01 Maret 2020

Teman Seperjalanan


teman bayangan di perjalanan

Ini cerita lama yang jarang saya ceritakan pada siapapun, seperti banyak cerita lain yang saya pilih untuk disimpan sendiri.

Tiga tahun tinggal di Bandung, dulu saya selalu menggunakan bus malam untuk pulang ke rumah orangtua di Pemalang. Biasanya bus SAHABAT jurusan Tegal akan melewati Jalan A. Yani Cicadas tepat jam 12 malam dari arah Terminal Leuwi Panjang.

Saya yang tinggal di Gang Suka Aman II cukup menunggu di mulut gang, tepatnya depan Toko Buku King, untuk menyetop bus tersebut begitu lewat. Kami mahasiswa perantau asal Pemalang memang selalu menggunakan cara ini secara turun temurun dari tahun ke tahun. Entah, saya tak tahu apa masih berlanjut hingga sekarang.

Biasanya saya (atau siapapun anak cewek yang akan pulang kampung) akan mengajak teman kos cowok sesama mahasiswa Pemalang selama menunggu bus datang. Memang, kekeluargaan kami sangat kental. Kami tak segan meminta tolong satu sama lain. Ikatan Mahasiswa Pemalang (IMP) kami sangat solid kala itu.

Ada pengalaman menarik ketika pertama kali pulang tengah malam begini seorang diri. Saya baru tiga bulan tinggal di Bandung dan ini kepulangan pertama.

Saat itu saya ditemani teman sekamar dan dua orang teman cowok, mengobrol selama menunggu bus SAHABAT jurusan Tegal lewat.

Hari menjelang tengah malam. Jalanan Cicadas sangat sepi. Hanya beberapa tunawisma yang terlihat meringkuk di depan pertokoan yang telah tutup. Beberapa pemuda tanggung duduk bergerombol merokok dan menenggak minuman tak jauh dari tempat kami menunggu bis. (Ini mengapa harus ada beberapa teman lain yang menemani saat menunggu bus malam lewat, untuk menjaga keamanan)

Bus SAHABAT yang saya tunggu lewat tepat jam 12 malam. Kami berempat melambai memberi tanda. Begitu bus berhenti, saya naik ke atas bus seorang diri. Saya melambaikan tangan dan mengucap terima kasih pada ketiga teman yang sudah menemani selama menunggu bus datang dari jendela kaca pintu bus.

Bus kembali berjalan melanjutkan perjalanan menuju tujuan Tegal. Saya berjalan ke bagian belakang mencari kursi yang masih kosong. Dalam keremangan cahaya lampu bus, terlihat hampir semua penumpang bus adalah laki-laki.

Jujur, saya lumayan takut juga. Oh, ternyata begini ya kalau pulang dengan bus malam. Sepertinya saya benar-benar satu-satunya penumpang cewek.

Saya menemukan satu kursi kosong di bagian tengah. Sudah ada seorang laki-laki yang duduk di tepi jendela. Saya pun duduk di sebelahnya.

"Temannya mana, Mbak?" tanya laki-laki itu tiba-tiba.

"Eh? Teman?" saya balik bertanya keheranan.

"Iya. Mbak tadi sama temannya kan? Tadi yang di belakang Mbak itu." tanya orang itu lagi.

Saya menggeleng ragu. Tengkuk saya dingin. Saya hanya naik bus ini sendirian. Kondektur sudah duduk di depan pintu depan. Namun, laki-laki itu nampak sangat yakin saya datang berdua.

Dalam hitungan detik, hanya untuk kewaspadaan saya menjawab asal meski hati masih diliputi tanda tanya.

"Ooh... teman saya? Dia duduk di belakang," jawab saya.

Laki-laki itu menengok memastikan ke deret kursi bagian belakang lalu mengangguk. Saya mengikuti arah pandangnya. Semua penumpang bergeming, mungkin tertidur. Ada satu bangku kosong di deret paling belakang. Entah kenapa bulu kuduk saya meremang.

