenarnya. Kondisi bibir yang kering bakal makin parah dengan tekstur lipstik matte yang kering pula. Lipstik ini pun cuma saya simpan saja di beauty case alat tempur make up pengantin.

Nah, pagi ini saya penasaran dong, pengin buka kemasan lipstiknya. Lebih tepatnya sih, pengin tahu apa warnanya. Apa saya sudah punya atau adakah warna baru yang bisa saya koleksi, gitu deh. Rupanya saya mendapatkan seri no. 1.

Kita buka sama-sama ya. Taraaa!
Ini ternyataaa....
Wow... warnanya cucok meong!
Serius! Warna nude-nya maniiiis banget. Rose gold-nya juga cantik maksimal. Cinta banget sama warna-warna ini.

Mari kita bedah pelan-pelan, apa lipstik Duolips Millenial ini juga bisa bikin saya cantik maksimal?

Seperti namanya, Millenial Duolips ini memiliki dua jenis lipstik dalam satu kemasan yaitu matte dan glossy-glittery. Ada tiga pilihan warna keren yang mewakili unsur natural, elegant, dan juga glamour. Ada warna nude natural (no. 1) yang menjadi andalan, warna chocolate (no. 2), juga warna red wine (no. 3) yang terkesan formal dan mewah.

Khadijah Azzahra Pakai La Tulipe? Ini Tutorial Sebenarnya

Nah, LT Pro sendiri meluncurkan Millenial Duolips Anazsiantar Series ini sebagai representasi kecintaan Anaz Siantar akan coklat, juga personal brand Anaz yang natural glam. Kalian pasti sudah kenal dong, siapa Anaz Siantar? Itu loh, blogger cantik, selebgram, influencer, beauty and fashion enthusiast yang hobi jalan-jalan keliling kota seluruh di dunia.

Kira-kira kalau saya pakai lipstik ini bakalan auto cantik seperti Anaz tidak ya? Haha! Tak usah protes, angkatan kelahiran pertengahan delapan puluhan masih tergolong millenial juga kan?


INGREDIENT

Cyclopentasiloxane, Phenyl Trimethicone, Hydrogenated Polysobutene, Cyclohexasiloxane, Caprylyl Methicone, Candelila (Euphorbia cerifera) Wax, Aluminum Strach Octenylsuccinate, Astrocaryum Murumuru Seed Butter, Silica, Carnauba (Copernicia cerifera) Wax, Trimethylsiloxysilicate, Silica Borosilicate, Lauroyl Lysine, Purifield Water, Alumina, Fragrance, Tocopheryl Acetate, Propylparaben, Butylated Hydroxytoluene, Talc, Tin Oxide.
May contain: Cl 77891, Cl 77491, Cl 15850:2, Cl 77492, Cl 15850:1, Cl 77499, Cl 16035

PACKAGING

Lipstik ini dikemas dalam karton warna coklat muda dengan tulisan berwarna putih yang tampak kekinian. Lipstik ini memang menyasar kaum muda yang sedang banyak menggandrungi warna-warna natural. Tube isinya sendiri terbuat dari kaca bening berbentuk persegi panjang. Bagian kanan dan kirinya masing-masing berisi warna yang berbeda. Aplikator berupa stik terdapat di bagian tengah tube yang dapat dipakai bergantian dan juga sekaligus berfungsi sebagai tutup.

Kemasan ini cukup aman jika disimpan dalam posisi apapun asalkan sudah tertutup rapat sempurna. Bentuknya yang persegi bikin saya tak perlu khawatir jatuh menggelinding dari permukaan bidang miring. Namun, karena terbuat dari bahan kaca, pastinya tak boleh terkena benturan dengan benda keras.

Kesan saya, saya suka kemasannya. Meski dengan begitu isinya mungkin tak sebanyak lipstik pada umumnya. Berat 6 gram dibagi dua warna, kira-kira isinya banyak tidak tuh? Pas saya buka, ternyata isinya memang tak full. Bisa dilihat dari stik aplikator yang tidak tercelup seluruhnya dan hanya menjangkau sedikit saja lipstik di dalamnya.

HARGA

Saya sih tidak membayar saat mendapatkan lipstik Millenial Duolips ini, jadi sebelum membuat review ini saya tidak tahu harganya.
Saya browsing mencari tahu harga lipstik ini dan mendapati harganya Rp 110.000,-. Masih standar lah ya. Atau justru murah untuk produk two in one?
Biasanya untuk pembelian secara online kita bisa mendapat harga yang lebih rendah dengan beberapa diskon yang ditawarkan plus free ongkir dari beberapa toko online.

APLIKASI

Millenial Duolips ini memiliki tekstur yang lembut. Kekentalannya pas antara krim dan cair yang tepat. Saya tak sabar buat mencobanya.

Pertama-tama saya mencoba lipstik matte lebih dulu, karena penasaran apakah bibir saya akan bernasib sama seperti saat memakai lipstik matte lain. Untuk bibir kering, biasanya lipstik matte akan langsung menggumpal dan terasa keras setelah dipakai beberapa lama. Bahkan, makin lama akan makin keras, kering, dan kerutan pada bibir membuat kenampakan lipstik pecah-pecah. Saya pun sudah siap jika hal itu akan terjadi. 

Hasil setelah saya memakai lipstik Millenial Duolips ini terasa ringan sekali. Seperti tidak mengenakan lipstik. Tidak ada gumpalan maupun kenampakan lipstik yang pecah-pecah pada bibir. Ini membuktikan klaim lipstik Millenial Duolips ini yang juga mengandung vitamin E dan bahan soft focus effect yang dapat mengurangi kerutan bibir.

Wah, tak kecewa deh, saya mencobanya. Lipstik ini benar-benar matte dan langsung mengering lekat dengan kulit bibir. Hal ini membuat lipstik tidak menempel pada gelas saat minum. Benar-benar kering. Sayangnya, warna yang saya coba ini terlalu pucat untuk kulit wajah saya yang cenderung kuning agak gelap. Warna ini juga lebih muda dari warna bibir asli yang juga coklat gelap.  

Next time saya harus coba seri nomor 2 dan nomor 3 agar bisa di-mix dan match dengan warna ini. Terutama agar bisa menyesuaikan dengan warna pakaian yang dikenakan seperti Anaz Siantar dong.
(Hei, hallo... apa saya terdengar seperti Becky si Gila Belanja yang terobsesi ingin menjadi penata gaya artis dalam novel Sophie Kinsella?)

Percobaan kedua, saya menggunakan lipstik glossy-glittery. Warna ini setingkat lebih gelap dari warna lipstik yang matte. Saat dilihat ketika masih dalam kemasannya saja lipstik ini sudah mengilap lho. Saya sempat ragu. Meski hampir semua lipstik yang saya pakai adalah glossy, tapi kali ini kan ada glitter yang cukup mencolok dan (mungkin) akan membuat saya tak nyaman karena tidak terbiasa. Tapi, tak ada salahnya mencoba kan?

Ketika pertama kali memulas, ternyata anggapan saya langsung berubah. Ini sama sekali tidak mencolok. Kilaunya pas. Warnanya pun cantik di bibir. Terlihat lembab dan ranum. (Jeilahh... ranum, boo....) Lagi-lagi tekstur yang lembut memudahkan lipstik ini saat diratakan. Tidak ada lengket sama sekali. Namun, karena sifatnya basah, ada noda yang ditinggalkan pada gelas ketika saya minum. Over all saya suka. Warnanya yang mendekati rose gold juga termasuk warna terfavorit buat saya.

Kenampakkan pada bibir saat sebelum dan setelah memakai lipstik Millenial Duolips bisa dilihat pada gambar di bawah.

aplikasi pada bibir
RETOUCH

Seperti brand lain, lipstik ini akan tetap 'pergi' setelah kita makan besar terutama makanan berminyak. Makanya, saya selalu membawa lipstik dalam tas ke mana pun saya pergi. Fungsinya apalagi selain untuk retouch apabila diperlukan. 

