20 Desember 2021

Blush Brush

Tags

 

Cerpen Lasmicika


"Aku ingin saat kita bertemu lagi suatu hari dan kau bertanya, 'kenapa cowok sepertimu masih saja menyimpan blush brush buluk itu?' Lalu akan kujawab, 'karena benda ini mengingatkanku pada semburat pipimu, sekaligus pedih luka hatimu, karena harus memiliki 'cowok' seperti aku.'"  

--------------------------------------------- 


Kubuka pintu kamar. Ada ratusan mawar merah di sana. Satu nama muncul di benakku. Mawar, bukan nama sebenarnya. 


Ini cerita tentang masa laluku bersama Mawar, sebab masa depanku bukan dengannya melainkan dengan gadis yang kini terbaring dalam benaman keping-keping mahkota bunga mawar merah yang mengharum pada ranjang pengantin di depan sana. Melati, nama asli istriku. Anak seorang komandan polisi di kotaku. 


**

Kau pernah mendengar cerita tentang seseorang yang pura-pura tuli seumur hidup demi menyelamatkan harga diri seorang penjual yang kentut sedemikian keras di depannya, agar penjual itu tidak malu? 


Beliau adalah orang yang saleh. 


Aku juga termasuk anak yang saleh. 


Jika orang saleh itu pura-pura tuli, maka aku pura-pura mendengar, tapi tujuannya sama, menyelamatkan seseorang dari rasa malu, ya kan? Mungkin Papa memang malu punya anak seperti aku. 


Papa sedang menyelesaikan ritual rutinnya setiap pagi, seperti biasa; mengomeli anak laki-lakinya, aku, dengan banyak wejangan. Adikku duduk di seberang meja menghabiskan sarapannya dalam diam. Dia tahu ia perempuan. Artinya, tidak termasuk dalam rentetan omelan Papa yang diawali dengan kalimat: laki-laki macam apa kamu? 


Aku pura-pura mendengarkan. Dan tetap menjawab. "Iya, Pa." "...." "Baik, Pa." "...." "Iya, Pa."  


"Jangan hanya iya-iya saja. Tapi lakukan!" 

"Leksa ngerti, Pa." 

"Namamu Yunus. Bukan Leksa." 

Persetan. Tapi aku pura-pura mendengarkan. Leksa adalah nama julukan dari kawan-kawanku. 

"Yunus mengerti, Pa." 

Aku menghabiskan sarapan secepat yang aku bisa. Setelah berpamitan, Papa mengantar kepergian kami ke sekolah sampai pintu. Selangkah keluar dari rumah, aku sudah lupa sama sekali dengan apa saja wejangan Papa. Sejujurnya aku bahkan tidak tahu. Aku kan hanya pura-pura mendengar. Hanya sekilas, aku sempat mendengar nama Mawar, yang membuat telingaku berdiri di akhir wejangannya. 


"Jangan dekat-dekat dengan Mawar. Memangnya kamu cowok yang tidak laku sampai harus memilih Mawar jadi teman kencan?" 

Aku mengiyakan. 


* * 

Papa pasti sudah mendengar selentingan kabar perihal kedekatanku dengan 'cewek' itu. Mungkin Papa malu. Papa memang pantas malu punya anak sepertiku. Perawakanku sama sekali tidak mirip dengannya. Tubuh Papa pendek. Hanya setinggi ketiakku saja jika kami berdiri bersisian. Papa berkulit putih. Terlalu bersih untuk seorang nelayan yang berjemur siang dan malam di bawah panas matahari. 


Dulu Papa bukan nelayan. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, kami pindah rumah karena usaha Papa bangkrut. Semua aset dan properti dijual untuk menutup hutang. Hanya tersisa sedikit uang untuk dibelikan sebuah rumah kecil di tepi pantai utara di kota kelahiran Mama. 


Papa orang yang romantis. Aku sering melihat tato bergambar cupid di dada kirinya. Dulu Mama senang mengelus dada Papa yang bertato itu. 


