Pesona Watu Sewidak, Batu Sebesar Gunung

Saat saya memasang foto prewedding ini di media sosial, banyak yang bertanya di mana lokasi kami mengambil gambar. Mereka semua bilang selain pemandangannya indah, tempatnya asri dan sejuk. Setelah postingan ini diunggah pada bulan Desember 2017, setidaknya sudah tiga kali lagi kami melakukan foto prewedding di tempat yang sama.

Sebenarnya, bisa dibilang kami hanya melakukan pemotretan di 'belakang rumah'. Karena lokasinya memang tak jauh dari rumah saya.

Tempat ini dinamai Kedung Watu Sewidak oleh penduduk Desa Cikadu, Watukumpul, Pemalang, sebuah desa kecil tempat saya tinggal. Kedung artinya sungai yang dalam. Watu artinya batu, sedangkan sewidak berarti enam puluh. Jika digabung, Kedung Watu Sewidak diartikan sebagai sungai yang dalam dengan batu berjumlah enam puluh. Apa iya ya? Hehe....

Tempat ini ya, Sist, meski terlihat kecil dan sempit dari kejauhan, sebenarnya sangat luas. Airnya jernih. Masyarakat sekitar lokasi masih sering menggunakannya untuk MCK. Beberapa batu besar yang saling berhimpit, membentuk aliran air sungai yang menyerupai air terjun. Indah dipandang mata.


hasil foto diunggah sosmed
behind the scene, gaunnya bikin ribet

 

ASAL USUL WATU SEWIDAK 

 

Kedung Watu Sewidak dari jalan masuk

 
Watu Sewidak dari dekat


Saya perlu bertanya lebih dulu pada orang-orang tua mengenai asal usul nama tempat ini. Dari bapak saya, saya mendapat fakta lain yang berbeda. Ternyata, nama asalnya bukan Watu Sewidak, melainkan Watu Se-wit-dok. Dulunya, ada pohon Dok (sejenis pohon kayu yang bisa tumbuh sangat besar) di tempat ini. Nah, batu-batu besar di sana di sebut sebagai watu se-wit dok, yang artinya batu sebesar pohon Dok. Beda jauh ya dengan nama yang kini dikenal masyarakat luas?

Wit Dok-nya sendiri sudah tak ada lagi di tempat ini. Hanyut terbawa arus deras sungai jika banjir datang. Konon, di tempat ini ada penunggu yang melindungi yaitu seekor ular naga raksasa. Besar ular ini sebesar wit dok. Dan sekarang lidah masyarakat lebih mudah mengucap Watu Sewidak saja.

Tapi sudahlah. Apalah arti sebuah nama, kata Shakesphere (benar begini, penulisannya? Yah, apalah arti nama Shakesphere). Yang jelas, tempat ini sekarang bernama Kedung Watu Sewidak. Walau jelas batu-batu di sana berjumlah lebih dari enam puluh buah. Letak batu-batu ini sudah banyak berubah jika dibandingkan saat saya kecil dulu. Batu-batu itu mungkin bergeser karena terkena terjangan banjir besar yang kerap terjadi di musim penghujan. Mungkin, jumlah batu-batu pun ikut terpengaruh dengan adanya perubahan tata letak bebatuan tersebut.

UNIK


Keunikan Watu Sewidak ada pada bebatuannya. Selain ukuran yang sangat besar, jenis batu ini pun berbeda dengan batu-batu lain sepanjang sungai Polaga. Jika umumnya batu-batu lain berbentuk solid dan halus, batu-batu di tempat ini menyerupai gumpalan besar batu yang terbuat dari bebatuan kecil yang membuat permukaannya kasar.

Banyak mahasiswa bidang ilmu alam dan geologi yang mempelajari jenis batu tersebut. Hasilnya, menurut mereka jenis bebatuan ini kemungkinan besar adalah bentukan dari gumpalan lahar panas dari dalam perut bumi jutaan tahun lalu. Batu yang menyerupai bebatuan sejenis, umumnya berada di tempat yang tak jauh dari gunung berapi. Hal ini sungguh aneh karena tidak ada gunung berapi yang berada dekat dengan kampung ini.