Selama perjalanan saya mencoba tetap terjaga. Bagaimanapun rasanya tak nyaman bagi seorang cewek berada di bus malam sendirian. Namun, agaknya mata ini ingin diistirahatkan juga. Saya tidur terkantuk-kantuk di dalam bus.

Jelang dini hari, saya dikagetkan tepukan di pundak oleh laki-laki yang duduk di sebelah.
"Mbak, dipanggil temannya," katanya.

Saya tergagap. Hah? Teman? Oh iya, tadi saya mengaku bersama teman. Saya terbangun celingukan. Bus sudah memasuki terminal Tegal rupanya. Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Hampir separuh penumpang sudah berkurang. Mungkin turun di Cirebon, Brebes, atau di tempat lain sebelum Tegal.

Semua penumpang turun di tempat tujuan akhir, begitu pula dengan saya. Sedikit aneh, tak ada calo yang berebut barang bawaan saya saat keluar terminal. Sementara penumpang lain dikerubuti calo-calo menawarkan bis kecil berbagai tujuan. Saya melenggang sendiri ke arah bis Santoso yang menuju Randudongkal.

Di dalam bis Santoso ini pun saya jadi satu-satunya penumpang perempuan. Entah mengapa tatapan orang-orang terasa aneh. Apa mereka tak pernah melihat cewek naik bis malam-malam?

Dua jam kemudian, tepat adzan subuh saya sampai di rumah dengan selamat. Mungkin hanya perasaan saja, tapi perjalanan ini terasa sangat cepat. Normalnya, satu kali perjalanan dari rumah saya menuju Bandung dengan bus via Tegal, Cirebon, Sumedang memakan waktu hampir 9 jam!

Saat beberapa hari kemudian saya kembali ke Bandung, teman satu kos menanyakan perjalanan pulkam pertama saya. Saya bilang, "ngga ada apa-apa, biasa saja." Ia tampak lega.

Saya baru tahu dia disalahkan rekan-rekan se-Pemalangan karena membiarkan saya pulang sendirian malam-malam. Cerita pengalaman mereka bermacam-macam dan tak pernah ada yang berani pulang seorang sendiri. Mereka bilang saya nekat.

Ketika saya pulang sendiri lagi pada kepulangan berikutnya, teman satu kos menawarkan diri menemani tapi saya menolak.

Kata salah seorang teman cowok, "nggak papa. Lasmi sudah ada temannya." Padahal saya tak pernah menceritakan pengalaman pulang dengan 'teman' pada siapapun.

Bulan-bulan seterusnya saya tetap pulang tengah malam dengan bus SAHABAT sendirian. Jika ada penumpang lain yang bertanya "pulang dengan siapa, Mbak?" meski untuk basa basi, saya selalu menjawab, "sama teman."***


Blog tentang kecantikan, make up, fesyen dan mode, dan budaya

10 komentar:

  1. jadi.. teman itu siapa? Hahaha semi horror nuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga biasa seperti itu.. Buat jaga jaga aja sih.. hihihi, tapi kalo sudah malem banget dan lokasi jauh saya biasa menginap di tempat teman, agar besoknya bisa kembali bekerja dengan baik.. (Kalau semisal besoknya masih kerja),

      Hapus
    2. kalau dulu saya sengaja ambil bis malam, sih, biar paginya sudah sampai rumah.

      Hapus
  2. Wow, kok jadi serem, jangan jangan mbak lasmiati ini pulangnya ke Pemalang naik bis hantu.😱😱😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih, tapi kok bacanya serem ya, jalannya juga cepat kan bisnya, lebih cepat dari becak.😱

      Hapus
    2. Atulah iya 😭

      Masa becak lebih cepat dari bis 😖

      Hapus
  3. Sepertinya itu Bus Hantu ��

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung. Ditunggu tanggapan dan komentarnya ya.