WAJAH CINTA PENJAHIT MUDA BAGIAN 1


MIMPI YANG TIDAK SELESAI
(pernah dimuat di Majalah UMMI edisi 08 Agustus 2013)


curahan hati penjahit....

Dulu aku punya mimpi menjadi penulis, tapi kemudian menguap entah kemana. Dan hari ini, ditengah malam ini, tiba-tiba mimpi itu menyergap. Ibarat sepeda yang lama tak digunakan, tangan dan jemari in terasa kaku. Minim pelumas. Aku hampir lupa bagaimana caranya menulis. Padahal, dulu, dulu sekali, tangan ini begitu lihai menoreh tinta, merangkai kata, mengurai cerita.
Bukan berarti dalam sepuluh tahun terakhir tangan ini diam tak berguna. Jika saat kuliah dulu tangan ini mahir menulis, kini bermetamorfosis menjadi ahli memasak, mencuci baju, menyapu dan mengepel lantai, mengganti popok Si Kecil, serta memandikan Si Kakak yang juga masih balita dan perlu bantuan orang dewasa dalam proses kemandiriannya. Hampir semua pernak-pernik pekerjaan domestik rumah tangga aman terkendali berkat kedua tangan ini. Bahkan secara mengagumkan, makin hari makin komplet saja keahlian-keahlian yang bisa dilakukannya.
Hal yang tak aku duga,salah satu keahlian itu kemudian menjadi profesiku. Dinamika ekonomi rumah tangga yang tak menentu mendorongku untuk memberdayakan keterampilan menjahit busana wanita. Sejak itu aku tenggelam begitu dalam pada kecintaanku akan mode dan busana. Aku bahkan nyaris tak membaca lagi buku dan majalah selain yang bertemakan fashion.
Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, semakin aku mendalami dunia jahit menjahit, semakin aku menikmati dan menyenanginya. Sama halnya saat dulu aku jatuh cinta pada dunia menulis, seolah aku ingin berteriak pada dunia bahwa aku ingin menjadi seorang penulis. Namun  ketika menikah, kesibukan sebagai ibu rumah tangga menyita seluruh perhatianku. Tanpa kusadari, mimpi menjadi penulis mulai memudar, bahkan terlupakan, hingga akhirnya aku mantap menjadi seorang penjahit.
Tapi adakah yang salah dengan menjadi penjahit? Menjahit bukan pekerjaan mudah atau remeh temeh.
Menulis dan menjahit memang dua dunia yang berbeda, namun sejatinya banyak pula persamaannya. Menjahit menggunakan media kain, sementara menulis menggunakan kertas—atau sekarang lebih canggih, dengan computer. Tetapi esensinya sama. Keduanya sarana berekspresi, menuangkan ide, mengasah kreativitas, menciptakan inovasi, dan terutama menjadi media untuk berbagi manfaat dan kebaikan dengan orang lain.
Di titik ini, aku sampai pada satu kesimpulan. Aktivitas atau pekerjaan, jika dijalani dengan penuh cinta dan kesungguhan, akan membawa kenikmatan tersendiri. Walaupun itu tak sama dengan impian kita, namun kita harus tetap memberikan ruh pada setiap karya. Yang tak kalah penting, baik menjahit maupun menulis adalah buah karya tangan yang memerlukan dedikasi dan patut dihargai. ***

Blog about fashion, beauty, and culture