Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label culture. Tampilkan semua postingan
14 Agustus 2022

Sepuluh Hari yang Berkesan dalam Haul Mbah Among Rogojati 

Haul Mbah Among Rogojati


Sepuluh Hari yang Berkesan dalam Haul Mbah Among Rogojati 


Malam belum larut benar, tapi badan terasa pegal dan ingin segera diistirahatkan. Sayup-sayup dari kejauhan, sudah mulai ramai terdengar dari pengeras suara alunan lagu islami dan musik gambus mengawali acara pengajian umum dan penutupan peringatan Haul Mbah Among Rogojati di Desa Cikadu. 


Hari ini memang melelahkan, tapi sangat menyenangkan dan spesial. Hari Selasa, 9 Agustus 2022 ini menjadi puncak acara Haul yang sudah berlangsung sejak tanggal 31 Juli lalu.


Haul Mbah Among Rogojati sudah rutin diadakan setiap bulan Muharram secara turun temurun sejak dahulu kala di Desa Cikadu. Setiap tahun pada malam 10 Muharram diadakan tahlil di makam Mbah Among Rogojati. Sejak enam tahun terakhir, Haul Mbah Among Rogojati diselenggarakan oleh pemerintah desa secara besar-besaran. 


Tahun lalu Haul Mbah Among diadakan secara sederhana karena adanya pandemi. Tahun ini, seiring berlalunya pandemi corona, maka Haul diadakan secara meriah seperti sebelumnya.


Mengenai siapa sosok Mbah Among Rogojati pernah saya ulas pada blog post berjudul Meriahnya Makan Kupat Bersama dalam Acara Haul Mbah Among Rogojati. 



Rangkaian Acara Haul Mbah Among Rogojati 2022


Acara Haul diadakan selama 10 hari yaitu sejak 1 Muharram ditambah puncak acara pada tanggal 11 Muharram. 


Tahun 2022 ini, Haul Mbah Among bertepatan tanggal 31 Juli sampai 9 Agustus 2022. Dibuka oleh Kepala Desa Cikadu H. Rukun Abdurrohman pada Hari Ahad 31 Juli, acara dimeriahkan dengan penampilan gambus modern sejak jam 1 siang sampai jam 10 malam. 


Acara-acara lain yang diadakan selama 10 hari tersebut, adalah:

  1. Pasar Haul setiap hari mulai dari jam 3 sore sampai jam 11 malam di Bumi Waton Merak, Cikadu.
  2. Tahlil setiap selesai shalat wajib, sehari lima kali selama sepuluh hari pertama bulan Muharram, oleh rombongan tahlil baik Fatayat, Muslimat, Ansor, NU, dll, di wilayah Anak Cabang Watukumpul II, secara bergiliran.
  3. Pencucian Pusaka dan Kirab Klambu Makam Mbah Among Rogojati.
  4. Lomba rebana yang diikuti oleh kelompok rebana anak hingga dewasa, baik putra maupun putri se-wilayah anak cabang Watukumpul II.
  5. Lomba adzan, hapalan surat pendek Al-Quran yang diikuti oleh santri Madrasah dan TPQ se-wilayah anak cabang Watukumpul II. 
  6. Pawai gunungan kupat pada puncak acara 11 Muharram dengan peserta semua RT yang ada di Desa Cikadu.
  7. Pengajian Umum pada malam terakhir sekaligus penutupan dengan menghadirkan pembicara K.H. Abbas dari Cirebon.


Bupati Pemalang
Bupati Pemalang menghadiri Jamran dan Haul Mbah Among Rogojati 



Pawai Gunungan Kupat dan Jamran 


Kemeriahan Haul Mbah Among Rogojati kali ini makin bertambah karena adanya Jambore Ranting yang bertempat di Bumi Waton Merak yang juga menjadi lokasi pasar haul.


Jambore Ranting di Desa Cikadu ini dihadiri oleh Bupati Pemalang Bapak Mukti Agung Wibowo yang sekaligus juga membuka acara puncak pawai gunungan kupat dan kirab klambu dan pusaka Mbah Among Rogojati.

 

Warga Desa Cikadu, tua-muda, laki-laki-perempuan, besar-kecil, tumpah ruah ke jalan raya mengikuti rangkaian pawai, pencucian pusaka, kirab klambu, dan diakhiri dengan ramai-ramai berebut gunungan kupat. 


Acara yang sudah rutin diadakan setiap tahun ini, menarik perhatian publik terutama di wilayah Pemalang bagian selatan. Banyak pengunjung dari luar Desa Cikadu yang sengaja datang menyaksikan kemeriahannya.


Beberapa rekan media elektronik dan media online pun banyak yang meliput puncak acara Haul Mbah Among Rogojati ini. Di antaranya dari Jateng TV dan TVRI Semarang yang meliput jalannya acara sejak persiapan hingga selesai acara.


Tak ketinggalan pula para Youtuber yang menyiarkannya secara langsung selama acara. Bagi warga Cikadu yang ingin menyaksikannya tapi berada di perantauan, tetap bisa menyimaknya melalui streaming Youtube.


Acara budaya memang menarik untuk diulas. Sarat makna dan doa-doa yang ditujukan pada Tuhan Yang Maha Esa. Acara budaya perlu dilestarikan agar tak lekang oleh waktu. Seperti acara tedhak siten atau turun tanah yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya. Karena menarik ini pula yang membuat orang menjadi penasaran ingin melihat. Jika tak memungkinkan melihat langsung, ada yang rela untuk mengadakan live Instagram agar bisa ditonton acara tedhak siten secara online. Menarik juga kan.


Kemah jambore ranting


Pasar Haul Mbah Among Rogojati
Pasar Haul selama 10 hari 


Simpul Masyarakat


Acara Haul ini menjadi simpul dan titik temu bertemunya antara agama, budaya, hiburan, dan peningkatan ekonomi kemasyarakatan. 


Jika hanya mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya untuk mengadakan pengajian umum dan mengundang pembicara kondang dan ternama selama satu malam, tentu amat mudah dan sangat mampu bagi warga Cikadu. Namun, kekompakan warga dalam bergotong royong dalam acara Haul ini, mampu memberikan dampak lebih besar daripada itu. 


Simpul tersebut dapat saya rangkum, antara lain:

  • Haul ini memutar roda perekonomian masyarakat selama sepuluh hari.
  • Memberikan kesejukan rohani dalam setiap tahlil lima kali sehari selama sepuluh hari. 
  • Bergotong royong membuat gunungan kupat di lingkungan RT masing-masing, merupakan cermin kehidupan masyarakat harmonis khas pedesaan yang perlu dirawat.
  • Memberikan hiburan dengan adanya pasar haul yang ramai yang selama dua tahun terakhir ini dilarang.
  • Merawat budaya dan tradisi turun temurun dalam mendoakan wali di tengah arus modernisasi dan gaya hidup.



Kupat haul
Memasak bersama membuat gunungan kupat 



Kebersamaan Warga


Salah satu bagian yang ditunggu warga setiap acara Haul adalah acara masak bersama dalam mempersiapkan gunungan kupat. Setiap RT akan membuat "dapur umum" yang menjadi base camp dan pusat pembuatan kupat-kupat yang dibuat sebagai gunungan.