Uniknya Millenial Duolips ini, meski ada bagian lipstik yang hilang setelah makan, saya masih bisa mengoleskan lipstik glossy yang masih tersisa pada bibir agar kembali merata. Bibir pun kembali tertutup lipstik glossy dengan sempurna. Ini bagus jika sewaktu-waktu terlupa tak membawa lipstik saat bepergian ya, bikin irit pula! Haha!

Kalau untuk yang matte-nya, sebelum retouch sisa lipstik harus dibersihkan dulu baru kemudian memulasknya lagi dari awal.

Keuntungan produk ini, ya, beli satu dapat dua. Semacam bonus. Kita tak perlu repot membawa beberapa lipstik dengan warna berbeda saat bepergian. Cukup bawa satu lipstik Millenial Duolips LT Pro ini, sudah bisa berganti warna sesuai acara.

Kekurangannya ya, itu tadi. Bisa jadi kita hanya menyukai satu warna dan tak cocok dengan warna satunya lagi. Atau ketika kita cenderung lebih banyak memakai satu warna. Maka warna itu mungkin cepat sekali habis, tapi warna satunya lagi justru belum terpakai sama sekali. Jika membeli lagi, hal itu akan kembali terulang. Salah satu warna akan menumpuk tak terpakai sementara warna lainnya cepat sekali habis karena isi yang sedikit.

My Darling, Eyeliner Mamaknya Tasya Farasya?

Overall saya suka produk ini. Ketidakcocokan warna nude lipstik matte-nya yang terlalu terang masih bisa diakali kok, dengan mixing beberapa warna agar mendapat warna yang diinginkan dan cocok dengan tone kulit wajah. Jadi untuk saya pribadi tak masalah.

Meski tak persis Anaz Siantar, untuk bergaya menyesuaikan warna lipstik dengan style fashion yang dipakai, saya lumayan oke lah, ehehe....

Bagaimana menurut kalian, membeli lipstik berisi dua warna dalam satu kemasan seperti ini menguntungkan atau justru merugikan? Kasih alasannya ya, Sist.

Menaklukkan Labirin Cinta Terlarang

 

"Seperti biasa, aku diam tak bicara
hanya mampu pandangi bibir tipismu yang menarik

Seperti biasa, aku tak mampu berjanji
hanya mampu katakan 'Aku cinta kau, saat ini'

Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah..."

Lirik ini sangat familiar di telinga saya karena sudah menjadi playlist wajib zaman perangkat komputer masih dekstop pentium satu yang hardisk-nya saja cuma 4GB. Dulu, hiburan satu-satunya selain game Soliter ya Winamp dengan playlist lagu-lagi Iwan Fals. Itupun tak banyak.

Sampai sekarang perangkat sudah Intel Core i5 640 GB HDD, lagu ini tetap ada dan saya putar sewaktu-waktu sebagai mood booster. Ya, namanya juga nge-fans, tak ada kata bosan didengarkan. Makin meleganda saja sosok penyanyinya.

Saya menyukai semua lirik lagu Iwan Fals. Menurut saya liriknya jujur, apa adanya. Meski menurut sebagian orang terlalu vulgar, tapi saya menyukainya. Tengok sebutannya pada orang yang dicintai: "perempuanku, betinaku", terdengar janggal tapi memang seperti itulah kaum laki-laki memandang perempuan. Setidaknya lirik-lirik lagu ini merepresantikan cara otak laki-laki bekerja.

Kadang saya iri dengan kaum adam. Hidup begitu sederhana di mata mereka. Praktis, tidak rumit seperti perempuan. Bagi laki-laki, hanya ada kata iya atau tidak. Sekarang atau tidak sama sekali. Lakukan saja, soal akibatnya bagaimana, pikir keri, pikirkan nanti saja, begitu kira-kira. 

Mungkin itulah mengapa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dibebankan pada laki-laki. Mereka lebih banyak memakai logika dan spontanitas. Dalam mengambil keputusan tak banyak ragu-ragu seperti perempuan. Begitu pula dalam memperlakukan cinta pada lawan jenis. Coba cerna lagu ini: "...ingin kucongkel keluar indah matamu, agar engkau tahu memang indah matamu..."
Ya ampun, seperti itulah laki-laki. Seperti itu pula cara mereka menyampaikan pujian dan menunjukkan sisi keromantisan.

Mengapa saya tiba-tiba membahas lagu Iwan Fals? Sebenarnya saya sedang teringat dengan seorang teman laki-laki, sebut saja Mas Bambang. Evenhow saya memikirkannya karena pernah sedikit 'bermain hati'. 

Oke, saya salah. Dan secara dewasa saya sudah berhasil menetralkan perasaan yang sempat timbul. Saya sudah berumah tangga, dia pun begitu. Selesai. Maka ketika saya berhasil menuliskannya secara terbuka seperti sekarang, artinya sudah tak ada lagi yang perlu disimpan atau menjadi ganjalan di antara kami. Hubungan selanjutnya murni hanya teman. Jika lebih dari teman pun, saya menganggapnya sebagai guru.

Jujur, saya sendiri rancu dengan sebutan teman. Semua yang saya kenal, saya sebut teman. Entah itu kenal secara nyata maupun hanya lewat dunia maya.

Sebagaimana teman pada umumnya, tak ada batasan untuk melempar canda. Bagi saya sendiri yang bekerja di dunia hiburan, mau tak mau tentu mengikuti gaya pergaulan sesama para penampil dan penghibur acara. Saling melempar bully-an candaan, saling menggoda, bahkan sering memberikan sebutan atau panggilan 'sayang' pada sesama rekan seprofesi tanpa khawatir baper atau tersinggung. Sebutan seperti Bojo Keloro, Selingkuhan Nomer Papat, Pacar Bayangan, kerap mewarnai canda tawa kami. Tentu saja semua itu dilakukan tanpa melebihi batas dan tetap menjaga harga diri masing-masing.

Kami, para pekerja seni ini sebagian besar berangkat dari pekerjaan sampingan. Paling banyak dari kami adalah guru, PNS, pegawai kecamatan, ada pula yang perangkat desa atau pekerjaan formal lain. Profesi pekerja seni 'ditelateni' sebagai hobi yang menghasilkan, menghibur diri dan orang lain yang dibayar, membuang jenuh tapi mendapat uang. Meski sebenarnya, realisasinya tak sesederhana itu. Tuntutan dan beban mental pekerja seni amat besar. Guyonan-guyonan ringan sangat efektif menurunkan ketegangan.

Agaknya kebiasaan ini sudah salah saya terapkan pada Mas Bambang. Guyonan yang semula iseng saya lemparkan, menjadi bumerang bagi diri sendiri. Saya mulai memikirkannya lebih banyak dari sebelumnya, menunggu-nunggu balasan chat darinya dengan hati penuh harap. Saya pun heran, mengapa bisa seperti itu. Dengan rekan seprofesi yang bisa memanggil Sayang saja saya tak ada perasaan apapun.

Setelah saya telaah (jeilahh...) dan saya pikirkan lebih dalam, mungkin hal ini karena kami tidak saling mengenal secara nyata. Tidak mengetahui baik dan buruk sifat masing-masing, hanya mengenal dan membayangkan yang baik-baik saja satu sama lain. Berbeda dengan teman dunia nyata, masing-masing kami saling mengenal suami atau istrinya, bahkan hingga keluarga besar. Maka semua candaan pun dianggap wajar-wajar saja.

Mengenal Mas Bambang, banyak membuka pemikiran saya tentang cara berpikir laki-laki. Atau cara dia berpikir, khususnya. Mirip Iwan Fals, menurut saya. Praktis dan spontan. Sangat berbeda dengan perempuan (saya) yang serba penuh pertimbangan.

