Ada Apa Dengan Paijo

Tags


Paijo Paijo ditinggalke bojone
Jarene rak kuat ngragati wedak pupure
Paijo mumet ndase, ditinggal bojone
Minggat dadi TKW, jare ben akeh duite
Paijo loro ati, disirek bojone
Jarene orak kuat, ngragati wedak pupure


(Paijo Paijo ditinggalkan istrinya
Katanya tak kuat membiayai make up-nya
Pajio sakit kepala, ditinggal istrinya
Pergi menjadi TKW, katanya agar banyak uang
Paijo sakit hati, dimusuhi oleh istrinya
Katanya karena tak kuat membiayai make up-nya)
***

Agustus telah berlalu. Gegap gempita perayaan kemerdekaan usai sudah. Ada satu lagu yang akhir-akhir ini nge-hits gara-gara sering dijadikan musik latar kreasi dance modern oleh anak-anak dan remaja di pentas-pentas panggung gembira.

Lagu itu berjudul Paijo dan dinyanyikan oleh Zaskia Gotik. Setidaknya di kampung saya, lagu ini ditampilkan sebanyak empat kali di empat even terpisah panggung gembira, plus satu kali ditampilkan saat pensi dan acara api unggun kemah Perjusa di SMP. Lagu ini berhasil menggeser pamor lagu Syantik-nya Siti Badriyah.

Seperti juga bentuk kesenian lain, lagu dan musik selalu bisa dijadikan salah satu media kritik sosial. Terlepas dari goyangan atau gerakan dance kreasi yang beraneka rupa, lirik lagu Paijo rupanya sarat pesan.

ISI LAGU PAIJO


Lagu ini menceritakan tentang Paijo yang ditinggalkan istrinya. Penyebabnya karena sang Istri merasa Paijo tak mampu membiayai biaya hidup rumah tangga. Secara spesifik, make up (wedak pupur) disebutkan sebagai perlambang kebutuhan hidup zaman sekarang.

Tak main-main, istri Paijo pergi mencari pekerjaan ke luar negeri sebagai TKW. Tujuannya, lak lain agar bisa hidup berkecukupan. Di tengah masyarakat, Paijo menjadi bahan omongan. Tetangga menganggapnya sebagai lelaki yang menyia-nyiakan istri.
 
Sist, sebagai perempuan, apa sih, yang terbersit dalam kepala kalian saat mendengar lagu ini? Kamu termasuk kelompok yang mana:
  1. Hepi-hepi saja menikmati hentakan musik dan bergoyang tanpa menyimak liriknya.
  2. Menyimak lirik dan menertawakan nasib Paijo.
  3. Menyimak lirik dan tersindir karena mengalami hal yang sama.
  4. Miris, ternyata ironi kehidupan rumah tangga kebanyakan orang digambarkan seperti ini.

Sebenarnya, isi lagu Paijo sangat klasik, yaitu masalah ekonomi rumah tangga. Rumah tangga manapun, kapanpun, di manapun, sejak zaman dahulu hingga masa yang akan datang, akan selalu dihadapkan pada masalah ekonomi rumah tangga.
 
Siapa yang tak ingin kehidupan rumah tangganya berkecukupan? Semua orang ingin memiliki kondisi ekonomi yang mapan secara finansial. Bagiamanapun, kemapanan finansial berkaitan erat dengan 'stabilitas' rumah tangga.

Jika kalian jadi istri Paijo, apa kalian juga akan meninggalkannya karena ia belum mampu membiayai hidup?

Paijo digambarkan sebagai suami tak bertanggung jawab. Kerjanya sehari-hari hanya luntang lantung, tak peduli istrinya di rumah belum makan, belum ada beras dan lauk untuk dimasak. Lupa jika dulu pernah berjanji akan membahagiakan istri. Bekerja pun tidak, boro-boro mampu membelikan make up.

BERKAITAN DENGAN USIA PERNIKAHAN?


Wedak pupur. Make up.
Se-receh itukah penyebab perpecahan dalam rumah tangga?

Mungkin, pada usia pernikahan yang masih baru, tahun-tahun awal pernikahan,  masalah keuangan akan cenderung memengaruhi keputusan seseorang terhadap pasangannya. Ia yang sebelumnya dijamin semua kebutuhan oleh orang tua, tiba-tiba harus menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi pasangan. Saat berumah tangga, perempuan tak bisa lagi seenaknya sendiri membelanjakan uang. Ia harus me-manage pengeluaran dan pemasukan. Ia pun harus memikirkan prioritas pemenuhan kebutuhan.

Bagi yang sudah terbiasa mengatur uang saku yang diberikan orang tua, mungkin tak begitu kaget dengan pengaturan keuangan rumah tangga. Namun, banyak perempuan yang belum memiliki keterampilan ini. Saat kondisi keuangan makin sulit, sering terlintas keinginan untuk berpisah. Ya, seperti istri Paijo ini.