Oh ya, kulit Mama juga putih bersih. Aku? Hitam legam khas anak pantai. 


Kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari wejangan Papa barusan. Selain soal Mawar, Papa sepertinya tidak tahu anaknya punya lebih banyak kelakuan ajaib. Buktinya, aku tidak mendengarnya menyebut-nyebut kenakalanku yang lain. Atau mungkin Papa menyebutnya, tapi aku tidak mendengar? Maksudku, aku sukses berpura-pura mendengar, kan? 


Masa bodoh. Begitu bisa keluar rumah pagi hari, artinya aku bebas melakukan banyak hal hingga malam. Toh, Papa tidak tahu. Papa kan melaut. Berhari-hari Papa akan berada di laut. 


Adikku? Ia lebih masa bodoh daripada aku sendiri semenjak meninggalnya Mama dua tahun lalu. Kalau Papa tahu bagaimana adikku di luar rumah, beliau pasti lebih malu lagi. 


 * 


Orang bilang kami berandalan nakal. Kami yang kumaksud adalah aku dan gerombolan cowok-cowok remaja pantai berjumlah sembilan orang. Yang aku tahu, kami hanya bersenang-senang. Jelang malam adalah saat di mana hari baru saja dimulai bagi kami. Kami bermain gitar dan bernyanyi sambil membakar ban bekas. Kami memukul benda apapun yang kami temukan saat menyisir pantai untuk menciptakan bunyi-bunyian berirama yang kami namakan musik pantai.


Berbagai botol minuman ringan serta makanan sumbangan dari penjual-penjual pinggir pantai yang memberi secara suka rela, menemani pesta sepanjang malam. Semua dilakukan di pinggir pantai. Begitu juga 'pesta lanjutan' jelang dini hari. Begitu api dari ban bekas padam, kami mengendap ke tepi dermaga. Perahu-perahu yang ditinggalkan pemiliknya menjadi tempat berikutnya merayakan keseruan malam. Banci-banci yang sedang beraksi memuaskan pelanggan, kami gerebeg satu persatu. Suara gaduh yang kami ciptakan membuat mereka lari terbirit-birit, meninggalkan tawa lepas dari mulut-mulut kotor kami. Tak jarang banyak benda tertinggal yang tak sempat dibawa lari. Kutang, celana dalam, bedak, lipstik, telepon genggam, kadang juga uang. 


Suatu malam aku menemukan sebuah kuas make up. Aku sedang menyisir sebuah perahu seorang diri sementara kawan-kawanku menyisir perahu lain. Ketika sedang mengamati benda asing di tangan, sudut mataku menatap sekelebat bayangan. 


"Hei! Jangan lari!" Kucekal tangannya kuat. Mataku terpana melihat sosok di depanku. Banci kah ia?


'Perempuan' itu tak berani menatapku. Ia terlihat gugup. Kutelisik sekitar. Tak ada tanda-tanda orang lain di perahu ini. Rupanya ia belum menemukan pelanggan. Kuajak ia duduk di buritan. 


Kuamati sekali lagi wajah itu. Cantik. Banci tercantik yang pernah kutemui.


"Siapa namamu?"

"Ma-mawar," jawabnya tersendat.

"Ini punyamu?" kutunjukkan kuas di tanganku.

Tangan rampingnya hendak merebut, tapi aku cukup sigap untuk berkelit.

"Apa ini namanya?" tanyaku mengulur waktu. Tiba-tiba aku begitu suka melihat tingkahnya yang blingsatan menghindari kontak mata. Ia lebih mirip perempuan sungguhan yang malu-malu. Tapi dia memang banci. Pita suaranya tak bisa menipu.

"Blush brush," jawabnya lirih. Sangat lirih, menyerupai desisan angin. Tangannya yang putih menunjuk ke arah pipi. Mungkin kuas make up ini untuk memoles sesuatu yang memerah dengan samar di pipinya.