Banyak kesempatan bagi saya untuk 'melepaskan diri' dari tekanan batin dan menjalin hubungan suka sama suka dengan Mas Bambang. Kami tidak khawatir kepergok karena pasangan tidak bermain media sosial, sebenarnya. Saya menyukainya dan dia menyukai saya, itu cukup bisa dijadikan alasan. Namun, ketika sampai pada satu titik itulah saya menyadari sesuatu yang lebih besar dan berharga. Yaitu saya sendiri. Saya akan mendapat perlakuan sesuai dengan perlakukan saya pada orang lain. Saya berharga jika bisa menghargai diri sendiri. Prinsip bahwa "perempuan baik untuk laki-laki baik, dan perempuan berkelakuan buruk untuk laki-laki yang buruk pula" harus saya pegang. Karma akan selalu ada dan saya tidak ingin suami melakukan hal yang sama dengan perempuan lain.

Lalu jika kami benar melakukan perselingkuhan, apakah ini salah Mas Bambang?

Tidak. Dia hanya menguji saya, seberapa kuat saya menahan godaan. Ia sangat menghargai saya. Saya sudah mengujinya. Buktinya, setelah memutuskan hubungan ini sebatas teman saja, beberapa chat saya yang berisi hal pribadi, tidak ia balas. Dari situlah saya yakin bahwa ia orang baik dan tulus. Hanya waktu dan tempat yang tidak tepat saja yang membuat hubungan kami menjadi salah di mata norma.

Sebelum merasakan sendiri, dulu saya sangat percaya diri. Yakin seratus persen, hati ini tak akan pernah mungkin bisa disinggahi rasa spesial lagi. Namun, tidak ada yang bisa menjamin kondisi hati. Rasa itu datang sekonyong-konyong tanpa disadari. Setidaknya saya tahu, rasa itupun bisa hilang juga, seperti dalam kutipan lirik lagu Iwan Fals di atas. "Aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti."

Ada alasan kuat mengapa saya perlu menuliskan hal ini. Banyak teman yang menyampaikan curahan hati pada saya. Ternyata, banyak sekali teman-teman perempuan yang terjebak hubungan semacam ini. Di zaman yang serba digital, online semudah sentuhan jari untuk berbagi informasi dan data diri, banyak kasus perempuan hilang yang bermula dari saling kenal di dunia maya.

Saya bukan orang baik. Saya juga memiliki sisi 'nakal' dan keingintahuan yang besar terhadap hal-hal 'kotor' yang belum pernah dirasakan. Tapi percayalah, saya sangat tahu kegelisahan, kegalauan, dan ketakutan menyembunyikan hubungan tak resmi semacam ini sangat membuat hati tidak nyaman.

Teman-teman ini ingin mengakhiri, tapi tidak siap. Mereka ingin berhenti, tapi tak tahu bagaimana caranya.

Setidaknya ini yang saya pelajari dari masalah ini.
  1. Jika rasa itu tetap muncul, terima saja semua rasa apapun dalam hati. Semua riak emosi dalam hati itu wajar. Rasa cinta, benci, sedih, senang, kecewa, perlu memiliki tempat dalam hati. Mereka butuh pengakuan. Tidak perlu memberontak, biarkan saja mengendap. Waktu akan mengobati semuanya pelan-pelan. Rasa itu akan hilang dengan sendirinya.
  2. Laki-laki memikirkan seks dan tampilan fisik lebih banyak daripada perempuan. Maka hindari bercanda dengan hal-hal berbau seks dan eksplorasi fisik agar tak terpancing ke arah pembicaraan yang lebih pribadi.
  3. Perempuan lebih pandai memendam rasa. Maka jika kita memiliki rasa, cukup dipendam saja, endapkan. Pikirkan baik dan buruk segala sesuatu.
  4. Penyesalan selalu datang terlambat. Maka kendalikan diri agar tak melewati batas jika tak ingin menyesal di kemudian hari.
  5. Ujian rumah tangga bisa datang darimana saja. Ada yang diuji dengan masalah keuangan, ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan anak-anak, ada pula ujian hati. Maka apapun ujiannya, jalani dengan lapang dada. Tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dan terus menjadi lebih baik.
  6. Berdoa dan memohon perlindungan pada Sang Maha Pembolak Balik Hati, agar mampu melewati ujian hati.
  7. Tidak ada manusia sempurna. Begitu pula pasangan kita, bahkan diri kita sendiri. Jika ada sesuatu yang tak bisa didapatkan dari pasangan, bukan berarti kita bisa mencarinya dari orang lain. Prinsipnya: kelemahannya bisa jadi kelebihanku, kekuatannya mungkin adalah kekuranganku.
  8. Sebisa mungkin kita menjaga komunikasi dengan pasangan agar tidak renggang.
  9. Dalam pernikahan, cinta dan kasih sayang memiliki porsi 50 %. Sisanya adalah komitmen. Maka apapun yang terjadi, tetap ingat dengan komitmen awal pernikahan.
  10. Prioritaskan mempertahankan rumah tangga dengan memperbaiki kekurangan dalam hubungan rumah tangga, bukan mencari pelipur lara di luar sana.
  11. Sepanjang tidak ada kekerasan dalam rumah tangga dan tidak terjebak hubungan toxic, semua masalah masih bisa diatasi.
  12. Jangan berputus asa atau berkecil hati. Cinta dari pasangan mungkin mengalami pasang surut. Namun, selama masih ada effort untuk saling bertahan, segala ujian dan godaan akan bisa dihadapi.

Sebelum menuliskan ini, saya sempat diingatkan oleh seorang teman, "jangan menyia-nyiakan orang yang memberikan perhatian dengan tulus. Bisa jadi hanya dari dialah kamu mendapatkan hal yang tak kamu dapatkan dari orang lain."

Saya setuju dengannya. Maka dengan tulisan ini saya ingin Mas Bambang tahu, ia sudah mengajarkan banyak pelajaran hidup. Rasa terima kasih ini sungguh besar dan tulus, melebihi rasa apapun yang sempat mewarnai pertemanan kami.

Ya, sekarang kami masih berteman. Teman yang saling mendukung, saling mendoakan, dan saling mengharapkan kebaikan satu sama lain. Meski sebelum bisa benar-benar lega seperti hari ini, butuh satu bulan penuh bagi saya untuk menangis dalam sepi.

Selalu ada pelajaran di balik setiap masa dan peristiwa.***

Menggali Rahasia Arman Armano, Mastah Cut Crease


Diversitybeauty Arman Armano Academy

Sudah lama saya mengidolakan sosok yang satu ini; Arman Armano. Ciri khas make up bold glam with cut crease-nya sudah lama mencuri perhatian. Banyak MUA yang mengikuti gaya make up ini.
Beberapa event seminar dan workshop Kak Arman sebelumnya sering saya lewatkan. Kadang karena tempatnya jauh, kadang karena tanggalnya bentrok dengan job, kadang karena bokek aja sih. Hehe.
Kali ini saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Tegal menjadi kota ke-9 dalam rangkaian tour and roadshow 17 kota seluruh Indonesia Arman Armano Academy yang mengusung tema deversitybeauty. Puncak acara akan diadakan di Jakarta dengan menghadirkan narasumber yang super duper keren seperti Bubah Alfian, Tasya Farasya, Olish Herawati, dan lain-lain.

Berikut ini jadwal seminar dan workshop make up Arman Armano Academy:
  • Banyuwangi 10 Juli 2019
  • Palembang 7 Agustus 2019
  • Samarinda 14 Agustus 2019
  • Manado 21 Agustus 2019
  • Bandung 28 Agustus 2019
  • Kediri 4 September 2019
  • Medan 11 September 2019
  • Cilegon 18 September 2019
  • Tegal 25 September 2019
  • Tarakan 2 Oktober 2019
  • Surabaya 9 Oktober 2019
  • Yogyakarta 23 Oktober 2019
  • Ambon 28 Oktober 2019
  • Makassar 31 Oktober 2019
  • Semarang 6 Nopember 2019
  • Lombok 13 Nopember 2019
  • Jakarta 27 Nopember 2019
Bertempat di hotel Bahari Inn Tegal, acara seminar dan workshop kali ini dimulai pukul 09.00 WIB dengan menghadirkan narasumber yang pertama yaitu Kak Adi Rustana. Kak Adi memberikan tutorial make up bold and glam with cut crease yang amazing banget untuk rias pengantin Sunda Siger. Banyak tips yang diberikan oleh Kak Adi yang bagus banget dan bisa diterapkan bagi peserta seminar yang kesemuanya merupakan MUA dan perias pengantin dari Tegal dan sekitarnya.

