04 Desember 2018

TATA CARA UPACARA ADAT JAWA TARAPAN

Tags

Arti Tarapan


Tarapan adalah upacara adat yang dilaksanakan saat seorang putri (anak perempuan) menginjak masa remaja, yang ditandai dengan menstruasi pertama kali. Hal ini menandakan organ reproduksi wanita mulai aktif, sejalan dengan hasrat seksual dan ketertarikan dengan lawan jenis yang mulai muncul.

Pada jaman duhulu, upacara adat tarapan ini lazim dilaksanakan dan dianggap penting bagi ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan. Hal ini karena tarapan menjadi tanda bahwa putrinya telah menginjak masa aqil baligh, yang memerlukan perhatian lebih serius.

Walaupun pada jaman dahulu tidak ada pergaulan bebas seperti sekarang, namun orangtua tetap harus menjaga lebih ketat saat putrinya mulai menginjak masa remaja, agar tidak terjadi hal yang buruk.

Biasanya para remaja yang mengalami menstruasi pertama kali akan merasa gelisah. Hal ini memang normal seiring perubahan hormonal yang memengaruhi pula perubahan psikologi / kejiwaan perempuan saat sedang menstruasi (PMS). Namun, karena baru terjadi pertama kali, remaja ini harus menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Harus disadari pula oleh sang putri, bahwa saat seorang remaja telah mengalami menstruasi, maka apabila terjadi hubungan badan dengan lawan jenis, dapat terjadi kehamilan. Oleh karena itu, ia harus berhati-hati dalam bergaul.

busana tarapan pinjungan
pinjungan, busana yang dikenakan saat upacara tarapan*)

 

Menstruasi Pertama


Menstruasi pertama kali biasanya akan berlangsung sekitar 7 hari, bisa kurang bisa, juga lebih lama lagi. Pada jaman dahulu, selama menstruasi berlangsung, sang putri hendaknya tidak diperbolehkan keluar rumah.

Untuk menjaga kebersihan, tempat duduknya diberi alas dengan kantong kain putih yang sudah diisi dengan jamu galian tumbuk, lalu ditutup dengan letrek dan mori putih. Alas duduk ini diganti beberapa kali sehari.

Dapat dibayangkan ketika dulu belum mengenal pembalut wanita seperti sekarang, maka keluarnya darah haid / menstruasi yang banyak ini diatasi dengan cara tradisional tersebut.

Tarapan Di Masa Sekarang


Di masa sekarang upacara tarapan menjadi simbol pembekalan pada sang putri yang menginjak remaja, agar siap menghadapi kehidupan yang lebih kompleks lagi, yang amat berbeda dengan kehidupan masa kanak-kanak.

Upacara tarapan ini juga sekaligus memohon doa dan restu dari orang tua dan eyang serta para sesepuh, agar sang putri selamat dan mampu menjalani kehidupannya sebagai seorang gadis.

Dahulu, upacara tarapan dilaksanakan saat sang putri selesai menstruasi, yaitu dihari ke-tujuh. Namun di masa sekarang upacara ini dilaksanakan setelah sang putri telah selesai menstruasi dan telah mandi wajib / mandi suci dari haid.


tarapan saat remaja menstruasi pertama
tarapan di masa sekarang

Perlengkapan Upacara Tarapan


Jambangan yang telah diisi dengan air dari 7 mata air dan bunga setaman.
Busana sang putri yaitu pinjungan
Wolo cinde
Jamu sawanan
Cenderamata untuk para eyang sesepuh

Tata Cara Upacara Tarapan


  1. Sungkem kepada kedua orang tua, 
  2. Dilanjutkan sungkem eyang dari pihak bapak dan eyang dari pihak ibu.**)
  3. Sungkem kepada eyang sesepuh lain berjumlah 7 orang
  4. Siraman dilakukan oleh :
  • Pertama oleh bapak dan ibu
  • Dilanjutkan eyang kakung dan eyang putri dari pihak bapak
  • Dilanjutkan eyang putri dari pihak ibu**)
  • Dilanjutkan eyang-eyang sesepuh.

Baca juga : Mitoni Atau Tingkepan, Serba Serbi Dan Tata Cara

Tata cara siraman pada upacara tarapan :


Tata cara siraman pada acara tarapan, mirip dengan siraman yang dilakukan calon mempelai putri saat hendak melangsungkan pernikahan.

Caranya adalah:
  1. Air bunga disiramkan mulai dari atas kepala sambil diusap / dibelai
  2. Air bunga disiramkan ke pundak sebelah kanan, dilanjutkan ke pundak kiri
  3. Air bunga disiramkan ke telapak tangan yang berada di pangkuan, lalu dilanjutkan hingga ke ujung kaki.
  4. Sang putrid menyalami orang yang menyiram
  5. Khusus bagi sesepuh, diberikan cenderamata setelah prosesi penyiraman.
  6. Setelah dilaksanakan siraman, sang putri diajak ke kamar oleh kedua orang tua untuk berganti pakaian dan dirias, lalu dikenakan sabuk wolo cindhe dan kebaya, sebagai tanda ia telah siap menjadi pribadi yang lebih dewasa dari sebelumnya.
  7. Sang putri kemudian meminum jamu sawanan.

Demikianlah, tata cara upacara adat Jawa tarapan. Semoga bermanfaat.***


Keterangan :
*) doc : Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
**) eyang dari pihak ibu tidak diperkenankan untuk salaman saat sungkem, dan juga tidak ikut melakukan siraman karena bukan mahrom sang putri.


