Pakaian Seharga Jutaan, Mahal Atau Murah?

Tags

Standar harga pakaian setiap orang pasti berbeda satu dengan yang lain. Pakaian yang menurut Si A mahal mungkin murah saja bagi Si B. Begitu pula sebaliknya. Pakaian yang menurut saya murah, bisa jadi terasa mahal bagi kalian, karena kita beda standar, betul? Wkwkw .... Lol.

Nah, dua merek ini membandrol harga jutaan untuk setiap produknya. Saya pilihkan contoh produk pakaian wanita saja dulu ya, yang pastinya sudah tidak asing bagi pecinta fashion.

G2000


Serius! Kalau harga pakaian tolak ukurnya hanyalah cutting yang rumit, maka merek ini seharusnya membandrol produknya murah saja. Kenyataannya, merek ini memasang harga jutaan untuk pakaian yang simpel-simpel seperti ini.

G2000 yang diimpor dan dipasarkan oleh PT Trisula International Tbk (TRIS) sebagai pemegang lisensi bersama dengan merek lain seperti Man Club, Jack Niclaus, Bonds, dan JOBB, membandrol harga kisaran Rp 1.500.000,- hingga 3 jutaan.

Modelnya? Simpel klasik.

Apakah harga itu termasuk mahal? Tergantung.

Pastinya merek tersebut membidik pasar menengah ke atas, tapi tidak terlalu high-end, dengan sasaran income Rp 10 - 15 juta per bulan.

Kalau kamu merasa harga tersebut normal saja, artinya kamu termasuk pangsa pasar merek ini.

Oh, ya, G2000 menyediakan mens wear juga ya, untuk kalian para cowok urban milenial yang ingin tampil 'lebih'. Outlet merek ternama ini bisa kalian temukan di Mall Taman Anggrek dan Mall Alam Sutera.

Simpel kan? Mirip daster
Harganya Rp 1.699.000,-

 

Peachespinkish


Nah, merek ini khusus menyediakan pakaian untuk para cewek yang pastinya cewek banget! Showroom-nya terletak di bilangan Kelapa Gading Jakarta. Produk-produk Peachespinkish antara lain juga tersedia di METRO Departemen Store Indonesia dan SOGO Pakuwon Mall.

Modelnya hampir semuanya pakaian pesta yang minimalis elegan. Kualitas, pasti premium.

Harganya? Setali tiga uang, harga produk ini berkisar antara Rp 1.800.000,- sampai 4 jutaan per item. Mahal? Kalau kamu merasa pakaian merek Peachespinkish mahal, artinya kamu bukan pangsa pasarnya. See?

Bagi penjahit, model seperti ini sangat simpel pembuatannya
Blazer Balero ini harganya Rp 2.800.000,-

 

HITUNG MODAL


Sejujurnya, sebagai penjahit, saya geregetan jika menemukan model pakaian sesimpel itu membandrol harga jutaan. Tentu karena saya bisa membuatnya sendiri. Rasanya sayang membeli pakaian tersebut walau mungkin sanggup.

Taruhlah saya tahu harga bahannya, saya tahu tingkat kesulitan pengerjaan (yang sekali lihat saja sudah terbayang bagaimana membuatnya), saya tahu harga aksesoris tambahan, jasa, dll. Namun kembali lagi, saya tidak bisa menggunakan standar harga saya untuk menilai sebuah produk.

Ada banyak hal yang menjadi penentu sebuah harga produk. Apa sajakah itu?
  1. Orisinalitas desain (ini yang utama),
  2. Brand (banyak orang lebih mengutamakan brand di atas segalanya, bagaimanapun 'wujud' produknya)
  3. Loyalitas (ini disadari benar oleh pemilik brand untuk selalu menjaga kualitas agar tak mengecewakan pelanggan)
  4. Quality control (related dengan option sebelumnya)
  5. Biaya pembuatan (meliputi jasa pola/pattern, jasa potong, jasa jahit hingga finishing)
  6. Pengadaan bahan baku (termasuk bahan, aksesoris, alat jahit)
  7. Biaya lain-lain (distribusi, sewa outlet/gerai, operasional, karyawan, biaya penyusutan, dll)
Baca juga: Heboh Mukena Syahrini 3,5 Juta: Kekuatan Brand
 
Yess, benar, setiap produk akan menemukan pelanggannya. Namun setiap produsen (baca: penjahit) harus melihat nilai lebih semua produk secara keseluruhan lebih dulu agar tepat mengena pasaran.

Jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya harga memang harus seimbang dengan kualitasnya, sih. Baik kualitas pelayanan maupun kualitas produk.

Nah, sebagai pecinta fashion, kamu mau jadi produsen, konsumen, atau cukup menganalisa dulu, seperti saya, sebelum melangkah lebih jauh?***

Blog tentang fashion, beauty, dan budaya

No comments:

Post a Comment