Memang, selain dari Tegal, peserta seminar yang berjumlah sekitar 250 peserta, datang dari Pemalang, Pekalongan, Batang, Brebes, Purwokerto, Slawi, dan kota-kota sekitar Tegal. Saya sendiri datang bersama rombongan dari Pemalang.

Tutorial make up sesi pertama bersama Kak Adi selesai hingga pukul setengah dua belas siang tepat saat waktu istirahat. Para peserta pun memanfaatkan waktu istirahat untuk makan siang dan melaksanakan sholat dhuhur.

Saya sendiri karena sedang tidak sholat, selesai makan siang hanya duduk di tempat sambil mengurus pekerjaan yang saya tinggalkan di rumah. Beberapa chat dari customer saya balas satu persatu. Saat istirahat inilah kepala mulai terasa berat akibat berhari-hari begadang tak tidur demi mengejar deadline pesanan seragam kebaya dari customer.

Tapi tak apa. Saya masih bersemangat mengikuti acara hingga akhir meski harus bolak balik ke toilet karena terlalu banyak minum air putih. Padahal toliletnya kotor lho, dan beberapa watercloset yang rusak menimbulkan bau tak sedap. Haha, curcol.

Jeda istirahat yang tak terlalu lama dimanfaatkan kru acara dengan mengadakan games joged berhadiah dan tanya jawab seputar Arman Armano Academy. Sales marketing, Kak Ani dari Arman Armano Academy (AAAcademy) menjelaskan secara gamblang mengenai produk-produk di Arman Armano Academy.

Menurut Kak Ani, pihak AAAcademy memberikan keringanan bagi pendaftar kelas make up di AAAcademy. Salah satunya adalah dengan sistem pembayaran bertahap (dicicil) selama masa belajar.

Jika dilihat dari katalaog kelas make up di AAAcademy ini, harga yang tertera memang terlihat mahal bagi sebagian besar masyarakat kota pinggiran seperti Tegal dan sekitarnya. Namun, harga ini sebanding dengan ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama belajar si AAAcademy yang begitu luar biasa.

Selain mendapatkan materi tentang make up, menurut Kak Ani di AAAcademy ini juga diajarkan teknik fotografi yang sangat menunjang personal branding dan marketing siswa dalam mempromosikan keahliannya dalam ber-make up atau make over klien. Keahlian fotografi sangat mendukung profesi MUA di era serba digital dan zaman internet seperti sekarang.

Pukul satu siang, setelah seru-seruan bersama Kak Ani, acara dilanjutkan dengan narasumber kedua. Kak Arman Armano, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Semua peserta seminar langsung histeris dong, termasuk saya. Haha! Kalau menghadiri acara-acara seperti ini, jadi lupa umur. Berasanya masih remaja menjerit-jerit tak tahu malu melihat idola datang hanya sejengkal di depan mata. Hehe.

Nah, berbeda dengan Kak Adi, Kak Arman memberikan turorial make up natural glam look yang lebih ringan pada pengantin Solo Putri. Step by step-nya hampir tak jauh berbeda dengan Kak Adi, tapi terasa lebih singkat karena memang look-nya lebih ringan. Kak Arman juga menjawab beberapa pertanyaan dari peserta selama demo make up.

Tonton video Tutorial Natural Glam Look By Arman Armano ini ya.


Senang sekali hari ini mendapat banyak imu baru dari Kak Arman. Sayang sekali jelang jam tiga sore kepala ini makin nyut-nyutan tak karuan. Badan pun mulai terasa kedinginan. Meski hampir tak kuat menahan kepala yang main memberat, saya paksakan menyimak kelas dari Kak Arman sebab memang untuk inilah tujuan saya jauh-jauh datang kemari.

Masih ada satu narasumber lagi yang akan memberikan materi dan tutorial pembuatan paes rias pengantin Solo putri yaitu Mbak Yayuk. Saya menyerah dan harus memejamkan mata sepanjang materi terakhir dari Mba Yayuk ini, berharap sakit kepala akan hilang. Nyatanya tidak. Saya merekam dengan ponsel tutorial pembuatan paes dari Mba Yayuk dengan menggunakan ponsel agar bisa saya pelajari lagi di rumah. Beruntung, saya membawa tumbler berisi air putih yang bisa saya minum sering-sering agar tetap bisa mengikuti acara hingga selesai meski hampir saja tak kuat menahan pening.

Ternyata, begadang tiap malam bisa menimbulkan sensasi seperti ini. Persis hang over saat minum alkohol dosis tanggung. Bedanya, otak masih bekerja normal dan bicara pun masih lancar. Tak meracau ataupun sempoyongan dan mengeluarkan kosakata aneh seperti hang over sungguhan. Lol!

Acara selesai sekitar jam empat sore yang ditutup dengan pengundian door prize beasiswa belajar di AAAcademy senilai Rp 25.000.000,- untuk satu orang. Saya ikut berharap dong, siapa tahu hoki, ya kan? Namun, keberuntungan belum datang pada saya, melainkan pada seorang remaja dari Kedungwuni, Pekalongan.

Saya pun beserta rombongan pulang ke rumah dengan membawa ilmu dan pengalaman luar biasa dari seminar ini. Tak rugi membayar Rp 500.000,- untuk seminar ini. Sungguh luar biasa. Apalagi saya, luar biasa sakit kepala ini, hehe, sampai-sampai tak sanggup melanjutkan perjalanan ke kampung kecil tempat tinggal saya di puncak bukit malam itu juga. Saya harus menginap di rumah mertua dan baru pulang keesokan harinya. Malam itu saya tidur nyenyak dan mimpi indah. Alhamdulillah.***
foto rame-rame
undangan semungil ini

Katalog Kelas Make Up Di Arman Armano Academy

 

 

BASIC MAKE UP CLASS


Rp 10.000.000,- (7 x pertemuan)

Kelas ini berisi program make up dasar yang dikhususkan untuk siswa yang baru ingin memulai karir sebagai make up artist (MUA). Dengan waktu belajar 7 x pertemuan, siswa akan belajar bagaimana memulai tahapan make up yang benar dan mengerti produk-produk kosmetik. Ketika memasuki tahapan lanjutan siswa sudah dapat menguasai teknik make up dasar dengan baik.

 

INTERMEDIATE MAKE UP CLASS


Rp 20.000.000.000,- (12 x pertemuan)

Kelas ini merupakan program lanjutan setelah siswa dianggap mengausai teknik make up dasar dengan baik, terutama pada aplikasi complexion ringan, dapat menggambar natural eyebrow, dan sudah dapat memasang bulu mata dengan benar. Dengan adanya kelas ini diharapkan siswa dapat menguasai teori make up dan mengaplikasikannya dengan baik.

 

ADVANCED MAKE UP CLASS


Rp 20.000.000,- (12 x pertemuan)

Advanced make up class merupakan kelas lanjutan setelah siswa dianggap mengasai make up dasar dengan complexion ringan ke sedang, sudah dapat menggambar alis seperti Arman Armano yang juga natural, dan sudah menguasai teknik blending dengan benar. Dengan adanya kelas ini diharapkan siswa sudah menguasai teori make up dan mengaplikasikannya dengan baik.

 

PROFESSIONAL MAKE UP CLASS


(10 X pertemuan)

Kelas ini merupakan program lanjutan dari Advanced Make Up Class di Arman Armano Academy. Kelas ini khusus bagi make up artist yang ingin mempelajari spesifikasi make up tertentu sesuai dengan pilihan di bidang make up.