BEHIND THE SCENE


Foto prewedding yang saya unggah ini sendiri sebenarnya bukan prewedding sungguhan. Calon pengantin sungguhan yang sedang melakukan prewedding tidak ingin fotonya disebarluaskan. So, kami pun mengajak seorang model untuk melakukan foto pula.

Nah, hari itu, saya bersama dua orang asisten Fitri dan Emmy, seorang model bernama Ulfa, fotografer langganan Mas Triyan, serta Mas Jo yang membantu mengatur semuanya, serta dua orang calon pengantin mempelai putra dan putri, pergi ke Kedung Watu Sewidak. Tak perlu mobil, kami berjalan kaki untuk mencapai lokasi.

Jauh kah? Untuk saya yang menghabiskan masa kecil hampir tiap minggu datang ke tempat ini, tentu saja tidak terlalu jauh. Tapi bagi dua calon mempelai saya yang datang dari kampung tetangga, rupanya cukup menguras tenaga. Kami memutuskan sebagian menggunakan sepeda motor hingga separuh jalan. Toh, lama perjalanan tetap sama dengan saya yang berjalan kaki melalui jalan tikus.

Setelah dipoles secukupnya dan bersiap, dua calon pengantin melakukan serangkaian pengambilan gambar oleh fotografer. Beberapa pose diambil di titik-titik yang dirasa 'strategis' (sepertinya strategis semua) Setelah itu mereka berganti kostum dan kembali diambil gambarnya.

Cukup lama, karena rupanya dua capeng ini tak terbiasa berpose dengan ditonton oleh kami para kru. Fotografer harus mengarahkan gaya berulangkali agar mendapat sudut gambar yang benar-benar tepat dan luwes. Kesan alami agak sulit didapat karena capeng terlihat canggung. Untunglah kami terbiasa melakukan hal ini dan bisa mengatasinya. Kesulitan seperti ini memang kerap terjadi.
make up di tempat

SELALU BIKIN KANGEN


Hari makin terik. Selesai dengan prewedding calon pengantin sungguhan, saya memoles model untuk diambil beberapa gambar dengan gaun panjang. Foto ini khusus untuk diunggah di media sosial.

Tak perlu waktu lama, beberapa foto berhasil diambil dengan sangat cantik. Ulfa, gadis belia bertinggi 168 cm yang biasa saya gandeng sebagai model dalam event perlombaan, sudah semakin akrab dengan kamera. Kami memenangkan piala pada lomba make up yang diadakan TUK Kartika Sari di Pemalang sebelumnya. Mungkin karena inilah Ulfa belajar banyak untuk berpose layaknya model profesional.

Di sela pemotretan, kami membuka bekal yang sudah dipersiapkan dari rumah. Ada buah, kue bandros, biskuit, pisang, dan minuman ringan. Pemotretan menjadi segar dengan selingan gelak tawa dan canda yang mengakrabkan suasana.

Tak terasa, matahari mulai menuju ke barat. Lewat tengah hari, kami mengemasi properti dan kostum yang dibawa dari rumah dan segera pulang. Kamipun kembali ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan yang indah.

Kedung Watu Sewidak memang selalu bikin kangen untuk kembali datang. Ada yang mau ke sana juga? Mari saya antar. Mampir saja ke Rumah Tsabita yang berada tepat di samping Masjid Al-Istigfar Cikadu. Kita bisa ke sana sama-sama.***

Foto: dok. Rumah Tsabita
 
all crews



proses pengambilan gambar

dari bawah membentuk siluet dramatis

Blog about fashion, beauty, and culture

2 comments:

  1. Keren prewednya..
    Di alam bebas gitu..
    Pemandangannya bagus pula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu foto tiga tahun yang lalu.

      Sekarang tempat ini sedang dalam proses 'dipoles' oleh warga masyarakat beserta pemerintah desa. Nantinya akan dikelola lebih serius sebagai obyek wisata komersil yang bisa menambah pendapatan desa serta meningkatkan perekokomian masy.

      Delete