Kupat yang dimaksud adalah ketupat yang biasa dibuat ketika berlebaran di hari raya Idulfitri. Masyarakat pada umumnya mengenal kupat dengan nama ketupat yang sering disandingkan dengan opor ayam.


Cara membuatnya pun sama persis dengan ketupat lebaran yaitu daun janur yang dibentuk anyaman segi empat atau jajar genjang, lalu diisi dengan beras dan direbus hingga matang.


Yang beda adalah jumlah kupat. Banyaknya kupat yang dibuat, membuat dapur umum mengebul tiada henti satu hari satu malam untuk merebus kupat dan memasak lauk pendamping.


Selain membuat kupat untuk gunungan yang akan dibawa pawai, masing-masing RT diminta untuk mengirimkan 200 kupat yang dikumpulkan di bale desa paling lambat malam hari sebelum pawai keesokan harinya. Kupat-kupat itu akan dibuat menjadi gunungan raksasa yang diletakkan di depan bale desa.


Gunungan Kupat raksasa
Gunungan Kupat raksasa di depan bale desa 


Dari kebersamaan dalam mempersiapkan gunungan kupat ini, membuat saya mengetahui beberapa hal yang cukup baru dalam hal masak-memasak. Yaitu:



Tips Agar Kupat Awet


Kupat-kupat akan mulai dibuat satu hari sebelum acara pawai, bahkan ada yang membuatnya dua hari sebelumnya. Agak tricky karena jumlahnya yang banyak, harus bertahap membuatnya agar bisa selesai tepat waktu tapi juga awet. 


Agar tahan lama dan tidak cepat basi, kupat yang sudah matang direbus, dicuci agar kulit janur bersih, lalu digantung diangin-anginkan. Setelah cukup kering, kupat dikukus kembali sampai benar-benar tanak. Cara ini ampuh dan terbukti membuat kupat awet sampai waktunya disantap bersama usai pawai.


Tips Agar Sayur Nangka Awet


Menu teman makan kupat yang paling meanstream adalah sayur nangka. Entah bagaimana sayur nangka menjadi lebih enak jika dihangatkan. Karena sayur nangka yang dibuat juga banyak sekali, maka untuk membuatnya pun harus bertahap. 


Sayur ini menggunakan santan yang bisa membuatnya mudah basi atau berubah asam jika tidak dihangatkan.


Cara agar sayur nangka awet terletak pada proses memasaknya. Yaitu dengan memasaknya secara terpisah. Daging nangka direbus sendiri. Santan direbus sendiri, bumbu dimasak terpisah. 


Keesokan harinya, sebelum acara pawai, sayur dihangatkan dengan cara merebus semua bahan.


Lauk pendamping sayur nangka adalah tempe goreng, sambal, serta ayam opor.


Pengajian Umum haul mbah among
Penutupan Haul diisi pengajian umum Gus Abbas



Sepuluh hari yang berkesan sejak tanggal 31 Juli ditutup dengan meriah hari ini, Selasa, 9 Agustus 2022. Kemeriahan acara Haul Mbah Among Rogojati ini tergambar dalam gambar-gambar yang diabadikan para pengunjung.



Semoga seluruh warga Cikadu pada khususnya dan orang Islam pada umumnya selalu mendapatkan keberkahan dan kesejahteraan. Semoga sehat panjang umur agar bisa terus melestarikan budaya.***


22 Juli 2022

Kanzus Sholawat, Tempat Berkumpul Para Pecinta Nabi

Kanzus Sholawat, Tempat Berkumpul Para Pecinta Nabi dari Berbagai Kalangan


Minggu lalu saya mendapatkan job wedding di dusun kecil yaitu Dusun Mundong, Desa Tlagasana. Hari itu kebetulan adalah hari yang padat. Dalam satu kecamatan Watukumpul, ada 14 pasangan yang akan meresmikan pernikahan. 

Problem bagi WO manakala mendapati hari yang padat salah satunya adalah sulit mencari Master of Ceremony (MC) untuk memandu acara adat.

MC dalam perhelatan pernikahan tradisional terutama adat Jawa, memang bukan sembarang MC. Selain bisa menghidupkan suasana, menertibkan jalannya acara, ia juga harus paham tentang tata cara adat Jawa, harus bisa nembang atau ngidung tembang Jawa, mengerti, memahami, serta bisa ber-Bahasa Jawa yang halus (kromo inggil).

Beruntung saya dan tim Rumah Tsabita Cikadu sudah mengenal banyak MC di sekitar Pemalang, Tegal, Purbalingga, dan Pekalongan. Jika tidak mendapatkan MC yang dekat karena kalah cepat dengan perias lain, saya bisa mendapatkan MC yang bagus meski dari tempat yang jauh.


Ki Suryo, Dalang Pemalang


Tanggal 14 kemarin, di tengah sulitnya mencari MC, saya beruntung karena Ki Suryo, dalang kenamaan di Pemalang ini, bersedia mengisi dan memandu acara adat calon pengantin saya.

Ki Suryo bukan sekedar MC. Beliau adalah dalang yang cukup terkenal dengan jam terbang tinggi sebagai MC dan dalang wayang. Kemampuan beliau tentu tak diragukan lagi.


Kanzus Sholawat Habib Lutfi
Kiri: Ki Suryo saat menjadi MC / Panotocoro
Acara adat pengantin Jawa 
Kanan: Ki Suryo bersama Ki Manteb Sudarsono
dan Bapak Iskandar 



Saya sering merasa Alloh begitu baik pada saya dan tim. Saya selalu tertolong karena Ki Suryo 'ndilalah' sedang kosong tidak ada jadwal saat seringkali saya kesulitan mendapatkan MC, termasuk tanggal 14 kemarin.

Ki Suryo sendiri merupakan budayawan yang beruntung dapat hadir dalam perhelatan tahunan dalam Majelis Kanzus Sholawat Habib Lutfi bersama para budayawan lain serta habaib dan ulama'. 


Kanzus Sholawat 


Majelis Kanzus Sholawat yang bertempat di Jalan Dokter Wahidin No. 70 Noyontaan, Pekalongan Timur Kota Pekalongan ini, mengadakan perhelatan besar satu tahun sekali setiap bulan Maulud / Robiul Awwal dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.



Profil Habib Lutfi


Maulana Habib Lutfi bin Ali bin Yahya dilahirkan di Pekalongan pada Hari Senin pagi, tanggal 27 Rajab 1367 H atau 10 November 1947 M.


Nasab Habib Lutfi 

 

1. Nasab Habib Lutfi dari Ibu


Habib Lutfi dilahirkan oleh syarifah (perempuan mulia) bernama dan bernasab sayyidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid Al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sayid Imam 'Alawi bin Sayid Al Imam Muhamad bin al Imam 'Alawi bin Imam Al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rohman Maula Dawileh bin Imam 'Ali bin Imam 'Alawi bin Sayidina Imam Al Faqih Al Muqadam bin 'Ali Baa 'Alawi.