Memasuki tahun ketiga sampai ketujuh usia pernikahan, pola pikir kita pun bertambah. Selalu ada resiko dengan segala keputusan yang diambil. Pilihan kita hanya ada dua, bertahan atau berpisah. Jika bertahan, akan ada konsekunsinya. Berpisah pun demikian pula, sama besar resikonya. Sudah ada anak yang menjadi pertimbangan agar tak gegabah mengambil keputusan.

Di atas tahun ketujuh pernikahan, kestabilan emosi dan kedewasaan mulai memimpin tindakan. Segala sesuatu dilihat dari berbagai sudut pandang. Apa saja keuntungan dan kerugian jika melakukan suatu hal. Artinya, memilih bertahan dengan pasangan ataupun berpisah, ia harus bertanggung jawab dengan kehidupannya sendiri maupun buah hati.

MENGAPA MAKE UP


Yang saya pertanyakan, mengapa lagu ini harus mengangkat wedak pupur (make up)?
 
Tak bisa dipungkiri, kebutuhan perempuan untuk tampil cantik sering dijadikan senjata untuk menuntut pemenuhan kecukupan jatah uang pada suami. Alasannya, tentu agar para istri tak kalah cantik dengan perempuan-perempuan di luar sana.
 
Iya, sih. Tak ada yang salah dengan make up. Saya pun perempuan. Saya senang ber-make up. Lebih dari sekedar tampil cantik di hadapan suami, saat ber-make up, perempuan merasa senang karena bisa menghargai diri sendiri. Ia merawat anugerah yang Tuhan berikan, salah satunya dengan berdandan.
 
Jika bukan dirinya sendiri, siapa yang paling bisa menyayangi diri ini? Tak jadi soal dengan pandangan orang. Nah, yang jadi soal adalah ketika kebutuhan ber-make up perempuan (baca: istri) bukan membawa kebaikan bagi rumah tangga, namun justru membawa keburukan. Membebani suami, misalnya.

SOLUSI: KERJA


Menyadari tak bisa lepas dari kebutuhan make up (juga kebutuhan rumah tangga lain, tentu saja) saya mulai berpikir untuk tidak membebani suami. Saya pun mulai mencari pemasukan tambahan. Kerja dari rumah yang menghasilkan tanpa meninggalkan tanggung jawab sebagai istri dan ibu, misalnya.

Rupanya, lagu Paijo pun menawarkan solusi, yaitu bekerja menjadi TKW. Apa yang salah dengan menjadi TKW? Menurut saya, tak ada salahnya bekerja ke luar negeri menjadi TKW sepanjang hal ini sudah dibicarakan bersama pasangan. Jika memang satu-satunya solusi mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga mengharuskan istri bekerja jauh dari rumah, mengapa tidak? Asal suami ridho, ya kan?

Para suami pada dasarnya tidak ingin istrinya bekerja. Suami yang baik ingin istrinya cukup di rumah saja merawat anak-anak dan suami tanpa disibukkan dengan pekerjaan. Namun, jika kondisi suami malas bekerja seperti Paijo ini, tak ada pilihan lain bagi istri untuk bekerja.

Harapannya, dengan melihat istrinya bekerja keras, suami akan tergerak untuk giat bekerja pula. Support paling baik untuk seorang suami, kadang bukan dengan kata-kata. Melainkan dengan tindakan nyata.
Dalam tulisan-tulisan random yang saya tulis, saya rajin menyelipkan ajakan bagi istri-istri untuk bekerja. Sayartnya, tentu harus dengan izin dari suami agar mendapat ridho ya. Tak lain karena saya pun merasakan apa yang istri Paijo rasakan itu. Ingin hidup enak, mapan, kebutuhan lahir batin tercukupi. Tapi, menuntut semua kebutuhan harus dicukupi oleh suami pun bukan hal baik.

Daripada hanya menuntut, bagaimana jika kita bantu para suami saja? Mari bekerja! Sebab sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada suami. Yuk, sedekah!

Blog about fashion, beauty, and culture

4 comments:

  1. lagunya enak sih mbak ya, di tempatku lagu ini dipakai ibu2 lansia untuk lomba senam..., dapat juara dua he.. he...
    iya problem rumah tangga yang diawali dengan kesulitan ekonomi juga banyak ditemukan di sekitar,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Asyik buat latar senam atau dance. Tapi sebagai pencinta wedak pupur saya baper sendiri denger liriknya. Hehe

      Delete
  2. Kata teman, cinta dalam pwrnikaha hanya 3 tahun. Selebihnya komitmen.

    Nah make up bisa jadi alasan yg dapat melunturkan komitmen. Kayaknya sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau justru menguatkan.
      Tergantung bagaimana memperlakukan make up, seperti itu pula dampaknya bagi rumah tangga. Tidak hanya make up, apapun sebenarnya bisa menguatkan maupun melemahkan komitmen rumah tangga.

      Delete