Ada tiga pilihan program yang bisa dipilih:
1. Traditional Wedding (opsional hanya dipilih salah satu) Rp 30.000.000,-
  • Adat Jawa
  • Adat Sunda
  • Adat Padang
  • Adat Batak
2. Traditional Wedding Package Rp 50.000.000,-
3. International Wedding Rp 25.000.000,-

 

ALL IN ONE MAKE UP CLASS


Rp 65.000.000,- (38 x pertemuan)

Program ini merupakan program yang sangat lengkap di Arman Armano Academy yang meliputi Basic Make Up Class, Intermediate Make Up Class, Advanced Make Up Class, dan Professional Make Up Class. Di kelas ini siswa belajar selama 38 x pertemuan.

 

FANTASY MAKE UP CLASS


Rp 30.000.000,- (8 x pertemuan)

Program ini diperuntukkan siswa yang ingin mendalami teknik make up stage (make up untuk pertunjukkan) dan creative make up (contoh: make up karakter).

 

WEEKEND MAKE UP CLASS


Rp 55.000.000,- (25 x pertemuan)

Kelas ini berisi program pembelajaran lengkap dari basic sampai advanced. Siswa akan belajar selama 25 x pertemuan yang dilaksanakan setiap Sabtu tiap minggunya.

 

EXCLUSIVE PRIVATE MAKE UP CLASS


Rp 15.000.000,- (1 x pertemuan)

Program ini merupakan kelas privat 1 x pertemuan yang dimentori dan didampingi langsung oleh Arman Armano dengan waktu belajar kurang lebih 7 jam.
___________________________________________


Untuk pendaftaran make up class dapat menghubungi:
ANIE 0812 9477 4493
LARAS 0852 1399 8442


Semua pembayaran kelas make up Arman Armano Academy hanya menerima pembayaran melalui Bank BRI dengan nomor rekening 020601-009057-30-1 a.n. PT ARMAN ARMANO INDONESIA

ARMAN ARMANO ACADEMY 
Jln. Waru No. 24 Rawamangun Jakarta Timur 13220
email: armanomanagement @gmail.com
IG @armanarmano_academy
***

Sepi


(Juni, 2019)
 
Hari sudah larut, hampir tengah malam. Badan pun terasa lelah tak karuan. Tapi mata ini begitu sulit terpejam.

Agaknya jam tidur yang sudah terlanjur bergeser sejak bulan ramadhan, belum kembali normal hingga jelang akhir bulan syawal. Padahal, pekerjaan yang menumpuk membutuhkan stamina yang optimal. Apa mau dikata, kantuk belum juga datang.

Memang, selama ramadhan, praktis waktu kerja lebih banyak saya habiskan malam hari. Membuat pola, memotong, mencetak pattern untuk tricot, furing, pelapis dan fiselin, dan menyiapkan tetek bengek keperluan menjahit lainnya.

Tak hanya itu, job rias bulan syawal yang sudah menanti pun, menyita waktu untuk persiapan jauh-jauh hari.

Alhasil hampir tiap malam saya begadang. Kebiasaan ini jadi terbawa sampai sekarang. Untunglah fisik saya cukup terbiasa, jadi tidak down atau drop dibawa kerja seharian.

Sekarang ini, walau tak ingin disibukkan dengan jahitan atau riasan, insomnia kembali datang. Seperti biasa, menulis selalu bisa jadi pelarian. Menumpahkan semua yang dirasa, mengurai keruwetan yang menyiksa, menyegarkan pikiran yang nelangsa.

Sendiri.

Sepi.

Hanya tik tak jarum jam menemani.

Ada yang hilang. Sehari kemarin saya masih bisa 'mengobrol' dengan seorang teman. Sekedar saling melempar canda, mengusir sepi. Teman mutual, kenal di dunia maya. Entah mengapa malam ini saya harus memikirkannya. Saya tak begitu mengenalnya, tapi pemikirannya dewasa. Itu yang saya suka.

Banyak teman akrab yang bisa diajak bercanda, dan mereka tahu benar saya memang suka bercanda. Saya tak perlu khawatir akan timbul bibit-bibit rasa. Istilah zaman sekarang baper atau terbawa perasaan. Tapi tetap saja saya lebih ingin mengobrol dengan orang itu.

Saya menceritakan tentang orang itu pada seorang teman, Indi namanya. Bisa dibilang Indi ini mutual friend dalam versi yang lebih personal. Aslinya dia adalah sahabat pena saya sejak SMP yang entah bagaimana dipertemukan Tuhan kembali saat sudah sama-sama tua setelah hilang kontak belasan tahun lamanya.

Indi bukan orang yang mudah menghakimi. Dia selalu berpikir positif. Saya memang butuh orang-orang positif di sekitar saya untuk mengimbangi pikiran yang kadang negatif.

Yang pertama saya tanyakan pada Indi adalah: apakah saya sedang berselingkuh jika memikirkan pria lain walau kami hanya berteman? Indi balik bertanya: "mengapa kamu tanyakan itu padaku? Tanyakan pada hatimu. Cukup luaskah hatimu menampung semua nama?" Tidak, jawabku. Hatiku memang luas, tapi ia hanya indah untuk disinggahi, bukan ditempati.

Memang seharusnya begitu, namun jika rasa itu datang sendiri, bagaimana harus menghadapi?

Tidurlah.
Bayangnya akan hilang seiring waktu. Seperti namanya, teman dunia maya, semu.

***

(September, 2019)
Ini perjalanan paling emosional bagi saya. Emosi ini terkuras habis. Raga saya bersama Mas Jo, tapi jiwa ini berkelana pada sosok lain. Sosok yang entah bagaimana sudah masuk begitu dalam, ke dalam hati.

Meski tak pernah kekurangan teman yang bisa diajak bercanda dan bergembira, tapi saya bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menempati posisi spesial dalam hati.

Sosok itu salah satunya. Sosok yang terasa begitu dekat hingga sulit enyah dari pikiran.

Tapi saya bertekad akan melupakannya. Semua rasa yang saya punya untuk dirinya, biarlah menjadi kenangan.

Mas Jo tahu beberapa hari ini saya sedang gundah. Oleh karena itu ia mengajak saya pergi berdua, tanpa anak-anak. Saya menangis di balik punggungnya saat melaju di atas roda dua. Ia tahu saya menangis, ia tahu saya sedang bersedih. Kesedihan yang sangat ambigu dan sukar dipahami.

Mas Jo bercerita panjang lebar sepanjang jalan. Tentang kegiatannya, tentang teman-temannya, juga tentang rencana-rencana masa depannya. Saya bergumam menimpalinya seraya menyeka ingus dan air mata yang tak henti mengalir deras. Kami berputar-putar mengukur jalanan. Tak penting ke mana arah dan tujuan, asalkan tetap bersama Mas Jo, saya rela!

Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa yang sudah saya lakukan?

Saya merasa sinting dan hilang akal. Begitu gelap kabut yang menutupi mata ini. Membuat penglihatan tak lagi sempurna menangkap kebaikan. 

Bukankah jika melihat seratus keburukan pada seseorang bukan berarti satu kebaikannya menjadi hilang? Mungkin Mas Jo memang bukan pasangan sempurna sebagaimana saya pun jauh dari kata sempurna bagi dirinya. Namun, hari ini ia bisa memposisikan dirinya sebagai sahabat paling pengertian sedunia. Ia tak perlu bertanya, dan mungkin ia pun tak perlu tahu masalah ini. Tapi ia ada. Ia hanya perlu ada di samping saya.

Kami berhenti di tepi pantai. Mas Jo masih bercerita ngalor ngidul, sementara air mata ini mengering dengan sendirinya. Kami memesan es kelapa, pecel dan tempe mendoan hangat plus sambel kecap. Di bawah atap saung pinggir pantai, kami memakan semua makanan dengan kalap, sembari memutar lagu-lagu dangdut karaoke dari youtube. Sesekali kami bergantian bernyanyi; sayang, mundur alon-alon, aku takut, sampai berjoged goyang grepe-grepe dengan heboh. Tak peduli tatapan aneh orang-orang di sekitar.

Mas Jo tertawa. Saya tertawa, tapi juga ingin menangis. Ah, tetaplah seperti ini mas Jo...

