Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
27 Juli 2021

The Proposal

flash fiction


Cewek bodoh mana yang mau membantu cowok yang dicintainya melamar perempuan pujaan hati? 

Cewek bodoh itu aku. 

Menurut dia, aku punya selera bagus untuk merancang acara penembakan dan katakan cinta. Jam terbangku memang cukup tinggi dalam hal ini. Namun, membantunya melamar perempuan untuk menjadi istrinya, yang benar saja? 

Aku tak bisa bayangkan bagaimana rupaku jika melihat cowok yang kurindukan siang dan malam itu berlutut dan menyodorkan cincin pada perempuan lain. Seharusnya perempuan itu aku! 

Tapi..., ya, di sinilah aku sekarang, sedang bersamanya hendak melamar seorang gadis. Kenyataan yang tragis buatku.

Cowok itu sudah bersiap di sebuah kafe yang romantis. Ia berjalan mondar mandir dengan gelisah. Keringat membanjiri kemeja hitamnya. 

Waktu yang ditentukan makin dekat. Aku lebih gelisah. Bunga tulip yang mahal sudah kusiapkan. Cowok itu akan meminta maaf lebih dulu sebelum melamar, begitu skenarionya. 

Meminta maaf untuk apa? Ia akan meminta maaf karena sejak hari ini ia tidak bisa lagi menjadi temannya, melainkan calon imam. Ya ampuuun..., itu skenario tergombal yang pernah kubuat. 

Ya, aku yang merancangnya. Bodohnya aku! 

Cowok itu pasti gelisah memikirkan kemungkinan penolakan ataukah akan diterima lamarannya. Sejujurnya aku lebih gelisah, antara harus berdoa agar ia diterima atau berharap ditolak saja, dua-duanya tetap akan membuat hatiku sakit. 

Aku langsung siaga saat jarum jam tepat menunjukkan waktu kedatangan target penembakan. Wajah tampan cowok itu menegang. Aku pun sama. Berkali-kali mata cowok itu berputar, mencari sosok yang ditunggu dengan gelisah. Reflek, aku mengikuti gerak matanya dari tempat persembunyian. 

Semenit, lima menit, sudah lima belas menit perempuan itu terlambat. Aku keluar dari persembunyian. 

"Apa kamu sudah memastikan kedatangannya sekali lagi?" tanyaku memastikan. 

"Ya. Dia pasti datang," jawabnya lemah. Rupa wajah tampan itu hampir tak berbentuk karena frustasi, membuatku kesal pada perempuan itu karena sudah membuat klienku lama menunggu. 

Aku mencebik. 

"Aku akan mencarinya. Barangkali ia tersesat di sekitar sini," aku menawarkan bantuan seraya membetulkan letak bunga tulip di meja agar tak perlu bertemu dengan matanya. 

"Ide bagus." 

"Seperti apa wajahnya?" tanyaku.

Cowok itu membuka ponsel, mencari foto perempuan pujaannya, lalu mengulurkan ponsel itu ke arahku. 

Seketika dahiku mengeryit, kemudian terbelalak. Tak ada foto perempuan. Hanya ada pantulan sebuah wajah dari kamera depan mode on. Wajahku!

Saat kuangkat wajah, cowok itu sudah menyodorkan seikat bunga tulip, "maaf," katanya. 

Aku tak bisa melarang semburat merah muncul di pipi. Kupukul pelan cowok tampan itu dengan tulipnya. Kudapati wajahnya tampak lega luar biasa. Binar di matanya membius bukan buatan. 

"Bodoh! Bukan begitu skenarionya," kataku. 

Sepertinya ia tak perlu skenario lagi. Aku sudah tahu ending-nya.****



08 Juli 2021

Foundation Brush

"Kotor, berantakan, dan tidak rapi? Tidak akan. Aku menggunakan foundation brush untuk mengaplikasikan mousse foundation pada kulit berminyak." 
____________________________ 


Mereka kira aku lupa. Tapi aku ingat. Semuanya. Kuhela napasku dalam. Kuamati sekali lagi gadis berbaju marun di ruang tamu dari celah pintu yang sedikit terbuka. Pandangannya merunduk, nampak serius mengamati katalog dekorasi pelaminan di pangkuan. Sesekali senyum tersungging dari bibir tipisnya, terlihat senang saat menemukan beberapa konsep yang, mungkin, menarik hati. 

Pandanganku beralih pada pria di depanku. Ia balik menatapku intens. 
"Kamu tahu aku tidak bisa, maaf," desahku. 
Sebisa mungkin kujaga nada tegas dari jawabanku meski tak yakin itu berhasil.
 
"Tapi dia hanya mau datang kemari, Ay. Kamu yang terbaik," sergahnya setengah berbisik. "Kumohon ...." 

Kupejamkan mataku lelah. Menikmati setiap detak yang bertalu, berharap tak ada siapapun yang mendengar selain hanya aku dan aku. 