2. Nasab Habib Lutfi dari Ayah


Rasulullah Muhammad saw
Sayyidatina Fatimah Az Zahra & Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib 
Imam Husein Ash-Sibth
Imam Ali Zainal Abiddin
Imam Muhammad Al Baqir
Imam Ja'far Shodiq
Imam Ali al-Uraidhi 
Imam An Naqib
Imam Isa An Naqib ar-Rumi 
Imam Ahmad Al Muhajir
Imam Ubaidulloh
Imam Alwi Ba'alawi 
Imam Muhammad
Imam Alwy
Imam Ali Khali Qasam
Imam Muhammad Shahib Marbath 
Imam Ali
Imam Al Faqih Al Muqaddam Muhammad Ba'Alawy 
Imam Alwy Al Ghuyyur
Imam Ali Maula Darrak 
Imam Muhammad Maulad Dawileh 
Imam Alwy An Nasiq
Al Habib Ali
Al Habib Alwy
Al Habib Hasan
Al Habib Yahya Ba'alawy 
Al Habib Ahmad
Al Habib Syekh 
Al Habib Muhammad
Al Habib Thoha
Al Habib Muhammad Al Qodhi 
Al Habib Thoha
Al Habib Hasan
Al Habib Thoha
Al Habib Umar
Al Habib Hasyim
Al Habib Ali
Al Habib Muhammad Luthfi


Profil Habib Lutfi
Kiri: Habib Lutfi bersama Ki Manteb Sudarsono 
Kanan: Habaib berkumpul dalam Majelis Kanzus Sholawat 


Panjang Jimat


Indonesia memang negara yang sangat kaya dengan budaya. Salah satu kekayaan yang menarik bagi masyarakat adalah acara budaya yang diadakan oleh Majelis Kanzus Sholawat yaitu Panjang Jimat. 

Panjang Jimat merupakan rangkaian acara dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad. Menurut beberapa sumber, Panjang Jimat diambil dari kata Panjang dan Jimat yang maksudnya adalah sePANJANG masa / selama hidup. JIMAT merupakan singkatan dari siJi diruMAT, artinya satu yang harus dirawat dan dijaga yaitu syahadat.

Bisa diartikan Panjang Jimat maksudnya adalah agar orang Islam menjaga/merawat syahadatnya sepanjang hayat.

Saya pernah mengikuti Pawai Panjang Jimat saat dilaksanakan sebelum pandemi melanda. Panjang Jimat diadakan setiap tahun, tetapi selama pandemi acara besar ditiadakan.

Saat itu acara pawai berlangsung meriah. Berbagai elemen masyarakat mengikuti pawai sambil menampilkan berbagai atraksi menarik.

Jika di Pekalongan kita bisa menyaksikan wisata budaya seperti Panjang Jimat Kanzus Sholawat ini, Kota Madura juga memiliki banyak pesona wisata. Apa saja wisata di Madura? Yang pasti bukan hanya karapan sapi ya, tentu tak kalah menarik dengan wisata lain di Indonesia.

Saya termasuk orang yang sangat menikmati setiap budaya dari daerah mana saja. Jika sedang banyak waktu luang, saya membaca catatan perjalanan ke berbagai daerah melalui blog travelling. Dari sana banyak rekomendasi tempat-tempat menarik untuk dikunjungi.

Termasuk kemeriahan Panjang Jimat ini pun, sebelum menyaksikan langsung, saya sudah membaca tulisan dari orang yang sudah mengikutinya langsung. Memang sangat meriah. Puas rasanya bisa menyaksikannya sendiri saat itu. Banyak wisatawan yang menantikan momen perhelatan ini.







20 Februari 2020

Lamaran 40 Mobil dan Pernikahan 4 Hari

pernikahan kilat

"Ibarat membangun sebuah rumah, pernikahan lebih sering tentang dua orang yang membawa puing-puing masa lalunya masing-masing.

Jangan membayangkan dua orang ini membawa seluruh material baru yang mereka siapkan sedemikian rupa, yang mereka beli dari toko-toko bangunan mewah, agar rumah mereka kelak menjadi indah dan sempurna. Sebab, seperti dalam kebanyakan kasus, dalam sebuah proyek pernikahan, yang akan mereka pertukarkan satu sama lain adalah apa-apa yang sudah ada dan melekat pada sejarah hidup mereka sendiri. Dan sejarah adalah tentang masa lalu: bisa berupa monumen kemenangan yang mungkin usang, atau reruntuhan-reruntuhan kekalahan."

Kutipan resensi buku "Cerita Sebelum Bercerai" karya Fahd Pahdepie yang saya baca dari blog mbak Sinta Legian dua hari lalu ini, langsung terasa mak jleb di hati saya. Fahd Pahdepie sudah menjadi salah satu penulis favorit yang memiliki gaya bahasa yang khas dan mengalir. Tutur bahasanya terasa ringan meski membahas hal berat seperti perceraian.

Kenapa ya, ini opening-nya terasa seram. Belum apa-apa sudah membahas perceraian. Padahal saya ingin menulis tentang kebahagiaan rumah tangga, lho! Hasil saya menjadi bagian dari pernikahan pengantin cantik saya seharian ini. Lol.


Menjadi Bagian dari Gerbang Rumah Tangga


Tema pernikahan dan rumah tangga selalu menarik bagi saya. Alasannya karena salah satu pekerjaan saya adalah perias pengantin. Tak terhitung berapa kali menjadi bagian dari penyelenggaraan prosesi pernikahan, sekian kali itu pula saya merasakan getaran yang sama. Getar keharuan saat dua orang mempelai menyatukan diri dalam sebuah ikatan sakral rumah tangga.

Pun dengan hari ini. Saya kembali menyaksikan dua mempelai memasuki gerbang rumah tangga. Kali ini, Kamis 20 Pebruari 2020, saya mendapat kepercayaan menjadi perias pada pernikahan Mbak Umi Maesaroh dan Mas Ahmad Darokutni. Rumah mempelai putri berada di Dusun Kalibengang Desa Cikadu, Watukumpul, Pemalang. Sedangkan mempelai putra berasal dari Banjarnegara.


Cinta Lokasi


Mbak Umi dan Mas Ahmad ternyata bertemu di pondok pesantren yang sama tempat mereka menuntut ilmu selama hampir delapan tahun. Mas Ahmad adalah lurah pondok putra, sedangkan Mbak Umi sudah dianggap keluarga Ndalem Pak Yai dan Bu Nyai pengasuh pondok. Bisa dibilang, mereka ini terkena sindrom cinta lokasi ya. Mirip saya sama Mas Jo dong, hanya beda waktu dan lokasi saja. Hehe....


Lamaran 40 Mobil


Namanya lurah pondok, sudah pasti dihormati seluruh warga pondok, dong. Terlebih pengantin putrinya yang sudah dianggap keluarga Ndalem (sebutan bagi keluarga pengasuh pondok pesantren). Bersamaan dengan rombongan lamaran dari keluarga mempelai putra, Pak Yai dan Bu Nyai datang bersama serombongan besar santri putra dan putri untuk menjadi wakil wali yang menikahkan kedua santri kesayangan beliau. Semua yang hadir hari ini memberikan doa terbaik bagi kedua mempelai.

Kabarnya, mobil yang digunakan rombongan Pak Yai ini sejumlah 40 mobil. Jika rata-rata satu mobil berisi sepuluh orang, maka rombongan lamaran mencapai 400 orang! Ckckck!

Pantas saja, kata Mas Jo, sepanjang tepi jalan menuju rumah mempelai putri berderet mobil terparkir hingga puluhan meter. Saya sih di dalam saja, tak melihat sendiri sebanyak apa rombongan yang datang. Namun, saya tahu beberapa rumah sebelah kanan, kiri, dan depan rumah Mbak Umi juga disiapkan untuk menerima tamu, karena tak semua yang hadir bisa tertampung di dalam tenda yang tak begitu besar.


