09 Januari 2017

Piala Pertamaku : Tenaga Baru Saat Titik Jenuh Melanda

Tags

Rutinitas hari itu kuhentikan sementara. Jika biasanya jam 10 siang saya masih berkutat menyelesaikan jahitan pesanan para pelanggan, hari ini saya sudah meluncur menuju ke kota Pemalang, tepatnya Yogya Toserba yang menjadi lokasi lomba yang akan kuikuti hari ini.

Ya, hari itu saya mengikuti lomba membuat hantaran mahar. Saya sangat bersemangat karena ini pengalaman pertama membuat hantaran mahar dan dilombakan.

Setelah menunggu cukup lama, perlombaan dimulai. Semua peserta yang sudah mempersiapkan diri dari rumah masing-masing, mengeluarkan segenap kreativitasnya, berlomba dengan waktu 60 menit yang disediakan panitia.



nomor peserta 3

Berlomba dengan Waktu


Lomba hari ini adalah pembuka dari rangkaian lomba dalam rangka memperingati Hari Ibu yang diadakan oleh HARPI Pemalang bekerja sama dengan La Tulip Cosmetiques, LT Pro Professional Make Up, dan Yogya Toserba Pemalang. Empat hari berturut-turut setelah lomba Hantaran Mahar, akan dilombakan pula lomba Rias Pengantin Hijab Modifikasi, Rias Pengantin Solo Putri Pakem, dan Rias Pengantin Paes Ageng Pakem.

para peserta lomba serius membuat mahar

Peserta hari pertama ini tidak begitu banyak, namun tetap menegangkan buat saya. Tentu karena ini adalah lomba pertama sejak terjun menjadi perias. Dan tentu saja, membuat mahar sebenarnya bukan spesialisasi saya. Antara coba-coba dan tertantang untuk menjajal kemampuan handycraft yang menjadi hobby, mungkin itu alasannya.


Suasana Lomba Hantaran Mahar


Pukul 17.30 waktu perlombaan telah habis. Para juri dari HARPI Pemalang yang antara lain diwakili Ibu Lulus dan Ibu Triatmi berdiskusi memberikan penilaian. Para peserta duduk menanti harap-harap cemas menunggu pengumuman pemenang yang akan dibacakan hari itu juga.

dua angsa menjadi satu, eaakk!


Kreasi Mahar Uangku Juara 2, yeayy!!



bu Lulus memberikan piala
berfoto bersama suami, anak-anak, Bu Lulus, dan Bu Triatmi dari HARPI Pemalang

Tak disangka, saat pengumuman tiba, kreasi mahar uang buatan saya mendapatkan juara 2. Saya senang dong. Begitu juga suami dan anak-anak yang ikut hadir memberikan dukungan. Saat pembagian piala, kedua anak saya tampak bahagia. Tak sia-sia perjalanan panjang dari Cikadu ke Pemalang yang harus ditempuh selama dua jam dengan roda dua.

Buat saya lomba hari itu tak sekedar soal piala dan hadiah. Lebih dari itu, di tempat inilah saya mengenal para senior rias pengantin di Pemalang seperti Ibu Lulus dan Ibu Triatmi. Baru hari ini pula saya mengetahui beliau-beliau adalah teman dekat almarhumah ibu mertua, ibunda dari suami yang mewariskan semua perlengkapan riasnya dan kini kami teruskan.

Hari itu kami pulang membawa kabar bahagia untuk keluarga besar di rumah. Inilah piala pertamaku yang kemudian menjadi tenaga baru. Saat jenuh sedang melanda, kupandangi piala itu. Mungkin ia hanya benda sederhana yang bisa dibeli di toko, namun piala ini mengingatkan bahwa segala hal harus diperjuangkan.

Pastilah kemenangan ini bukan karena karya saya begitu hebat. Banyak sekali di luar sana para profesional pembuat mahar yang dapat membuat mahar lebih bagus dan lebih bernilai tinggi. Namun, piala itu menjadi simbol perjuangan. Siapa yang berusaha maka dia akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Man jadda wa jadda. Itulah esensi hidup ini.

Selamat berkarya! Perjuangkan mimpimu!
***


Pemalang, 15 desember 2016

Blog about fashion, beauty, and culture

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.