*

Ternyata aku baru saja membuat kesalahan dengan mempersilakan mereka untuk masuk. Seharusnya tadi aku berpura-pura sibuk saja, tak ada waktu untuk menerima tamu, atau tepatnya, menerima mereka bertamu. Namun, setengah diriku seperti tidak sinkron menerima instruksi dari otak dan malah menyunggingkan senyum mendapati kedua orang itu begitu tanganku membuka pintu. 



Untunglah aku pemain lama yang sudah khatam dalam hal beramah tamah dengan klien. Atau calon klien. Bahkan sikapku terlihat begitu santai di atas debaran jantung yang berdebum sejak detik pertama melihatnya-lagi. 

Setelah berbasa basi sejenak, menawarkan minuman dan camilan yang dihidangkan mba Min, asisten rumah tangga, pria itu menyampaikan maksud kedatangannya.
 
"Kami ingin mba Ayu menjadi Wedding Organizer pada acara pernikahan anak kami," terang pria itu dengan bahasa yang, bisa dibilang, sangat formal. 

Aku terbahak dalam hati. Tapi lihat, aku hanya tersenyum anggun, seperti biasa. Mataku melirik pada gadis yang duduk di sebelah kiri. Gadis itu sedang menatapku penuh harap. 

"Saya ingin bicara sebentar dengan Anda. Bisa kita ke ruang tengah?" tanyaku pada pria itu yang dianggukinya cepat. Dan di sinilah kami, berada di ruang tengah seraya mengintip anak gadis itu dari celah pintu. 

*

"Baiklah," ucapku lirih. 
Kubuka mataku perlahan. Entah untuk keberapa kali, kuamati lagi gadis itu. Gadis yang nyaris menjadi anak tiriku. Cantik, secantik almarhum ibunya, Leni sahabatku, walau sama sekali tak mirip. Aku nyaris tak mengenali jika ia tak datang bersama pria itu. 

Pria di depanku tersenyum lega. Senyum seorang ayah yang berharap mampu memberikan yang terbaik bagi anak. Sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih. 

Dari sudut mata yang tak kentara, aku pun mengamati pria itu. Sosoknya tak banyak berubah sejak pertemuan terakhirku dengannya. Sedikit berbeda karena ia memelihara brewok tipis, memotong pendek rambutnya, dan tubuhnya terlihat lebih berisi. Sejujurnya, ia terlihat lebih dewasa dan lebih ... tampan. 

Kami duduk kembali di ruang tamu, bersama gadisnya. Sang Gadis menjawab dengan polos saat kutanyakan mengapa ibunya tidak ikut datang. "Iya Mbak Ay, Mama sedang hamil besar jadi tidak bisa ikut. Beliau titip salam." 

Aku mengangguk maklum. 'Mama'nya yang anak mantan Bupati itu memang selalu spesial. Sejak dulu. Lebih spesial dibandingkan diriku yang hanya anak seorang guru bersahaja. Jauh sebelum hari ini, aku maklum dengan pilihan pria itu atas dirinya, meski tetap saja merasa amat terluka. 

Mencoba profesional, kuterima juga job dari pria itu. Job besar yang hanya orang-orang berduit saja yang mampu membayar. Prestige selalu lebih dikedepankan ketimbang urusan pribadi. Lima belas tahun waktu yang cukup buatku memantapkan diri menjadi, seperti yang ia bilang, satu yang terbaik dalam bidang Wedding Organizer. Timku yang hebatpun, tak menyia-nyiakan begitu saja kepercayaan dari orang terkaya di kota ini. 


Kurancang sebuah acara pernikahan mewah sedetail mungkin dan memastikan semua berjalan sesuai rencana. Tiga bulan waktu untuk timku guna penyelenggaraan pesta besar-besaran yang sempurna. Aku mengesampingkan sentimental pribadi yang sempat menghantui diawal pertemuan. Sadar sepenuhnya jika aku sedang mempertaruhkan semuanya demi nama besarku di bisnis ini. 

Dan, seperti yang kuinginkan, hingga tiba hari dan tanggal yang ditetapkan, semua berjalan lancar. Tak ayal, saat hari H, hatiku diliputi ketegangan. Sebenarnya ini biasa terjadi saat menangani job besar. Tapi kali ini, keteganganku berbeda. 

Jalan sepanjang depan rumah pria itu sudah disulap menjadi 'gedung' resepsi, menggunakan tenda yang mewah. Biru dan putih menjadi warna tema yang dipilih Si Gadis untuk segala sesuatu yang menyangkut pesta hari esok. Semua. Tenda dan kursi tamu, dekorasi pelaminan, set catering, photo booth, kamar pengantin, juga semua kostum dan wardrobe keluarga besar kedua mempelai, menggunakan warna bernuansa biru dan putih. Benar-benar menjadi tenda biru, gumamku seraya berkeliling mengecek segala persiapan. 

Pria itu tak juga berubah. Walau ia mampu menyewa gedung serba guna atau ballroom hotel bintang lima sekalipun, ia justru memilih rumahnya sendiri untuk menjadi tempat perayaan pesta. Seperti waktu itu. 