Pakai Sarung


Salah satu hal unik dalam acara pernikahan hari ini adalah Mas Ahmad yang santri tulen plus lurah pondok pula, tak mau mengenakan celana. Jadi, sepanjang acara mempelai putra ini mengenakan sarung yang ia kenakan dari rumah. Dua kali ganti kostum, Mas Ahmad hanya mau mengganti kemeja dan jasnya saja, tentu dengan warna yang senada dengan gaun yang dikenakan pengantin putri. Haha!


Fotografernya Mati Gaya


Mas Muzan, fotografer saya hari ini beberapa kali tampak kesulitan mengarahkan gaya pada sesi pemotretan. Penyebabnya tak lain karena sikap malu-malu dari kedua mempelai. Tentu saja mereka masih malu-malu, bertemu saja jarang. Sungguh berbeda dengan muda-mudi yang gaya pacarannya sudah bebas lendat-lendot tanpa risih. Hehe....

Boro-boro mereka mau diarahkan saling peluk, senyum saja masih malu. Kalau malu-malu berdempetan dengan lawan jenis ya tak apa-apa. Tapi ini kan sudah sah. Mbok ya lepaskan saja. Biar hasil fotonya bagus, gitu lho! Kasihan fotografernya kan jadi mati gaya kalau posenya maunya berdiri standar terus.


Lain di Sini Lain Pula di Sebelah


Saya sering mendapat job rias di Dusun Kalibengang ini. Biasanya saya menanyakan kabar orang-orang yang pernah saya rias sebelumnya jika kebetulan lokasi berdekatan alias bertetangga. Nah, di pernikahan Mbak Umi dan Mas Ahmad hari ini, saya mendapat kabar jika pernikahan salah satu pengantin saya beberapa waktu lalu, yang masih bertetangga dengan Mba Umi, hanya bertahan empat hari.

Menikah empat hari!

Coba bayangkan. Pernikahan 12 hari saja viral di Twitter, ini ada yang menikah hanya empat hari, coba.

Terlepas dari apapun alasan mereka mengakhiri pernikahan hanya dalam hitungan empat hari, saya cukup sedih mendengar kabar ini. Orang tua sudah mengeluarkan banyak sekali biaya untuk menyelenggarakan pesta pernikahan, tapi ternyata kemudian berpisah empat hari berikutnya, siapa yang tak sedih?

Maka benarlah kutipan isi buku Fahd Pahdepie di awal saya membuka tulisan ini. Pernikahan (rumah tangga) memang dibangun dari puing-puing masa lalu dua orang. Jika puing-puing itu rapuh, runtuhlah rumah tangga. Jika puing-puing itu bisa diperkuat dengan komitmen dan kerja keras membangun keluarga yang saling memberi kebahagiaan, maka akan kuatlah rumah tangga itu.

Semoga pernikahan Mbak Umi dan Mas Ahmad langgeng, sakinah mawaddah warahmah, diberi keturunan sholeh sholekhah. Aamiin.

"Pernikahan memang tak pernah menjadi sesuatu yang mudah dan biasa-biasa saja."

Nah, akhirnya nyambung juga ending dan opening-nya, ya kan?

Kalian, ada pengalaman tentang pernikahan orang-orang tersayang yang bisa dibagikan di kolom komentar kah? Saya tunggu ya.***

06 Januari 2020

Upacara Adat Jawa Temu / Panggih Pinanganten

TEMU / PANGGIH


Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, dua orang mempelai melaksanakan upacara panggih pinanganten. Panggih pinanganten didampingi kedua orang tua masing-masing pengantin serta para pinisepuh. Pelaksanaannya yaitu setelah melaksanakan akad nikah.

Umumnya, adat yang berkembang di pedesaan, para pengantin melaksanakan upacara Panggih ini sesaat sebelum dimulainya resepsi pernikahan.

adat jawa panggih
pengantin putri membasuh telapak kaki pengantin kakung

 

Alat-alat untuk Upacara Panggih


Sebelum kita melaksanakan upacara panggih, terlebih dahulu kita menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk upacara panggih pinanganten.

Yaitu:
  1. Gantalan : terdiri dari daun sirih yang di dalamnya telah diisi dengan pinang (jambe muda), dan diikat dengan lawe wenang. Gantalan ini dibuat sebanyak dua buah. Satu diperuntukkan pengantin putri, satu lagi diperuntukkan pengantin kakung. Cara menggulung gantalan daun sirih pun tak sembarangan. Caranya adalah dengan menggulung sesuai urat/serat daun agar bertemu yang disebut "suruh temu rose", artinya ros (urat)-nya daun bertemu kanan dan kiri.
  2. Bokor besar : yaitu wadah terbuat dari kuningan yang berisi air dan bunga setaman / bunga telon (mawar, melati, kenanga).
  3. Telur ayam dan baki : telur ayam kampung ini diletakkan di atas baki terbuat dari kuningan yang dialasi kain putih dan bunga.
  4. Irus : yaitu alat untuk mengambil air bunga dalam bokor.
  5. Sindur : yaitu kain yang digunakan untuk menyelimuti kedua pengantin menuju pelaminan.
Bokor, baki berisi telur ayam kampung, beserta irus diletakkan di pintu tengah tempat akan dilaksanakannya upacara panggih pinanganten.

 

perlengkapan temu panggih
alat-alat upacara panggih

 

 

Pelaksanaan Panggih


Berikut ini adalah urutan pelaksanaan upacara panggih
  1. Rombongan pengantin kakung datang membawa sanggan berupa 'gedang ayu suruh ayu' dengan maksud 'sedyo rahayu'.
  2. Sanggan ini diterima oleh ibu pengantin putri dan disimpan. Setelah itu diadakan acara serah terima oleh kedua keluarga keluarga pengantin.
  3. Setelah acara serah terima sanggan, pengantin putri berjalan menuju pintu tengah tempat upacara panggih akan dilaksanakan dengan diapit oleh kedua orang tua dan diiringi pini sepuh.
  4. Pengantin kakung juga menuju pintu tengah dan diapit kedua keluarga dan diiiringi para pini sepuh. (Sekarang ini, upacara panggih dilaksanakan di atas panggung untuk kemudahan pengambilan dokumentasi)
  5. Kedua pengantin saling melempar gantalan yang disebut balang-balangan suruh. Hal ini memiliki makna agar saling bertemu rasa dalam hati kedua mempelai.
  6. Pengantin putri menyalami dan mencium tangan pengantin kakung.
  7. Juru rias / dukun manten mengambil sedikit air setaman dan diusapkan pada tengkuk dan ubun-ubun kedua mempelai.
  8. Pengantin putri duduk bersimpuh di depan pengantin kakung. Pengantin kakung menginjak telor ayam dalam baki hingga pecah dengan kaki kanan, dan dipegang oleh pengantin putri.
  9. Pengantin putri membasuh kaki pengantin kakung dengan air setaman dalam bokor.
  10. Pengantin putri mengusap telapak kaki kanan pengantin kakung.
  11. Kedua mempelai berjalan beriringan dengan jari kelingking saling bertautan dengan posisi pengantin kakung di sebelah kanan dan pengantin putri di sebelah kiri .
  12. Singepan sindur, yaitu ibu pengantin putri menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur sementara bapak pengantin putri memegang kedua ujung sindur di depan kedua mempelai. Hal ini mengandung arti bapak dan ibu mempersatukan kedua insan yang belum saling mengenal dan mengantarkannya menuju kehidupan rumah tangga.
Demikian rangkaian upacara adat Jawa Temu / Panggih pinanganten. Setelah dilaksanakan panggih ini, selanjutnya diteruskan dengan acara Sungkeman dan Kacar Kucur.***

