17 Februari 2017

Sebutan Bagi Nenek Moyang Dalam Masyarakat Jawa

Tags

sebutan nenek moyang Jawa tujuh turunan



Sering muncul baik dalam cerita maupun obrolan sehari2 istilah "tujuh turunan". Misalnya dalam kalimat cerita rakyat atau legenda ada kalimat : "Kekayaannya berlimpah ruah dan tak akan habis hingga tujuh turunan."

Bahkan ada iklan yang sangat menggelitik dari sebuah jasa provider telepon selular, yang menggambarkan seseorang yang bangga dengan kekayaan melimpah dari nenek moyangnya hingga keturunan ketujuh. Ending-nya, ia tak menjadi kaya seperti para pendahulunya 'hanya' karena ia keturunan ke-delapan.

Sebenarnya ada sebutan bagi setiap level keturunan dalam trah Jawa. Lalu apa sebutan bagi keturunan ketujuh?

Berikut ini urut-urutan keturunan dan leluhur hingga ke urutan 18

--------"TRAH JAWA"---------



Urutan ke atas


Moyang ke-18 Eyang Trah Tumerah
Moyang ke-17 Eyang Menyo -menyo
Moyang ke-16 Eyang Menyaman
Moyang ke-15 Eyang Ampleng
Moyang ke-14 Eyang Cumpleng
Moyang ke-13 Eyang Giyeng
Moyang ke-12 Eyang Cendheng
Moyang ke-11 Eyang Gropak Waton
Moyang ke-10 Eyang Galih Asem
Moyang ke-9 Eyang Debog Bosok
Moyang ke-8 Eyang Gropak Senthe
Moyang ke-7 Eyang Gantung Siwur
Moyang ke-6 Eyang Udheg-udheg
Moyang ke-5 Eyang Wareng
Moyang ke-4 Eyang Canggah
Moyang ke-3 Eyang Buyut
Moyang ke-2 Eyang dalam bahasa Indonesia disebut kakek dan nenek.
Moyang ke-1 Bapak / ibu


-----DALAM POSISI KITA ------



Urutan Ke bawah


Keturunan ke-1 Anak
Keturunan ke-2 Putu
Keturunan ke-3 Buyut
Keturunan ke-4 Canggah
Keturunan ke-5 Wareng
Keturunan ke-6 Udhek-udhek
Keturunan ke-7 Gantung siwur
Keturunan ke-8 Gropak Senthe
Keturunan ke-9 Debog Bosok
Keturunan ke-10 Galih Asem
Keturunan ke-11 Gropak waton
Keturunan ke-12 Cendheng
Keturunan ke-13 Giyeng
Keturunan ke-14 Cumpleng
Keturunan ke-15 Ampleng
Keturunan ke-16 Menyaman
Keturunan ke-17 Menyo-menyo
Keturunan ke-18 Tumerah.

Nah, itu dia sebutan bagi nenek moyang dalam masyarakat Jawa.
Silakan disimpan, karena nama-nama silsilah keturunan seperti ini termasuk warisan budaya.

Blog about fashion, beauty, and culture

21 komentar:

  1. Ya ampun, keren ya ada namanya sampe 18 atas dan 18 bawah
    Skrg ni yg hidup sampai canggah aja udah langka hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling sampai buyut saja sudah alhamdulillah ya mas.

      Sebutan ini berguna untuk memanggil saudara jauh yang masih satu keturunan, biasanya, agar unggah-ungguh tetap sesuai umur dalam keluarga.

      Hapus
  2. pernah belajar ini juga dulu pas pelajaran bahasa Jawa. Tapi dulu hapalnya cuma sampai keturunan ke tujuh. Ternyata sampai level 18 ya

    BalasHapus
  3. Waduh, panjang amat ya ternyata di Jawa. Kalau di Sunda juga ada istilahnya pancakaki. Dulu waktu sekolah inget harus ngapalin: anak, incu, buyut, bao, janggawareng, kaitsiwur. Terus kalau ke atas ada bapa, indung, aki, nini, buyut, bao, janggawareng, kaitsiwur. Hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak mirip ya sunda dan jawa.
      Orang Jawa biasanya lebih cepat belajar bahasa Sunda, tapi kalau orang Sunda katanya suka kesulitan belajar bahasa Jawa.

      Hapus
  4. Ahh iyaaa, aku juga baru tahu istilah2 semacam ini
    Makasii sharing-nya ya Kak
    Sungguh bikin kita makin cinta budaya negeri sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget-banget.
      Jangan sampai kemajuan zaman membuat kita lupa dengan akar budaya luhur bangsa ini.

      Hapus
  5. Waduh ... Ada nama silsilah sampe 18 keatas dan sampe 18 kebawah, keren banget nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dilestarikan mbak.
      Itulah bedanya budaya timur dan barat.

      Hapus
  6. wow, informatif banget mbak artikel karena saya bukan dari Jawa, jadi tau deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau orang Minahasa ada sebutan seperti ini juga kah? Bolehlah sharing juga mbak.

      Hapus
  7. Ternyata dalam trah Jawa sebutan moyang dan kebawahnya hingga turunan ke 18 ternyata. Saya ngiranya hanya hingga 7 seperti yg disebut2 tujuh turunan.
    Makasih infonya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak.
      Ini tujuh turunan plus plus brati ya. Hehe

      Hapus
  8. Wah, sampai 18 turunan, ya. Saya hanya tahu 7 turunan. Kalau sedang hapal ya hapal.. kalau lupa ya lupa. Hihihihi.
    Kira-kira... 100 tahun lagi, apakah ada sebutan untuk turunan baru, misalnya 24, gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah mbak.
      Ini aja udah jarang banget yang tau. Makanya saya tulis dan share sebagai pengingat diri saya pribadi dan mudah-mudahan ada manfaat untuk pembaca.

      Hapus
  9. Ada tambahan mbak Lasmi, menurut ortu dan eyangku, panggilan eyang untuk mereka yang berdarah biru
    Sedangkan kaum proletar manggil nenek kakek dengan simbah

    Demikian juga panggilan ibu bapak hanya untuk bangsawan, Wong cilik manggil simbok untuk Ibu,
    untuk bapak? Saya lupa 😁😁😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi mbak.
      Karena zaman dahulu masyarakat terkotak-kotak menurut status / strata sosial.

      Kalau sekarang sudah lebih merata dan tak terlalu terlihat kesenjangannya.

      Hapus
  10. waduh malu saya, sebagai orang Jawa, baru ngerti istilahnya sampai wareng doang. Itupun gak ngerti nama Eyang Wareng saya siapa

    BalasHapus
  11. Berasa belajar pelajaran Bahasa Jawa mbak hehe. Aku pernah tahu tapi kayaknya berhenti canggah aja hehe :D
    Makasih pengetahuannya :D

    BalasHapus
  12. Wah, lengkap info sebutan bagi nenek moyang orang Jawa. Makasih sudah diingatkan
    Di keluargaku manggilnya Mbah bukan Eyang. Kalau di keluarga suami manggil Eyang

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.