Semilir dingin udara pantai dini hari, membawa selintas pikiran buruk: bagaimana kalau banci cantik ini kukerjai? Tapi ia terlalu manis untuk dikerjai dengan cara biasa. 

Alih-alih mengerjai, aku lebih tertarik untuk terus menggodanya. "Ini buatku. Boleh?" tanyaku.

Mata indahnya membulat, lalu gugup menyembunyikan wajah. Bulu mata palsunya melambai-lambai tertiup angin. 

"Kamu buat apa?"

"Buat mengingat kamu, dong."

Astaga! Aku menggombali seorang banci! Jika kawan-kawan seberandalan tak memanggil, mungkin aku masih di sini untuk terus menggodanya. Kulambaikan tangan dan segera mendekat, lalu kembali bergabung dengan rombongan. Kutinggalkan Mawar yang masih menatap kepergianku.


Itu perkenalan pertamaku dengan Mawar. Hari-hari berikutnya kami tetap melakukan razia yang sama setiap dini hari. Kali ini aku seperti punya tujuan: menemui Mawar. Aku ingin melihat wajah cantik ber-make up tebal itu lagi.


Saat kutanyakan pada seorang pemilik warung, Mawar sudah lama mangkal di pantai ini. Mungkin aku saja yang baru mengenalnya. Dermaga ini memang cukup jauh dari rumahku. Semakin hari, daerah kekuasaan gerombolan berandalan kami makin meluas. Dermaga dekat rumah sudah tidak asyik untuk bersenang-senang. Kami mencari suasana baru di tempat ini.


Mawar masih berusaha menghindariku ketika kami bertemu lagi entah untuk keberapa kali. Kupegang lengannya agar ia tak lari. Kukatakan padanya bahwa aku bukan cowok berbahaya. Untuk pertama kali Mawar tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Aku seperti tersihir.


Mawar memang sungguh cantik. Dan malam itu Mawar memperlihatkan kepiawaiannya menggoda pria dengan kecantikannya di depan mataku. Mawar bukan menggodaku. Ia justru menyelamatkanku dari seorang juragan perahu yang datang mengacung-acungkan sebilah golok pada gerombolan berandalanku. Rupanya juragan itu kehilangan sebuah perahu dan menuduh kami yang mencuri. Tentu kami tidak mencuri perahu. Mungkin kami berandalan, tapi kami bukan pencuri.


Ketika juragan yang marah itu hampir mendekati gerombolan kami, Mawar datang dari belakang juragan perahu itu dan mulai beraksi. Ia memeluk sang juragan, merayu dengan senyum mautnya. Dan kami pun selamat.


*

Bagaimana bisa aku melupakan Mawar begitu saja seperti kata Papa? Ia sangat menawan. Dan ia menyelamatkanku. Tapi aku tetap berpura-pura mendengar semua omelan Papa setiap pagi.


Papa bukan orang yang ingin kubantah perkataannya. Beliau tak pernah memarahiku dengan kata-kata kasar. Semua wejangannya dia sampaikan dengan nada standar. Tak pernah sekalipun kudengar bentakan dari mulutnya, atau nada tinggi yang biasa digunakan orang-orang untuk memarahi anaknya.


Aku mungkin sudah jatuh cinta dengan banci itu. Andai aku tak pernah bertemu Mawar, mungkin tak akan jadi begini. Ah! Persetan dengan omongan orang atau Papa, aku tetap menemuinya. Tak terhitung lagi entah pertemuanku dengannya yang keberapa malam ini. 


Malam ini aku dan gerombolanku baru selesai beraksi. Sebuah perahu yang tertambat di dermaga, sengaja kami buka tali pengikatnya agar lepas terseret ombak. Kami tertawa puas. Ini cara kami membalas dendam. Kami tidak terima dituduh pencuri, maka kami putuskan untuk menjadi pencuri sungguhan.