membasuh kaki acara panggih
pengantin kakung menginjak telur ayam di atas baki hingga pecah

sinduran
singepan sindur
03 Januari 2020

Upacara Adat SIRAMAN: Doa, Sajen, dan Tata Caranya

adat jawa siraman pengantin

Siraman / mandi keramas merupakan upacara yang dimaksudkan untuk menyucikan calon pengantin.
Upacara siraman dilaksanakan sebelum hari pernikahan. Waktu yang dipergunakan untuk siraman antara jam 11.00 sampai 16.00 satu hari menjelang akad nikah.


Luluran


Sebelum dilakukan siraman, calon pengantin harus sudah dilakukan luluran 7 atau 3 hari sebelum hari siraman.

Bahan lulur terdiri dari:
Beras, pandan sedikit, daun kemuning, bunga kenanga, temu giring, temu glenyah, kencur sedikit, daun jeruk purut, ditambah bumbu lulur.

Bumbu lulur terdiri dari:
Klabet, waron, mesoyi, kayu manis, kayu cendana, dan kayu garu. Semua bahan ini ditumbuk dipipis satu persatu, lalu dicampur dan dipipis lagi sampai halus.

Lulur dipakai calon pengantin setiap hari. Dahulu, lulur ini dipakai 35 hari sebelumnya, tapi sekarang ini hanya dipakai 7 atau 3 hari sebelum siraman, sekaligus diadakan sangeran / dipingit 3 hari, tak diperbolehkan keluar rumah.
 

Sajen Siraman


Sebelum siraman dimulai, kita harus membuat sajen siraman beserta perlengkapannya. Yaitu:
  1. Air tawar yang diambil dari tujuh sumber mata air, ditaburi bunga telon (mawar, melati, kenanga)
  2. Dua buah kelapa gading yang diikat jadi satu, dimasukkan ke dalam jambangan berisi air bunga.
  3. Kosokan mandi: mangir
  4. Kendi berisi air wudlu, londo merang, air asam atau santan yang diberi jeruk purut. Untuk pengantin laki-laki menggunakan kendi lanangan (ada corongnya) sedangkan untuk pengantin perempuan menggunakan kendi polos tanpa corong.
  5. Dingklik / kursi tanpa sandaran yang dialasi kloso bongko, di atasnya diberi daun kluwih, daun alang-alang, daun opo-opo, daun dadap srep, daun nanas, serta kain putih setengah meter.
  6. Handuk, kain dan kebaya untuk ganti.

Tata Cara Siraman


  1. Calon pengantin mengenakan kain dan kemben. Corak kain batik yang digunakan bebas.
  2. Sebelum dilaksanakan siraman, terlebih dahulu calon pengantin sungkem kepada ayah dan ibu. Setelah itu diiring menuju tempat siraman.
  3. Calon pengantin duduk di tempat yang telah disediakan, di atas dingklik atau kursi yang telah diberi alas kloso dan daun-daun.
  4. Siraman. Orang yang memandikan berjumlah ganjil, 7 atau 9 orang.*)
  5. Setelah selesai siraman dengan air kembang, terakhir diguyur dengan air asam / santan yang telah diberi jeruk purut.
  6. Selanjutnya calon pengantin berwudhu dengan air dari dalam kendi, lalu kendi langsung dipecah seraya berkata "Calon pengantin wis pecah pamore".
  7. Rambut calon pengantin digunting sedikit.
  8. Calon pengantin dipakaikan handuk.
  9. Calon pengantin digendong dengan kain oleh ayah dan dibawa ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Hal ini melambangkan: ngentaske anak (mengentaskan anak). Cara menggendong secara simbolis: calon pengantin berjalan di belakang ayahnya sambil tangannya memegang pundak sang Ayah, diselempang dengan kain seperti hendak menggendong.
  10. Selesailah upacara siraman.

*) Urutan orang yang memandikan / menyiram adalah:
  1. Ayah : mengenakan kain corak "cakar", baju beskap landung, dan memakai destar
  2. Ibu : mengenakan kain corak "cakar" dan kebaya yang serasi dengan kain
  3. Embah
  4. Para pinisepuh, 3 atau 5 orang
  5. Juru rias / dukun manten.

Doa Pada Waktu Nyirami Calon Pengantin


"Bismillah, niat ingsun ngedusi temanten, ancik-ancik watu gilang, banyune banyu suci, ciduke pulung sari. Disirami tanggal siji kaya tanggal sepuluh, disirami tanggal sepuluh koyo tanggal patbelas. Piturunane bok dewi pertimah. Piturunane widodari seketi kurang siji. Entukno pangestu dewi Suprobo, tumuruno angalupo marang mbok pengantin. Tejo ono sangarepe simbar probo ono dadane mbok pengantin. Ngemumi cahyane priyantun sabawono. Angalupo marang mbok pengantin."
(Doa ini boleh diucapkan boleh tidak, menurut kepercayaan masing-masing. Begitu pula ada tirakat-tirakat yang dilakukan oleh juru rias, tak sembarang orang bisa mengetahui kecuali berguru langsung dengan dukun manten kuno).***

19 November 2019

Viral! Pernikahan Santuy Seiring Sejalan: Ada Kera Saktinya

Semua yang unik memang selalu menarik perhatian. Setuju, nggak? Karena pada dasarnya manusia memang menyukai kejutan. Hal yang nggak biasa, nyeleneh, atau bahkan aneh, langsung menyedot perhatian publik dan menjadi viral. Apalagi di zaman sekarang, setiap orang bisa dengan mudah membagikan informasi lewat media sosial.

Baru-baru ini ada yang mencuri perhatian saya. Yaitu pernikahan Faisal dan Anggi, yang mendadak ramai di Twitter setelah akun @seterahdeh membagikan foto pernikahan mereka. Pasalnya, sepasang pengantin ini unik dan ... antimeanstream, kira-kira seperti itu. Teman-temannya bilang, ini pernikahan tersantuy yang pernah mereka datangi.

Jika orang lain hanya melihatnya sekilas dan tersenyum simpul melihat keanehan mereka, lain dengan saya yang justru menyimpan foto-foto itu. Hehe.... Bukan apa-apa, sebagai orang yang bergerak di bidang wedding organizer, fenomena kemunculan tema-tema unik memang selalu menarik buat saya. Sekalian cari referensi, yekan.

viral gara-gara kera sakti dan Suzzana

Nah, apa yang unik dari pernikahan Faisal dan Anggi?
Mari kita bahas satu persatu.

1. Engangement: LEGO


Belum apa-apa, tema dekorasi pertunangan  Faisal-Anggi ini sejak awal sudah unik bin aneh. Pasangan yang sepakat mengusung judul 'Seiring-Sejalan" untuk acara besar mereka ini, memilih lego sebagai tema.