Saya berjalan di bibir pantai. Sendiri, sementara Mas Jo berpamitan sebentar mengobrol dengan seorang kawan. Mas Jo tahu saya juga butuh waktu untuk sendiri.

Ah, sepi lagi. 

Kutatap ombak yang datang dan pergi. Bergemuruh, datang sekonyong-konyong dalam gulungan gelombang yang cukup besar. Lalu ketika sampai di tepian pantai, ombak itu menjelma menjadi riak-riak kecil yang liris dan manis. Kemudian... lenyap. 

Apa perasaan ini juga akan seperti itu pada akhirnya?

Belum sempat kucegah, tetes bening kembali turun di pipi. Buru-buru kuseka sebelum jatuh tetes berikutnya. Cukup. Ini sudah berakhir. Saya merasa cukup siap untuk mengabaikan dan membuang apapun rasa yang tumbuh di hati ini untuk sosok itu. 

Senja menjelang. Kami pun pulang. 
Dari balik punggung, rintik air mata kembali menitik. Tangis ketidakberdayaan, saat menyadari sesuatu yang semu ternyata bisa menjadi nyata, tapi saya memilih membiarkannya tetap semu seperti adanya.

Selesai.
Saya, Mas Jo, dan dirinya, menyelesaikan semua ini sebagaimana sportifitas orang dewasa.
Dan begitulah kisah itu berakhir.***

Meriahnya Makan Kupat Bersama Dalam Acara Haul Mbah Among Rogojati

Selasa, 10 Muharrom 1441 H, diadakan perhelatan besar-besaran Haul dan Kirab Klambu Mbah Among Rogojati di Desa Cikadu, Watukumpul Pemalang. Rangkaian acara demi acara berlangsung dengan sangat meriah. Semua warga antusias mengikuti acara yang diadakan pertama kali di desa ini.



aneka gunungan kupat untuk di arak keliling kampung

Acara yang digagas oleh pemerintah desa ini adalah bentuk pelestarian kearifan lokal yang diharapkan dapat menambah kecintaan terhadap budaya luhur bangsa. Selain itu, acara ini juga mampu mendongkrak potensi wisata religi dan meningkatkan perekonomian warga Cikadu.

Mbah Among Rogojati adalah wali yang menyebarkan Islam di Cikadu dan sekitarnya. Bisa dikatakan garis keturunannya masih ada hingga ke generasi sekarang. Urutannya adalah sebagai berikut: Mbah Ahmad (mbah Manten Lurah) - Mbah Maryamah (mbah Perlot) - Mbah Saki (Mbah Surajaya) - mbah Wastam - mbah Domir - Ratu Ayu - Ratu Muqoyyim (Mbah Among Rogojati). Bangunan yang menaungi makamnya telah dipugar pada tahun 2016 agar mampu menampung lebih banyak jamaah.



Baca juga Sebutan Bagi Nenek Moyang Dalam Masyarakat Jawa

Haul Mbah Among sebenarnya sudah diadakan setiap tahun pada bulan Muharrom. Namun, acara tahun ini dirancang besar-besaran, berbeda dengan tahun-tahun sebelumya yang hanya diadakan tahlil oleh warga sekitar. Pada tahun ini, selama satu minggu sebelum tanggal 10 Muharrom, warga sudah mengadakan tahlil rutin setiap ba'da isya selama tujuh hari berturut-turut. Puncak acara tahlil jatuh pada hari Selasa ini, yang dibarengi dengan kirab klambu makam Mbah Among, siraman benda pusaka peninggalan Mbah Among, Arakan gunungan kupat, makan bersama warga, lomba  rebana, serta pengajian umum.
 
Puncak tahlil mbah Among pada tanggal 10 Muharrom diadakan siang hari. Pagi hari sebelum acara, warga sudah berkumpul di sepanjang jalan raya Cikadu menuju makam Mbah Among. Masing-masing RT dan kelompok tahlil sudah menyiapkan gunungan kupat, semuanya berjumlah 13 gunungan. Para ibu menyediakan lauk-pauk di tenda yang sudah disediakan panitia.

Setelah pembacaan doa oleh sesepuh dan dibuka oleh Ibu Kepala Desa, arakan gunungan kupat pun dimulai. Semua antusias mengikuti arakan dengan rute bale desa-jembatan kali Polaga-jalan lingkar Cikadu-lapangan gunung Kusan-kembali ke bale desa.

Di lapangan Gunung Kusan, arakan gunungan kupat beristirahat. Di tempat inilah diadakan kirab klambu makam Mbah Among, disusul dengan siraman benda-benda pusaka peninggalan leluhur. Lantunan syahadat, doa-doa dan sholawat, dikumandangkan bersama-sama. Merinding bulu roma, merasakan kembali kedekatan dengan Sang Pencipta melalui waliNya.

Selesai acara kirab dan siraman benda pusaka, arakan gunungan kupat kembali ke depan bale desa tempat acara makan bersama akan dilaksanakan. Begitu arakan sampai, warga langsung menyerbu stan-stan penyedia lauk yang mulai sibuk mengiris kupat untuk diberikan pada semua warga. Penuh sesak semua stan makanan. Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, membaur menjadi satu dan makan bersama sajian kupat di sepanjang jalan raya. Bagi yang sedang menjalankan puasa sunnah, diberikan ketupat utuh beserta lauk dalam wadah.

Pada saat ini, sangat terasa kebersamaan dan guyub rukun semua warga. Bapak Camat yang hadir bersama danramil serta jajaran pegawai kecamatan, ikut membaur dalam kemeriahan pesta makan kupat bersama.

Jelang tengah hari, acara makan bersama selesai sudah. Warga berduyun-duyun menuju ke makam Mbah Among untuk tahlil serentak. Selesai tahlil, acara diistirahatkan. Semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk melaksanakan sholat dzuhur.

Ba'da dzuhur, acara dilanjutkan dengan lomba rebana yang diikuti oleh kelompok dan grup rebana yang ada di wilayah Cikadu dan sekitarnya. Ada 11 grup yang mendaftar dan semuanya tampil dengan maksimal di depan para juri. Pemenangnya langsung diumumkan setelah selesai penampilan lomba. Juara 1 Grup dari Kalilingseng, juara 2 grup dari Kalibengang, dan juara 3 grup dari Tembelang. 

Selain itu diadakan pula santunan anak yatim yang rutin diberikan setiap tahun di bulan Muharrom oleh Fatayat NU anak cabang Cikadu. Perwakilan anak-anak yatim menerima santunan setelah selesai penerimaan hadiah lomba rebana. Pukul lima sore, acara ditutup sementara untuk istirahat.

Acara Haul dan Kirab mbah Among Rogojati masih berlanjut malam harinya dengan pengajian umum Habib Nizar. Warga yang sejak pagi sangat antusias dengan acara ini, makin ramai mendatangi tempat acara di sepanjang jalan bale desa menuju makam Mbah Among. Ribuan jamaah mengunjungi pengajian umum. Habib Nizar naik ke mimbar sekitar jam sepuluh malam, dan ditutup jelang tengah malam.

Acara Haul Mbah Among tahun ini memang sangat meriah. Semua warga puas dan menginginkan untuk diadakan kembali tahun-tahun berikutnya sebagai even tahunan. Panitia sendiri menyambut baik dan siap bekerja kembali tahun depan dengan terus memperbaiki kekurangan-kekurangan yang masih ada pada tahun ini. Seperti kurangnya koordinasi dengan kelompok tahlil, yang membuat beberapa RT kekurangan personel dalam membuat gunungan. Hal ini dikarenakan kelompok tahlil tidak selalu satu RT.
 
Sukses untuk desa Cikadu dalam melestarikan warisan budaya leluhur.
***

foto: dok. pribadi 
tahlil tujuh malam berturut-turut di makam Mbah Among

Makam Mbah Among setelah dipugar tahun 2016

Makam Mbah Among sebelum dipugar
Kirab klambu dan siraman benda pusaka
lomba rebana

Pesona Watu Sewidak, Batu Sebesar Gunung

Saat saya memasang foto prewedding ini di media sosial, banyak yang bertanya di mana lokasi kami mengambil gambar. Mereka semua bilang selain pemandangannya indah, tempatnya asri dan sejuk. Setelah postingan ini diunggah pada bulan Desember 2017, setidaknya sudah tiga kali lagi kami melakukan foto prewedding di tempat yang sama.