Aku mengajak Mawar 'mojok' berdua saja, menjauh dari kawan-kawanku ke sebuah gudang milik juragan perahu. Ia bertanya kenapa aku terlihat sangat senang. Ia tetap masih tak berani menatap mataku dan selalu menunduk.

"Kapal juragan itu baru saja kami 'curi'," jawabku bangga. Mawar terbelalak. Aku tidak ingin membayangkan ia akan beraksi menyelamatkan kami lagi malam ini jika juragan datang.

"Tapi ....," kalimat Mawar menggantung.

"Sudah, tidak usah khawatir. Juragan itu sedang tidak ada. Rumahnya kosong." 


Mawar kembali menunduk.

"Kamu tahu, juragan itu 'kotor'," lanjutku. "Di dalam perahu itu banyak benda-benda ilegal. Aku mendengar pembicaraannya tentang penyelundupan narkoba dengan seseorang kemarin malam."

Mawar seperti tak bisa mencerna kata-kataku. Ia hanya diam kebingungan. Aku jadi tak tega. Aku seperti pacar yang tidak ingin membebani pikiran gadisnya.

"Oh, ya. Aku ingin tahu di mana rumahmu. Apa dekat sini?" kualihkan pembicaraan saat ia masih terdiam.

Mawar hendak membuka mulut ketika tiba-tiba pintu gudang dibuka dengan kasar dari luar. Suara gaduh terdengar dari arah kawan-kawanku bergerombol. Di luar, suasana menjadi riuh.

Mawar melompat dari kayu panjang yang didudukinya. Ia mendesakku ke sebuah sudut. Tangan kanannya menekanku pada dinding. Tenaganya tidak cukup kuat, tapi kondisiku yang tak siap menerima dorongan, membuatku terhuyung. Mawar bisa dengan mudah menekan tubuh jangkungku dengan satu tangan. 


Saat itu aku tahu, seharusnya aku benar-benar tak pernah bertemu dengan Mawar. Aku masih tak mengerti ketika tangan kirinya melepas wig penutup kepala. Aku tahu itu wig dan tidak terkejut melihat rambut cepaknya. Tapi saat tangan Mawar membuka tank top hingga dadanya terbuka, aku tercekat. Udara seperti habis untuk kuhirup. Tato bergambar cupid itu sudah pernah kulihat ratusan kali, di rumah!

Mawar mendesis lirih, kali ini dengan suara berat laki-laki. "Kamu tidak pernah mau mendengarkan Papa. Setiap hari kamu berpura-pura mendengar. Malam ini, maukah kamu pura-pura tuli dan tidak mendengar apapun yang terjadi di sini untuk adikmu? Jaga adikmu."

Aku masih syok. Kutatap wajah di depanku tak percaya.

"Jawab Papa!"

Aku tersentak. Papa tidak pernah membentakku sebelum malam ini.

Kegaduhan di luar gudang makin menjadi. Aku mengangguk. "I-iya, Pa. Yunus janji."

Mawar, atau Papa, mengenakan kembali wig-nya.

"Diam di situ!" desisnya, menyuruhku bergeming dan tetap bersembunyi.

Papa menyelipkan secarik kertas ke dalam telapak tanganku yang dingin. Tak menunggu jawaban, ia keluar dari persembunyiannya. Mawar menghadang seseorang yang membuka pintu dengan paksa dan kini sedang mengobrak-abrik isi gudang.

"Jangan! Ada aku di sini ...," suara banci Mawar memelas.

"Mawar? Sedang apa kamu?" suara juragan perahu terdengar gusar.

"Sedang menunggumu, Sayang ...,"

"Haahhh! Sialan! Siapa yang melepas tali perahuku sekarang? Apa berandalan-berandalan itu lagi?"

"Kenapa, Sayang? Apa kehilangan satu perahu akan membuatmu miskin?"

"Isi dalam perahu itu lebih berharga dari semua perahu-perahuku!"