Lego? Iya, lego. Mulai dari tempat cincin pertunangan, dekorasi dan background photo booth-pun bertemakan game dan lego. Unik banget kan?


cincin pertunangan, tempatnya juga unik

 



2. Prewedding: BOBOIBOY dan BOO


When Boboiboy meets Boo

Lain pertunangan, lain pula foto prewedding. Masih mengambil tema film, kali ini dipilihlah Boo (karakter tokoh utama dalam film Monster Inc.) dan Boboiboy (film kartun dari Malaysia) sebagai dua karakter yang digunakan untuk pengambilan foto. Faisal dan Anggi menggunakan kostum boneka kedua karakter tersebut. Iya, boneka badut itu lho... unch banget nggak sih? Dan kenapa pula mereka menggunakan karakter anak-anak? Mungkin semacam menolak tua? Hehe..., kek saya itu mah!

3. Undangan

 

undangannya begini

Mau tau seperti apa undangannya? Undangannya berupa bungkusan berisi permen-permen, pin dan sticker Seiring-Sejalan, lengkap dengan attire guide yang juga nyeleneh. Antara lain: pakai kacamata (secara Anggi-Faisal itu berkacamata dua-duanya, kali, biar samaan), pakai sneakers, dan selfi dan diunggah di Instagram dengan mention akun Seiring Sejalan (promosi, tetep...).

4. Wedding 

 

Akadnya tetap pakai busana adat

Nah nah nah, pas acara pernikahan tiba, makin kelihatan dong, betapa random-nya kedua mempelai ini. Kita catat bareng:

  1. Foto prewedding dipajang paling depan dan bersandingan dengan foto Suzzana.
  2. Saat acara ijab qabul, nampak seperti pengantin pada umumnya dengan mengenakan busana adat Sunda. Biar sakralnya dapet.
  3. Cincin pernikahannya warna hitam, Sist, dengan material black rhodium dan blue diamond. Tempat cincinnya lego yang dimasukkan ke dalam prisma box.
  4. Saat acara resepsi, alih-alih pakai heels atau sepatu formal, kedua pengantin justru mengenakan sepatu sneakers anak-anak couple-an dari Nike yang digambar sendiri warna warni menggunakan spidol sharpie.
  5. Lihat baju pengantin perempuannya, nggak ada kelihatan seperti ratu sehari!
  6. Apalagi baju pengantin laki-laki, tak jauh beda dengan MC meski tetap pakai dasi.
  7. Dan ada nametag dengan tulisan digital berjalan macam jam mushola.
  8. Lagu band-nya Kera Sakti dan Meteor Garden dong.
  9. Minum air putihnya ambil sendiri dari galon dispenser.
  10. Ada nomor telepon layanan keluhan khusus parkir.
  11. Flashmob-nya mulai dari Black Pink, lagu India, AKB48
  12. Ada doorprise-nya berupa sepuluh buah buku TTS. Seterah pengantinnya deh, nikahan mereka juga.

minum ambil sendiri

 

5. Souvenir


Se-nyeleneh-nyelenehnya mereka, ternyata pasangan Seiring-Sejalan ini peduli lingkungan juga lho. Buktinya, souvenir bagi undangan yang datang berupa sedotan stainless yang bisa mengurangi pemakaian sedotan plastik untuk bumi bebas sampah di masa depan. Dalem banget kan pesannya.

souvenir

Adakah yang mau juga konsep pernikahan seperti mereka? Siapa tau bisa viral juga. Hehe.


20 Oktober 2019

Kostum Dan Sejarah Tari Gambyong

Kostum tari Gambyong memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan tari tradisional lain. Demikian pula dengan gerak dan musik pengiringnya. Kostum tari Gambyong berbeda dengan kostum tari tradisional lain, sebagaimana juga tari Selendang Pemalang yang juga memiliki kostum dan ciri khas yang sudah pernah saya tulis sebelumnya.

SEJARAH

Tari Gambyong sendiri berasal dari Surakarta. Tarian ini berawal dari pertunjukan tayub. Penari tayub yang terkenal masa itu bernama Sri Gambyong. Masyarakat mengenal Sri Gambyong yang mempunyai suara indah dan gerakan tari yang lemah lembut dan luwes dalam pertunjukan tayub.

Tarian tayub Sri Gambyong sering diadakan menjelang musim tanam. Tarian ini dipercaya sebagai tarian Dewi Sri atau dewi padi. Tujuannya agar masyarakat dalam menanam diberikan kesuburan dan kelimpahan panen.

Pada masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwono IV di Surakarta, Sri Gambyong diizinkan menyelenggarakan pementasan di lingkungan keraton. Sejak itu tarian ini dinamakan tari Gambyong dan mulai dipatenkan struktur gerakan serta kostumnya.

Di masa sekarang, tari Gambyong sering ditampilkan untuk menyambut tamu dalam acara-acara kehormatan. Selain itu seringkali pula ditampilkan dalam penyambutan pinanganten kakung dalam rangkaian acara pernikahan.

Baca juga TEDHAK SITEN, Tata Cara dan Filosofinya

 

KOSTUM TARI GAMBYONG


  1. Kain kemben dengan bahu terbuka hingga ke dada.
  2. Bawahan menggunakan kain panjang bermotif batik.
  3. Selendang, atau sampur biasanya berwarna kuning atau hijau yang artinya melambangkan kekayaan serta lambang kesuburan.
  4. Riasan panggung atau make up yang menonjolkan warna-warna terang seperti kuning emas, merah, dan hijau.
  5. Sanggul, menggunakan sanggul tekuk dan sasakan/subal khas adat Surakarta.
  6. Aksesoris, gelang, kalung, giwang, sabuk, tusuk mentul, melati pinti dan tibo dodo.

 

PROPERTI TARI GAMBYONG


Selain kostum, tari Gambyong tak akan lengkap tanpa properti dan alat musik pengiring. Properti tari Gambyong terdiri dari:
  • Kenong
  • Gong
  • Kendang
  • Gambang
Semua properti ini terkumpul sebagai alat musik gamelan tradisional Jawa. Iringan tembang Jawa dan gamelan akan dimainkan bersamaan dengan gerakan para penari dengan menonjolkan hentakan kendang.

Di masa sekarang semua properti ini sudah semakin mudah dan praktis dengan dibuatnya musik gamelan tari Gambyong yang dapat dikopi melalui kaset DVD, memori USB, flashdisk, ataupun diunduh dari berbagai penyedia musik melalui internet.

 

KEUNIKAN TARI GAMBYONG


  1. Kostum tari Gambyong menonjolkan warna kuning dan hijau.
  2. Sebelum tarian dimulai, dibuka dengan gendhing pangkur.
  3. Gerakan, pola kendang, menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Baca juga Mitoni Atau Tingkepan, Serba Serbi dan Tata Cara

Nah, itu dia kostum tari gambyong. Foto di bawah adalah anak-anak SMP Negeri 2 Watukumpul yang menarikan tari Gambyong menyambut ibu Bupati Pemalang sebagai ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pemalang dalam acara pembinaan dan lomba PKK di Desa Cawet Watukumpul Pemalang pada 3 Oktober 2019 lalu.