Sebenarnya, bisa dibilang kami hanya melakukan pemotretan di 'belakang rumah'. Karena lokasinya memang tak jauh dari rumah saya.

Tempat ini dinamai Kedung Watu Sewidak oleh penduduk Desa Cikadu, Watukumpul, Pemalang, sebuah desa kecil tempat saya tinggal. Kedung artinya sungai yang dalam. Watu artinya batu, sedangkan sewidak berarti enam puluh. Jika digabung, Kedung Watu Sewidak diartikan sebagai sungai yang dalam dengan batu berjumlah enam puluh. Apa iya ya? Hehe....

Tempat ini ya, Sist, meski terlihat kecil dan sempit dari kejauhan, sebenarnya sangat luas. Airnya jernih. Masyarakat sekitar lokasi masih sering menggunakannya untuk MCK. Beberapa batu besar yang saling berhimpit, membentuk aliran air sungai yang menyerupai air terjun. Indah dipandang mata.


hasil foto diunggah sosmed
behind the scene, gaunnya bikin ribet

 

ASAL USUL WATU SEWIDAK 

 

Kedung Watu Sewidak dari jalan masuk

 
Watu Sewidak dari dekat


Saya perlu bertanya lebih dulu pada orang-orang tua mengenai asal usul nama tempat ini. Dari bapak saya, saya mendapat fakta lain yang berbeda. Ternyata, nama asalnya bukan Watu Sewidak, melainkan Watu Se-wit-dok. Dulunya, ada pohon Dok (sejenis pohon kayu yang bisa tumbuh sangat besar) di tempat ini. Nah, batu-batu besar di sana di sebut sebagai watu se-wit dok, yang artinya batu sebesar pohon Dok. Beda jauh ya dengan nama yang kini dikenal masyarakat luas?

Wit Dok-nya sendiri sudah tak ada lagi di tempat ini. Hanyut terbawa arus deras sungai jika banjir datang. Konon, di tempat ini ada penunggu yang melindungi yaitu seekor ular naga raksasa. Besar ular ini sebesar wit dok. Dan sekarang lidah masyarakat lebih mudah mengucap Watu Sewidak saja.

Tapi sudahlah. Apalah arti sebuah nama, kata Shakesphere (benar begini, penulisannya? Yah, apalah arti nama Shakesphere). Yang jelas, tempat ini sekarang bernama Kedung Watu Sewidak. Walau jelas batu-batu di sana berjumlah lebih dari enam puluh buah. Letak batu-batu ini sudah banyak berubah jika dibandingkan saat saya kecil dulu. Batu-batu itu mungkin bergeser karena terkena terjangan banjir besar yang kerap terjadi di musim penghujan. Mungkin, jumlah batu-batu pun ikut terpengaruh dengan adanya perubahan tata letak bebatuan tersebut.

UNIK


Keunikan Watu Sewidak ada pada bebatuannya. Selain ukuran yang sangat besar, jenis batu ini pun berbeda dengan batu-batu lain sepanjang sungai Polaga. Jika umumnya batu-batu lain berbentuk solid dan halus, batu-batu di tempat ini menyerupai gumpalan besar batu yang terbuat dari bebatuan kecil yang membuat permukaannya kasar.

Banyak mahasiswa bidang ilmu alam dan geologi yang mempelajari jenis batu tersebut. Hasilnya, menurut mereka jenis bebatuan ini kemungkinan besar adalah bentukan dari gumpalan lahar panas dari dalam perut bumi jutaan tahun lalu. Batu yang menyerupai bebatuan sejenis, umumnya berada di tempat yang tak jauh dari gunung berapi. Hal ini sungguh aneh karena tidak ada gunung berapi yang berada dekat dengan kampung ini.


BEHIND THE SCENE


Foto prewedding yang saya unggah ini sendiri sebenarnya bukan prewedding sungguhan. Calon pengantin sungguhan yang sedang melakukan prewedding tidak ingin fotonya disebarluaskan. So, kami pun mengajak seorang model untuk melakukan foto pula.

Nah, hari itu, saya bersama dua orang asisten Fitri dan Emmy, seorang model bernama Ulfa, fotografer langganan Mas Triyan, serta Mas Jo yang membantu mengatur semuanya, serta dua orang calon pengantin mempelai putra dan putri, pergi ke Kedung Watu Sewidak. Tak perlu mobil, kami berjalan kaki untuk mencapai lokasi.

Jauh kah? Untuk saya yang menghabiskan masa kecil hampir tiap minggu datang ke tempat ini, tentu saja tidak terlalu jauh. Tapi bagi dua calon mempelai saya yang datang dari kampung tetangga, rupanya cukup menguras tenaga. Kami memutuskan sebagian menggunakan sepeda motor hingga separuh jalan. Toh, lama perjalanan tetap sama dengan saya yang berjalan kaki melalui jalan tikus.

Setelah dipoles secukupnya dan bersiap, dua calon pengantin melakukan serangkaian pengambilan gambar oleh fotografer. Beberapa pose diambil di titik-titik yang dirasa 'strategis' (sepertinya strategis semua) Setelah itu mereka berganti kostum dan kembali diambil gambarnya.

Cukup lama, karena rupanya dua capeng ini tak terbiasa berpose dengan ditonton oleh kami para kru. Fotografer harus mengarahkan gaya berulangkali agar mendapat sudut gambar yang benar-benar tepat dan luwes. Kesan alami agak sulit didapat karena capeng terlihat canggung. Untunglah kami terbiasa melakukan hal ini dan bisa mengatasinya. Kesulitan seperti ini memang kerap terjadi.
make up di tempat

SELALU BIKIN KANGEN


Hari makin terik. Selesai dengan prewedding calon pengantin sungguhan, saya memoles model untuk diambil beberapa gambar dengan gaun panjang. Foto ini khusus untuk diunggah di media sosial.

Tak perlu waktu lama, beberapa foto berhasil diambil dengan sangat cantik. Ulfa, gadis belia bertinggi 168 cm yang biasa saya gandeng sebagai model dalam event perlombaan, sudah semakin akrab dengan kamera. Kami memenangkan piala pada lomba make up yang diadakan TUK Kartika Sari di Pemalang sebelumnya. Mungkin karena inilah Ulfa belajar banyak untuk berpose layaknya model profesional.

Di sela pemotretan, kami membuka bekal yang sudah dipersiapkan dari rumah. Ada buah, kue bandros, biskuit, pisang, dan minuman ringan. Pemotretan menjadi segar dengan selingan gelak tawa dan canda yang mengakrabkan suasana.

Tak terasa, matahari mulai menuju ke barat. Lewat tengah hari, kami mengemasi properti dan kostum yang dibawa dari rumah dan segera pulang. Kamipun kembali ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan yang indah.

Kedung Watu Sewidak memang selalu bikin kangen untuk kembali datang. Ada yang mau ke sana juga? Mari saya antar. Mampir saja ke Rumah Tsabita yang berada tepat di samping Masjid Al-Istigfar Cikadu. Kita bisa ke sana sama-sama.***

Foto: dok. Rumah Tsabita
 
all crews



proses pengambilan gambar

dari bawah membentuk siluet dramatis

Ada Apa Dengan Paijo


Paijo Paijo ditinggalke bojone
Jarene rak kuat ngragati wedak pupure
Paijo mumet ndase, ditinggal bojone
Minggat dadi TKW, jare ben akeh duite
Paijo loro ati, disirek bojone
Jarene orak kuat, ngragati wedak pupure


(Paijo Paijo ditinggalkan istrinya
Katanya tak kuat membiayai make up-nya
Pajio sakit kepala, ditinggal istrinya
Pergi menjadi TKW, katanya agar banyak uang
Paijo sakit hati, dimusuhi oleh istrinya
Katanya karena tak kuat membiayai make up-nya)
***

Agustus telah berlalu. Gegap gempita perayaan kemerdekaan usai sudah. Ada satu lagu yang akhir-akhir ini nge-hits gara-gara sering dijadikan musik latar kreasi dance modern oleh anak-anak dan remaja di pentas-pentas panggung gembira.