Blog tentang kecantikan, make up, fesyen dan mode, dan budaya

24 komentar:

  1. Oh begitu ya, baru tahu kalo ada upacara tarapan gitu, penanda kalo anak putri sudah Akil baligh. Di Pemalang masih banyak yang menggunakan upacara tarapan tidak mbak?

    BalasHapus
  2. indonesia ini sangat kaya akan adat budaya, ini yang membedakan dengan negara-negara lain

    BalasHapus
  3. Baru tahu aku mbak, upacara tarapan ini asli budaya mana ya mbak

    BalasHapus
  4. Saya baru tahu Mbak pas anak gadis mengalami menstruasi ada acara begini. Tarapan, ya, namanya. Cuman di Jawa aja kali ya. Di Sunda nggak ada Soalnya.

    BalasHapus
  5. Saya suka hal yg berbau budaya. Apalagi punya nilai filosofi dan religi. Patut kita lestarikan 😀🙏

    BalasHapus
  6. Tapi di jaman sekarang sudah jarang sekali ya mba ditemui upacara semacam ini.

    BalasHapus
  7. Aku baru tahu soal detil upacara tarapan ini padahal orang jawa hihihi..

    BalasHapus
  8. wuah saya baru tahu ada budaya upacara terapan di jawa. ah indonesia memang benar2 kaya ya mba budayanya. tfs mba

    BalasHapus
  9. Waktu pertama kali haid, ibuku juga selalu memandikan kami putri2nya dengan kembang 7 rupa. Bukan upacara adat sih, cuma kebiasaan di keluarga besar saja. Tapi cuma berdua saja sama Ibu. Lalu dinasihati bahwa sudah dewasa dan harus menjaga diri. Ada perasaan haru dan bangga dibikinin acara beginian.

    BalasHapus
  10. Wah bagus bgt mba upacara terapan masih dilestarikan sampai sekarang ya 😍

    BalasHapus
  11. Jadi tahu tradisi di sana seperti itu ya. Nambah ilmu dan wawasan nih. Terimakasih

    Kalau kami di kampung ini, yg lebih ditekankan kepada pengetahuan akan kewajiban bersuci dari haid, sekaligus apa saja yg boleh dan tidak saat haid menurut agama

    BalasHapus
  12. Aku baru tau kalau ada upacara seperti ini loh Mbak. Ya tapi emang aku bukan orang Jawa sih hehehe... Menarik ya, di zaman sekarang masih banyak yang melakukan upacara ini Mbak? Mungkin versi modernnya dengan pembekalan sex education ya

    BalasHapus
  13. wah, aku baru tau tentang upacara tarapan ini. mamaku orang jawa tengah (purbalingga) ga ada ngadain acara ini. tapi ini menarik lo upacaranya, memberikan pengalaman baru bagi gadis yang tiba masa balighnya.

    BalasHapus
  14. Baru tahu ada acara adat gini. Seru ya rame jadinya. Kalau di tempatku seingatku tidak ada upacara setelah haid pertama. Di sana masih ada ya keren

    BalasHapus
  15. Sekarang masih banyak nggak sih yang melakukan upacara tarapan ini, Mbak? Aku sendiri baru tau :D

    BalasHapus
  16. Wah, informasi menarik karena say abaru saja mengetahuinya. Tepatnya ini di jawa mana mba? Apakah untuk seluruh Jawa, termasuk Jabar, Jateng, Jatim?

    BalasHapus
  17. Aku baru tahu ada upacara ini mbak, karena rada jarang ya dilakukan. BTw tapi ternyata ini juga pake air dari 7 mata air dan bunga setaman ya mbak. Kayak acara siraman sebelum menikah atau tujuh bulanan waktu hamil itu ya.

    BalasHapus
  18. wah, jadi nambah ilmu tentang budaya. aku juga baru tahu nih informasi kaya begini. aku suka banget bacaan ttg budaya. Apalagi budaya jawa yg dekat banget dengan tempat tinggal aku yg berada di pulau jawa.

    BalasHapus
  19. wah, jadi nambah ilmu tentang budaya. aku juga baru tahu nih informasi kaya begini. aku suka banget bacaan ttg budaya. Apalagi budaya jawa yg dekat banget dengan tempat tinggal aku yg berada di pulau jawa.

    BalasHapus
  20. Aku sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa , malah jujur baru tahu upacara Tarapan ini mba. upacara adat yang dilaksanakan saat seorang anak perempuan menginjak masa remaja, yang ditandai dengan menstruasi pertama kali. Adat istiadat memang perlu dilestarikan. Terimakasih informasinya mba :)

    BalasHapus
  21. Tarapan ini masih ada dan terus dilestarikan bagus juga agar para gadis yang beranjak remaja dan mengalami haid pertama jadi makin peduli dengan dirinya

    BalasHapus
  22. Asli baru baca ini ttg upacara tarapan. trnyta asli Jawa dan ada prosesi singkem plus siramanny jg. Maturnuwun infony kak ^^

    BalasHapus
  23. Kalau di jakarta tarapan kaya gini paling cuma selamatan dibagiin makanan buat tetangga.

    BalasHapus
  24. Tradisi Tarapan ini berasal dari Jawa mana ya, Kak? Aku orang Jawa asli tapi malah baru tahu, hahaha ... Mungkin juga karena keluarga besar kami sudah nggak terlalu menerapkan berbagai tradisi asli Jawa itu sendiri ya.

    Dulu, menstruasi pertama sepertinya saat anak perempuan sudah lumayan besar. Sekarang anak-anak SD pun sudah menstruasi. Kebayang anak-anak kecil itu diikutkan upacara begini, hehehe ...

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.