TATA CARA UPACARA ADAT JAWA TARAPAN

Tags

Pada jaman duhulu, upacara adat tarapan ini lazim dilaksanakan dan dianggap penting bagi ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan. Hal ini karena tarapan menjadi tanda bahwa putrinya telah menginjak masa aqil baligh, yang memerlukan perhatian lebih serius.

Walaupun pada jaman dahulu tidak ada pergaulan bebas seperti sekarang, namun orangtua tetap harus menjaga lebih ketat saat putrinya mulai menginjak masa remaja, agar tidak terjadi hal yang buruk.

Upacara adat tarapan dilaksanakan saat seorang putri (anak perempuan) menginjak masa remaja, yang ditandai dengan menstruasi pertama kali. Hal ini menandakan organ reproduksi  wanita mulai aktif, sejalan dengan hasrat seksual dan ketertarikan dengan lawan jenis yang mulai muncul.

Biasanya para remaja yang mengalami menstruasi pertama kali akan merasa gelisah. Hal ini memang normal seiring perubahan hormonal yang memengaruhi pula perubahan psikologi / kejiwaan perempuan saat sedang menstruasi (PMS). Namun karena baru terjadi pertama kali, remaja ini harus menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Harus disadari pula oleh sang putri, bahwa saat seorang remaja telah mengalami menstruasi, maka apabila terjadi hubungan badan dengan lawan jenis, dapat terjadi kehamilan. Oleh karena itu, ia harus berhati-hati dalam bergaul.

Menstruasi pertama kali biasanya akan berlangsung sekitar 7 hari, bisa kurang bisa, juga lebih lama lagi. Pada jaman dahulu, selama menstruasi berlangsung, sang putri hendaknya tidak diperbolehkan keluar rumah. Untuk menjaga kebersihan, tempat duduknya diberi alas dengan kantong kain putih yang sudah diisi dengan jamu galian tumbuk, lalu ditutup dengan letrek dan mori putih. Alas duduk ini diganti beberapa kali sehari.

Dapat dibayangkan ketika dulu belum mengenal pembalut wanita seperti sekarang, maka keluarnya darah haid / menstruasi yang banyak ini diatasi dengan cara tradisional tersebut.
Dimasa sekarang upacara tarapan menjadi simbol pembekalan pada sang putri yang menginjak remaja, agar siap menghadapi kehidupan yang lebih kompleks lagi, yang amat berbeda dengan kehidupan masa kanak-kanak. Upacara tarapan ini juga sekaligus memohon doa dan restu dari orang tua dan eyang serta para sesepuh, agar sang putri selamat dan mampu menjalani kehidupannya sebagai seorang gadis.

Dahulu, upacara tarapan dilaksanakan saat sang putri selesai menstruasi, yaitu dihari ke-tujuh. Namun dimasa sekarang upacara ini dilaksanakan setelah sang putri telah selesai menstruasi dan telah mandi wajib / mandi suci dari haid.
 
pinjungan, busana yang dikenakan saat upacara tarapan*)

Perlengkapan Upacara Tarapan

1.      Jambangan yang telah diisi dengan air dari 7 mata air dan bunga setaman.
2.      Busana sang putri yaitu pinjungan
3.      Wolo cinde
4.      Jamu sawanan
5.      Cenderamata untuk para eyang sesepuh

Tata Cara Upacara Tarapan

1.      Sungkem kepada kedua orang tua,
2.      Dilanjutkan sungkem eyang dari pihak bapak dan eyang dari pihak ibu.**)
3.      Sungkem kepada eyang sesepuh lain berjumlah 7 orang
4.      Siraman dilakukan oleh :
a.      Pertama oleh bapak dan ibu
b.      Dilanjutkan eyang kakung dan eyang putri dari pihak bapak
c.       Dilanjutkan eyang putri dari pihak ibu**)
d.      Dilanjutkan eyang-eyang sesepuh.

Tata cara siraman pada upacara tarapan :

·         Air bunga disiramkan mulai dari atas kepala sambil diusap / dibelai
·         Air bunga disiramkan ke pundak sebelah kanan, dilanjutkan ke pundak kiri
·         Air bunga disiramkan ke telapak tangan yang berada di pangkuan, lalu dilanjutkan hingga ke ujung  kaki.
·         Sang putrid menyalami orang yang menyiram
·         Khusus bagi sesepuh, diberikan cenderamata setelah prosesi penyiraman.

5.      Setelah dilaksanakan siraman, sang putri diajak ke kamar oleh kedua orang tua untuk berganti pakaian dan dirias, lalu dikenakan sabuk wolo cindhe dan kebaya, sebagai tanda ia telah siap menjadi pribadi yang lebih dewasa dari sebelumnya.
6.      Sang putri kemudian meminum jamu sawanan.

Keterangan :

*) doc : Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat 
**) eyang dari pihak ibu tidak diperkenankan untuk salaman saat sungkem, dan juga tidak ikut melakukan siraman karena bukan mahrom sang putri.

Blog tentang fashion, beauty, dan budaya