Lagu itu berjudul Paijo dan dinyanyikan oleh Zaskia Gotik. Setidaknya di kampung saya, lagu ini ditampilkan sebanyak empat kali di empat even terpisah panggung gembira, plus satu kali ditampilkan saat pensi dan acara api unggun kemah Perjusa di SMP. Lagu ini berhasil menggeser pamor lagu Syantik-nya Siti Badriyah.

Seperti juga bentuk kesenian lain, lagu dan musik selalu bisa dijadikan salah satu media kritik sosial. Terlepas dari goyangan atau gerakan dance kreasi yang beraneka rupa, lirik lagu Paijo rupanya sarat pesan.

ISI LAGU PAIJO


Lagu ini menceritakan tentang Paijo yang ditinggalkan istrinya. Penyebabnya karena sang Istri merasa Paijo tak mampu membiayai biaya hidup rumah tangga. Secara spesifik, make up (wedak pupur) disebutkan sebagai perlambang kebutuhan hidup zaman sekarang.

Tak main-main, istri Paijo pergi mencari pekerjaan ke luar negeri sebagai TKW. Tujuannya, lak lain agar bisa hidup berkecukupan. Di tengah masyarakat, Paijo menjadi bahan omongan. Tetangga menganggapnya sebagai lelaki yang menyia-nyiakan istri.
 
Sist, sebagai perempuan, apa sih, yang terbersit dalam kepala kalian saat mendengar lagu ini? Kamu termasuk kelompok yang mana:
  1. Hepi-hepi saja menikmati hentakan musik dan bergoyang tanpa menyimak liriknya.
  2. Menyimak lirik dan menertawakan nasib Paijo.
  3. Menyimak lirik dan tersindir karena mengalami hal yang sama.
  4. Miris, ternyata ironi kehidupan rumah tangga kebanyakan orang digambarkan seperti ini.

Sebenarnya, isi lagu Paijo sangat klasik, yaitu masalah ekonomi rumah tangga. Rumah tangga manapun, kapanpun, di manapun, sejak zaman dahulu hingga masa yang akan datang, akan selalu dihadapkan pada masalah ekonomi rumah tangga.
 
Siapa yang tak ingin kehidupan rumah tangganya berkecukupan? Semua orang ingin memiliki kondisi ekonomi yang mapan secara finansial. Bagiamanapun, kemapanan finansial berkaitan erat dengan 'stabilitas' rumah tangga.

Jika kalian jadi istri Paijo, apa kalian juga akan meninggalkannya karena ia belum mampu membiayai hidup?

Paijo digambarkan sebagai suami tak bertanggung jawab. Kerjanya sehari-hari hanya luntang lantung, tak peduli istrinya di rumah belum makan, belum ada beras dan lauk untuk dimasak. Lupa jika dulu pernah berjanji akan membahagiakan istri. Bekerja pun tidak, boro-boro mampu membelikan make up.

BERKAITAN DENGAN USIA PERNIKAHAN?


Wedak pupur. Make up.
Se-receh itukah penyebab perpecahan dalam rumah tangga?

Mungkin, pada usia pernikahan yang masih baru, tahun-tahun awal pernikahan,  masalah keuangan akan cenderung memengaruhi keputusan seseorang terhadap pasangannya. Ia yang sebelumnya dijamin semua kebutuhan oleh orang tua, tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi pasangan. Saat berumah tangga, perempuan tak bisa lagi seenaknya sendiri membelanjakan uang. Ia harus me-manage pengeluaran dan pemasukan. Ia pun harus memikirkan prioritas pemenuhan kebutuhan.

Bagi yang sudah terbiasa mengatur uang saku yang diberikan orang tua, mungkin tak begitu kaget dengan pengaturan keuangan rumah tangga. Namun, banyak perempuan yang belum memiliki keterampilan ini. Saat kondisi keuangan makin sulit, sering terlintas keinginan untuk berpisah. Ya, seperti istri Paijo ini.

Memasuki tahun ketiga sampai ketujuh usia pernikahan, pola pikir kita pun bertambah. Selalu ada resiko dengan segala keputusan yang diambil. Pilihan kita hanya ada dua, bertahan atau berpisah. Jika bertahan, akan ada konsekunsinya. Berpisah pun demikian pula, sama besar resikonya. Sudah ada anak yang menjadi pertimbangan agar tak gegabah mengambil keputusan.

Di atas tahun ketujuh pernikahan, kestabilan emosi dan kedewasaan mulai memimpin tindakan. Segala sesuatu dilihat dari berbagai sudut pandang. Apa saja keuntungan dan kerugian jika melakukan suatu hal. Artinya, memilih bertahan dengan pasangan ataupun berpisah, ia harus bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri maupun buah hati.

MENGAPA MAKE UP


Yang saya pertanyakan, mengapa lagu ini harus mengangkat wedak pupur (make up)?
 
Tak bisa dipungkiri, kebutuhan perempuan untuk tampil cantik sering dijadikan senjata untuk menuntut pemenuhan kecukupan jatah uang pada suami. Alasannya, tentu agar para istri tak kalah cantik dengan perempuan-perempuan di luar sana.
 
Iya, sih. Tak ada yang salah dengan make up. Saya pun perempuan. Saya senang ber-make up. Lebih dari sekedar tampil cantik di hadapan suami, saat ber-make up, perempuan merasa senang karena bisa menghargai diri sendiri. Ia merawat anugerah yang Tuhan berikan, salah satunya dengan berdandan.
 
Jika bukan dirinya sendiri, siapa yang paling bisa menyayangi diri ini? Tak jadi soal dengan pandangan orang. Nah, yang jadi soal adalah ketika kebutuhan ber-make up perempuan (baca: istri) bukan membawa kebaikan bagi rumah tangga, namun justru membawa keburukan. Membebani suami, misalnya.

SOLUSI: KERJA


Menyadari tak bisa lepas dari kebutuhan make up (juga kebutuhan rumah tangga lain, tentu saja) saya mulai berpikir untuk tidak membebani suami. Saya pun mulai mencari pemasukan tambahan. Kerja dari rumah yang menghasilkan tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai istri dan ibu, misalnya.

Rupanya, lagu Paijo pun menawarkan solusi, yaitu bekerja menjadi TKW. Apa yang salah dengan menjadi TKW? Menurut saya, tak ada salahnya bekerja ke luar negeri menjadi TKW sepanjang hal ini sudah dibicarakan bersama pasangan. Jika memang satu-satunya solusi mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga mengharuskan istri bekerja jauh dari rumah, mengapa tidak? Asal suami ridho, ya kan?

Para suami pada dasarnya tidak ingin istrinya bekerja. Suami yang baik ingin istrinya cukup di rumah saja merawat anak-anak dan suami tanpa disibukkan dengan pekerjaan. Namun, jika kondisi suami malas bekerja seperti Paijo ini, tak ada pilihan lain bagi istri untuk bekerja.

Harapannya, dengan melihat istrinya bekerja keras, suami akan tergerak untuk giat bekerja pula. Support paling baik untuk seorang suami, kadang bukan dengan kata-kata. Melainkan dengan tindakan nyata.
Dalam tulisan-tulisan random yang saya tulis, saya rajin menyelipkan ajakan bagi istri-istri untuk bekerja. Sayartnya, tentu harus dengan izin dari suami agar mendapat ridho ya. Tak lain karena saya pun merasakan apa yang istri Paijo rasakan itu. Ingin hidup enak, mapan, kebutuhan lahir batin tercukupi. Tapi, menuntut semua kebutuhan harus dicukupi oleh suami pun bukan hal baik.

Daripada hanya menuntut, bagaimana jika kita bantu para suami saja? Mari bekerja! Sebab sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada suami. Yuk, sedekah!