Piala Pertamaku : Tenaga Baru Saat Titik Jenuh Melanda

Tags

Rutinitasku hari itu kuhentikan sementara. Jika biasanya jam 10 siang aku masih berkutat menyelesaikan jahitan pesanan para pelanggan, Kamis, 15 Desember 2016 aku sudah meluncur menuju ke kota Pemalang, tepatnya ke Yogya Toserba yang menjadi lokasi lomba yang akan kuikuti.

Ya, hari itu aku mengikuti lomba membuat hantaran mahar. Aku sangat bersemangat karena ini pengalaman pertamaku membuat hantaran mahar dan dilombakan pula.

Setelah menunggu cukup lama, perlombaan dimulai. Semua peserta yang sudah mempersiapkan diri dari rumah masing-masing, mengeluarkan segenap kreativitasnya, berlomba dengan waktu 60 menit yang disediakan panitia.

berlomba dengan waktu


Lomba hari ini adalah pembuka dari rangkaian lomba dalam rangka memperingati hari ibu yang diadakan oleh HARPI Pemalang bekerja sama dengan La Tulip Cosmetiques, LT Pro Professional Make Up, dan Yogya Toserba Pemalang. Empat hari berturut-turut setelah lomba Hantaran Mahar, akan dilombakan pula lomba Rias Pengantin Hijab Modifikasi, Rias Pengantin Solo Putri Pakem, dan Rias Pengantin Paes Ageng Pakem.

Peserta dihari pertama ini tidak begitu banyak, namun tetap menegangkan buatku. Tentu karena ini adalah lomba pertama sejak aku terjun menjadi perias. Dan tentu saja, membuat mahar sebenarnya bukan spesialisasiku. Antara coba-coba dan tertantang untuk menjajal kemampuan handycraft yang menjadi hobby, mungkin itu alasanku.
suasana lomba hantaran mahar


Pukul 17.30 waktu perlombaan telah habis. Para juri dari HARPI Pemalang yang antara lain diwakili Ibu Lulus dan Ibu Triatmi berdiskusi memberikan penilaian. Para peserta duduk menanti harap-harap cemas menunggu pengumuman pemenang yang akan dibacakan hari itu juga.

kreasi mahar uang buatanku


Tak disangka, saat pengumuman tiba, kreasi mahar uang buatanku mendapatkan juara 2. Aku sangat senang! Begitu juga suami dan anak-anakku yang ikut hadir memberikan dukungan. Saat pembagian piala, kedua anakku tampak bahagia. Tak sia-sia perjalanan panjang dari Cikadu ke Pemalang yang harus ditempuh selama dua jam dengan roda dua.

penyerahan piala oleh Ibu Lulus

Buatku lomba hari itu tak sekedar soal piala dan hadiah. Lebih dari itu, di tempat inilah aku mengenal para senior rias pengantin di Pemalang seperti Ibu Lulus dan Ibu Triatmi. Baru hari ini pula aku mengetahui beliau-beliau adalah teman dekat alm.ibu mertua, ibunda dari suamiku yang mewariskan semua perlengkapan riasnya dan kini diteruskan olehku.

foto bersama Ibu Lulus dan Ibu Triatmi dari HARPI Pemalang


Hari itu kami pulang membawa kabar bahagia untuk keluarga besar di rumah. Inilah piala pertamaku yang kemudian menjadi tenaga baru. Saat jenuh sedang melanda, kupandangi piala itu. Mungkin ia hanya benda sederhana yang bisa dibeli di toko, namun ia mengingatkan padaku, bahwa segala hal harus diperjuangkan.

Pastilah kemenanganku bukan karena karyaku begitu hebat. Banyak sekali diluar sana para profesional pembuat mahar yang dapat membuat mahar lebih bagus dan lebih mahal. Namun piala itu menjadi simbol perjuangan. Siapa yang berusaha maka dia akan mendapatkan apa yang diusahakannya. Itulah esensi hidup ini.

Selamat berkarya! Perjuangkan mimpimu!


Blog about fashion, beauty, and culture