"Oh, ya? Apa isinya? Mawar boleh tahu, dooong ....." suara Mawar masih berusaha menggoda.

"Apa lagi? Apa yang bisa membuat orang malas tiba-tiba kaya? Hahaha ....!"

Aku bisa mendengar kikik tawa Mawar mengimbangi tawa juragan itu dari tempat persembunyian. Tapi tak lama kemudian, tawa mereka berhenti. Disusul pekikan kesakitan Mawar dan suara erangan kesakitan. Rupanya juragan itu mendorong Papa hingga terjatuh.


"Jangan pura-pura lagi, Mawar! Aku sudah tahu siap dirimu sebenarnya. Kamu bertugas sendiri malam ini, hah? Mana kawan polisimu yang lain? Mereka sudah diringkus oleh anak buahku. Hahaha ...!"

"Jangan senang dulu!" suara Mawar berubah menjadi Papa.

"Aku tentu senang sekali. Sebagian anak buahku sudah bergerak ke rumahmu. Dua anakmu akan kubereskan juga. Salah satunya sudah membuatku gusar akhir-akhir ini!"

"Mereka tidak bersalah. Kamu siksa saja aku, bukan mereka!"


Aku tak mendengar lagi apa saja yang dikatakan Papa selanjutnya. Tubuhku sudah melesat menuju rumah setelah berhasil menyelinap keluar guang dari sebuah celah dinding tripleks yang keropos.

Kupacu sepeda motor yang terparkir jauh dari bibir pantai dengan kecepatan penuh. Adikku. Aku harus menyelamatkan adikku. Kuterabas apa saja yang menghalangi jalan.

Dari jauh, rumahku sudah terlihat. Remang seperti biasa. Aku langsung melompat turun, membuka pintu yang tak terkunci. Seharusnya aku yang bertugas menguncinya setiap malam, tapi aku lebih sering pulang dini hari seperti sekarang.

"Dik, Dik ...," kuguncang-guncang adikku tak sabar. Ia membuka matanya yang masih mengantuk.

"Dik, ayo kita pergi. Ikuti kakak."

"Pergi? Ke mana?"

"Jangan tanya. Ikut saja!" Kutarik tangannya menuju sepeda motor yang masih menyala setelah membawa sedikit benda yang kurasa penting dari dalam lemari. Setelahnya, aku menerobos dingin angin malam menuju sebuah alamat yang tertera di secarik kertas dari Papa.


Sejak malam itu, aku dan Papa, atau Mawar, tak pernah bertemu lagi. Aku diasuh oleh seorang komandan satuan kepolisian yang menanggungjawabi tugas Papa sebagai polisi intel, dan kini resmi menjadi ayah mertuaku. Adikku melanjutkan kuliah di akademi polisi, katanya ingin menyelidiki kasus hilangnya Papa jika nanti sudah menjadi polisi betulan.

Aku memang pura-pura tuli akhirnya dan tak mengatakan apa-apa pada adikku tentang kejadian malam itu, juga tentang Mawar. Aku lebih memilih bekerja freelance. Juga sedikit menyamar. Kadang aku menjadi pemulung. Kadang aku menjadi tukang juru foto kilometer listrik. Kadang aku berjualan siomay. Apa saja asal cocok dengan tampang dan kulit gelapku.

Pekerjaanku kini berpura-pura, seperti Papa. Aku mendengar banyak informasi penting untuk kepentingan penyelidikan. Sayang, aku tidak pernah berkesempatan menggunakan properti satu itu saat menyamar. Blush brush milik Papa. Sekali-kali aku menimangnya untuk mengingat pemiliknya, yang kini entah berada di mana. ***************** 


 19 Maret 2019

 


Blog tentang kecantikan, make up, fesyen, mode, dan budaya

1 komentar:

  1. Ternyata mawar adalah papa nya.😱

    Wah makin keren nih cerpen cerbung mbak Lasmi.👍

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.