Saat itu saya sedang beristirahat siang, tiba-tiba dibangunkan dan dijemput untuk merias keempat penari padahal tamu dari kabupaten sudah hampir sampai ke lokasi acara. Masya Alloh, kebayang dong, gimana gugupnya karena waktu yang mepet dan singkat. Dengan bantuan seorang asisten, make up dan sanggul empat penari siap dalam satu jam.



Bu lurah, bu lurah, sering-sering saja kasih saya job, tapi ya mbok jangan dadakan dan mepet gini, lho! Adakah dari kalian yang pernah dikasih pekerjaan dadakan seperti saya? Bagaimana ceritanya, boleh dong komen di bawah.***
11 September 2019

Meriahnya Makan Kupat Bersama Dalam Acara Haul Mbah Among Rogojati

Selasa, 10 Muharrom 1441 H, diadakan perhelatan besar-besaran Haul dan Kirab Klambu Mbah Among Rogojati di Desa Cikadu, Watukumpul Pemalang. Rangkaian acara demi acara berlangsung dengan sangat meriah. Semua warga antusias mengikuti acara yang diadakan pertama kali di desa ini.



aneka gunungan kupat untuk di arak keliling kampung

Acara yang digagas oleh pemerintah desa ini adalah bentuk pelestarian kearifan lokal yang diharapkan dapat menambah kecintaan terhadap budaya luhur bangsa. Selain itu, acara ini juga mampu mendongkrak potensi wisata religi dan meningkatkan perekonomian warga Cikadu.

Mbah Among Rogojati adalah wali yang menyebarkan Islam di Cikadu dan sekitarnya. Bisa dikatakan garis keturunannya masih ada hingga ke generasi sekarang. Urutannya adalah sebagai berikut: Mbah Ahmad (mbah Manten Lurah) - Mbah Maryamah (mbah Perlot) - Mbah Saki (Mbah Surajaya) - mbah Wastam - mbah Domir - Ratu Ayu - Ratu Muqoyyim (Mbah Among Rogojati). Bangunan yang menaungi makamnya telah dipugar pada tahun 2016 agar mampu menampung lebih banyak jamaah.



Baca juga Sebutan Bagi Nenek Moyang Dalam Masyarakat Jawa

Haul Mbah Among sebenarnya sudah diadakan setiap tahun pada bulan Muharrom. Namun, acara tahun ini dirancang besar-besaran, berbeda dengan tahun-tahun sebelumya yang hanya diadakan tahlil oleh warga sekitar. Pada tahun ini, selama satu minggu sebelum tanggal 10 Muharrom, warga sudah mengadakan tahlil rutin setiap ba'da isya selama tujuh hari berturut-turut. Puncak acara tahlil jatuh pada hari Selasa ini, yang dibarengi dengan kirab klambu makam Mbah Among, siraman benda pusaka peninggalan Mbah Among, Arakan gunungan kupat, makan bersama warga, lomba  rebana, serta pengajian umum.
 
Puncak tahlil mbah Among pada tanggal 10 Muharrom diadakan siang hari. Pagi hari sebelum acara, warga sudah berkumpul di sepanjang jalan raya Cikadu menuju makam Mbah Among. Masing-masing RT dan kelompok tahlil sudah menyiapkan gunungan kupat, semuanya berjumlah 13 gunungan. Para ibu menyediakan lauk-pauk di tenda yang sudah disediakan panitia.

Setelah pembacaan doa oleh sesepuh dan dibuka oleh Ibu Kepala Desa, arakan gunungan kupat pun dimulai. Semua antusias mengikuti arakan dengan rute bale desa-jembatan kali Polaga-jalan lingkar Cikadu-lapangan gunung Kusan-kembali ke bale desa.

Di lapangan Gunung Kusan, arakan gunungan kupat beristirahat. Di tempat inilah diadakan kirab klambu makam Mbah Among, disusul dengan siraman benda-benda pusaka peninggalan leluhur. Lantunan syahadat, doa-doa dan sholawat, dikumandangkan bersama-sama. Merinding bulu roma, merasakan kembali kedekatan dengan Sang Pencipta melalui waliNya.

Selesai acara kirab dan siraman benda pusaka, arakan gunungan kupat kembali ke depan bale desa tempat acara makan bersama akan dilaksanakan. Begitu arakan sampai, warga langsung menyerbu stan-stan penyedia lauk yang mulai sibuk mengiris kupat untuk diberikan pada semua warga. Penuh sesak semua stan makanan. Tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan, membaur menjadi satu dan makan bersama sajian kupat di sepanjang jalan raya. Bagi yang sedang menjalankan puasa sunnah, diberikan ketupat utuh beserta lauk dalam wadah.

Pada saat ini, sangat terasa kebersamaan dan guyub rukun semua warga. Bapak Camat yang hadir bersama danramil serta jajaran pegawai kecamatan, ikut membaur dalam kemeriahan pesta makan kupat bersama.

Jelang tengah hari, acara makan bersama selesai sudah. Warga berduyun-duyun menuju ke makam Mbah Among untuk tahlil serentak. Selesai tahlil, acara diistirahatkan. Semua orang kembali ke rumah masing-masing untuk melaksanakan sholat dzuhur.

Ba'da dzuhur, acara dilanjutkan dengan lomba rebana yang diikuti oleh kelompok dan grup rebana yang ada di wilayah Cikadu dan sekitarnya. Ada 11 grup yang mendaftar dan semuanya tampil dengan maksimal di depan para juri. Pemenangnya langsung diumumkan setelah selesai penampilan lomba. Juara 1 Grup dari Kalilingseng, juara 2 grup dari Kalibengang, dan juara 3 grup dari Tembelang. 

Selain itu diadakan pula santunan anak yatim yang rutin diberikan setiap tahun di bulan Muharrom oleh Fatayat NU anak cabang Cikadu. Perwakilan anak-anak yatim menerima santunan setelah selesai penerimaan hadiah lomba rebana. Pukul lima sore, acara ditutup sementara untuk istirahat.

Acara Haul dan Kirab mbah Among Rogojati masih berlanjut malam harinya dengan pengajian umum Habib Nizar. Warga yang sejak pagi sangat antusias dengan acara ini, makin ramai mendatangi tempat acara di sepanjang jalan bale desa menuju makam Mbah Among. Ribuan jamaah mengunjungi pengajian umum. Habib Nizar naik ke mimbar sekitar jam sepuluh malam, dan ditutup jelang tengah malam.

Acara Haul Mbah Among tahun ini memang sangat meriah. Semua warga puas dan menginginkan untuk diadakan kembali tahun-tahun berikutnya sebagai even tahunan. Panitia sendiri menyambut baik dan siap bekerja kembali tahun depan dengan terus memperbaiki kekurangan-kekurangan yang masih ada pada tahun ini. Seperti kurangnya koordinasi dengan kelompok tahlil, yang membuat beberapa RT kekurangan personel dalam membuat gunungan. Hal ini dikarenakan kelompok tahlil tidak selalu satu RT.
 
Sukses untuk desa Cikadu dalam melestarikan warisan budaya leluhur.
***

foto: dok. pribadi 
tahlil tujuh malam berturut-turut di makam Mbah Among

Makam Mbah Among setelah dipugar tahun 2016

Makam Mbah Among sebelum dipugar
Kirab klambu dan siraman benda pusaka
lomba rebana
08 Juni 2019

Presiden Tak Kenakan Batik Parang Di Keraton Yogyakarta

Ada yang menarik dalam kunjungan silaturahim Pak Presiden kali ini. Ya. Pak Presiden tidak mengenakan batik parang dalam acara di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Yang sebenarnya, jaman sekarang ini, pembicaraan mengenai apapun yang dikenakan orang-orang terkenal di negeri ini, selalu menjadi hal menarik. Termasuk oleh Pak Presiden.
 
Sering mengenakan kemeja batik dalam berbagai acara, pada acara ini Pak Jokowi pun mengenakan kemeja batik. Namun bukan batik parang.
 
Batik parang memang termasuk batik larangan yang hanya boleh dikenakan oleh raja / para sentana di dalam kompleks keraton. Dalam hal ini, Pak Jokowi menghormati adab meski beliau menjabat sebagai presiden.
 
Penetapan larangan motif parang tertuang sejak dulu, yaitu tahun 1927 pada masa pemerintahan HB VIII. Penetapannya masuk dalam Rijksblad van Djokjakarta dan masuk dalam hukum formal.
 
Acara yang diadakan pada hari Jumat, 7 Juni 2019 ini disambut langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dan keluarga besar keraton.

Dalam akun media sosialnya, Bima W menggarisbawahi tiga batik yang terlihat dalam foto kunjungan dan silaturahim ini.
 

1. Pak Jokowi


Terlihat dalam gambar Pak Jokowi mengenakan motif Sawunggaling. Batik Sawunggaling sempat viral beberapa hari lalu karena dipakai sebagai penutup jenazah Bu Ani Yudhoyono dan dipakai sebagai seragaman keluarga Pak SBY.

Batik Sawunggaling merupakan motif batik daerah pesisir dengan ciri khasnya burung phoenix, percampuran budaya Tionghoa-Jawa. Versi lain mengatakan unggas dalam batik sawunggaling sebenarnya adalah ayam jago dan bukan burung phoenix.

Makna burung phoenix menggambarkan perantara jenazah menuju syurga.

Selain versi motif berciri ikon burung terstilisasi itu diadopsi dari phoenix dalam kultur Tionghoa, makna Sawunggaling dalam versi Jawa yang merujuk pada ayam jago, juga merujuk pada legenda Sawunggaling khas Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Hasil pencarian dari m.liputan6.com, disebutkan bahwa dalam buku "Batik dan Membatik" karya Chandra Irawan Soekanto, batik Sawunggaling menggambarkan pertarungan dua burung Gurda. Gurda berasal dari kata Garuda.

Dalam cerita-cerita rakyat Indonesia, burung Garuda adalah burung yang sangat kuasa dan kuat dan dapat mengalahkan manusia. Dengan begitu, motif Gurda ini menggambarkan kegagahan dan keberanian.

Dalam buku Jawa Sejati: Sebuah Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro karya Rustopo, Sawunggaling diketahui adalah nama tokoh heroik dalam cerita rakyat Jawa Timur. Ia dikenal sebagai pembela rakyat jelata memerangi penjajah Belanda.

Motif Sawunggaling karya Go Tik Swan termasuk motif baru dalam periodisasi batik. Namun bisa ditafsirkan multitafsir perihal unggas dalam motifnya. Ikon binatang seperti burung, ikan, udang, dll, yang berukuran besar agaknya dahulu dikhususkan pula untuk dikenakan raja dan keluarganya dalam suasana non formal.

2. Sri Sultan Hamengkubuwono X


Sultan Ngayogyakarta dalam acara ini mengenakan batik parang pada bagian atas yang dikombinasi motif batiknya. Sangat pas dikenakan oleh raja dalam suasana non formal.

3. Mantu dalem yang pertama 

 

(sebelah kiri - mengenakan kacamata) terlihat menggunakan motif batik parang rusak. Hal ini tidak melanggar norma adab batik keraton.


 
kunjungan presiden ke keraton Yogya H+3 lebaran, 7 Juni 2019








presiden saat upacara Hari Pancasila 1 Juni 2019 kenakan batik parang
Keluarga Pak SBY tanpa Bu Ani, gunakan seragam motif Sawunggaling

Perihal motif batik, Pak Jokowi mengenakan batik motif parang besar saat upacara Hari Pancasila 1 Juni 2019. Saat itu, beliau juga memakai Beskap Langenharjan.

Istilah Beskap diperkenalkan oleh Mangkunegara IV (1811-1881), yaitu mengubah rokkie (jas model barat) menjadi busana baru bercorak Jawa ketika dipadukan dengan batik.

Beskap diperkenalkan tahun 1871 saat MN IX menghadiri undangan PB IX di Pesanggrahan Langenharjo. Karena Beskap ini digunakan di Langenharjo, maka sebutan beskap ini adalah Beskap Langenharjan.

Kata beskap sendiri disarikan dari bahasa Belanda yaitu beschaafd yang artinya beradab.
Kata beskap mengindikasikan citra tinggi masyarakat kota yang membedakan dengan masyarakat desa yang dianggap lebih beradab (beschaafd). Itulah yang digambarkan masyarakat di perkotaan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

salah satu buku referensi tentang batik

Demikian ulasan mengenai batik yang dikenakan oleh Pak Jokowi kali ini. 

Jelas, saya bukan ahli batik maupun budaya. Namun, tak ada salahnya saling sharing mengenai hal ini.

Jika bukan kita yang nguri-uri budaya adiluhung babad Jawa, maka siapa lagi? Kalau sudah diklaim negara tetangga, marah-marah. 

Biasanya begitu. Betul?
31 Januari 2019

Simbol OK, Ternyata ....


Ingat simbol ini? Tiga anak cukup? Oke oce?

Cukup familiar ya, karena beberapa waktu lalu digunakan oleh sepasang gubernur n wakilnya yg sekarang sudah menjabat (dan wakilnya mundur untuk jadi calon lagi), utk berkampanye. Kita pun sering menggunakannya saat foto selfi, niatnya sih, biar ngga dikira kampanye capres, karena kan capres kita cuma dua pasang, hehe.

Ternyata, gestur ini tidak semuanya diartikan baik lho. Di Perancis justru menyimbolkan nol / kosong/ non sens.

Tahukah kamu asal simbol yg lebih dikenal sebagai pengganti kata "OK" dan "baiklah" ini?

Nah, di bawah ini saya rangkum dari berbagai sumber, buat pengetahuan ya...

1. Beberapa orang percaya gestur ini merupakan visual singkatan Old Kinderhook, NY, tempat kelahiran Presiden Amerika ke -8 Martin Van Buren. Sepanjang kampanye pemilu, ia banyak menyimbolkan OK dalam gestur sepeti ini.

2. Hipotesis lain terkait Presiden Amerika ke-7 Andrew Jackson, yg menggunakan gestur ini untuk memantapkan keputusan. Ia sering menuliskan "benar semua" (all correct) dalam cara jermal Oll Korrect disingkat OK.

3. Teori lain lahirnya gestur OK adalah MUDRA, sebuah gestur ritual agama Budha dan Hindu. Tanda ini menyimbolkan pembelajaran. Banyak karya seni/patung Buddhist menggambarkan Budha melakukan gestur ini.

Nah, sekarang kita tau asal muasal simbol ini. Jadi, kalo mau ikut2an, minimal kita tau lah dan bisa ngejawab dikit-dikit. Siapa tahu ada yang nanya, ya ngga?