Ah .... 

Kutepis kembali perasaan yang entah apa namanya. Semua itu kurasakan sudah sangat usang, tapi kini mendadak segar. 

Ini hari bahagianya. Aku hanyalah masa lalu yang entah bagaimana, dihadirkan kembali oleh waktu untuk mengurusi masa depan anaknya. Bersabarlah, untuk hari ini, Ayu. Hanya sampai hari ini. Setelah itu kau bisa menangisi lagi nasibmu di masa lalu, yang bahkan mungkin hanya kau saja yang masih terus mengingatnya. 

Semua sudah bersiap. Keluarga besar mempelai putri sudah berkumpul. Detik demi detik menunggu mempelai pria, berlalu dalam tegang. Tidak. Aku yang tegang. Semua orang nampak menikmati keanggunan pesta hari ini. Bahkan, beberapa orang mencicipi hidangan lezat dari catering langganan, patner terbaikku. Mereka mengobrol, tertawa dan bergembira, bersabar menantikan mempelai pria yang sudah terlambat dari jadwal semula. 

cerpen berjudul foundation brush


Kebiasaan orang-orang berkelebihan harta untuk berolah raga dan semacamnya, sudah lama digantikan dengan kegiatan menghadiri pesta yang sebenarnya hanya bergantian tempat saja. Lalu selentingan kabar dari masa lalu, tiba-tiba sudah beredar dari mulut ke mulut, melalui bisik-bisik tetangga yang tidak cukup lirih untuk luput dari telingaku. 

Kasak kusuk mulai terdengar dari tamu-tamu seraya melirik hati-hati ke arahku. Seolah khawatir aku akan menangkap basah lirikan mereka lalu sakit hati. Tamu undangan dan keluarga yang sebagian besar juga tetanggaku sendiri, merasa perlu memberikan perhatian yang lebih besar saat salah satu dari mereka menceritakan pada teman-temannya perihal masa laluku dengan ayah gadis yang menjadi pengantinku hari ini. 

Hatiku sudah panas sejak tadi. Juga telingaku, tapi tidak dengan wajahku. Senyum anggun tetap bertengger di sana seakan memang tercipta untuk selalu begitu. 

Alih-alih tenang, aku mulai meremas kedua tangan menghilangkan tegang. Aku menuju ke kamar. Gadisku sudah siap, cantik serupa bidadari. Duduk gelisah di tepi ranjang pengantinnya, menantikan kedatangan Sang Pangeran. 

Pangerannya sungguh tampan. Aku bertemu dengannya dua kali sebelum hari ini. Pertama saat foto prewedding yang dikerjakan marathon oleh tim fotograferku, dan kini foto-foto eksotis mereka di Kawah Putih sudah terpajang di beberapa sudut 'gedung' pesta. 

Pertemuan keduaku dengan Sang Pangeran gadis ini, saat fitting baju pengantin dan test make up. Pangeran bardarah Batak itu, terbang langsung dari kota asalnya, kuundang khusus untuk bertemu denganku dan tim, juga untuk membicarakan segala sesuatu agar acara hari ini lancar. 

"Sabar, Sayang, mungkin masih dalam perjalanan," hiburku pada sang Gadis, mencoba menenangkan gelisahnya. 

Aku lebih gelisah. Dan aku berdoa khusus untuk hari ini. Kulangkahkan kaki menuju ruang depan di mana keluarga dan tamu masih sabar menunggu kedatangan calon mempelai pria. Aku berharap segera ada kabar baik yang bisa meredakan debaran jantung yang makin tak karuan ini. 

Kasak kusuk makin jelas terdengar. Banyak tatapan mata yang kini tanpa sungkan-sungkan dilayangkan padaku. Begitu juga pria itu. Kami bersitatap. Apa arti tatapnmu, wahai Pria? Apa kini kau sudah bisa merasakan debaran jantungku? Atau debaran jantung anak gadismu? Debaran yang sama yang kurasakan belasan tahun silam saat kau tak juga datang pada hari pernikahan kita. 

Kukatupkan rahangku rapat. Berusaha sekuat tenaga, menahan genangan air mata. Demi Tuhan aku tak menginginkan kenangan itu kembali, tapi luka yang terlampau dalam memang akan susah diobati. 

Dengung gelisah dari semua hadirin membuat kepalaku pening. Tiga jam sudah berlalu dari jadwal semula. Penghulu yang juga Kepala KUA sudah berpamitan untuk menikahkan pasangan pengantin di tempat lain. 

Aku hanya bisa mematung di sebuah sudut. Sebelum benar-benar pergi, Bapak Penghulu mengingatkan pria itu untuk segera menghubungi beliau begitu calon mempelai pria datang. Pria itu mengangguk-angguk cepat seraya menyalami Pak Penghulu yang sedang menatap prihatin ke arahku. Penghulu yang sama, yang belasan tahun lalu gagal menikahkanku dengan pria itu, tapi kemudian kini menjadi suami dan ayah ketiga anakku. 

Aku menganggukkan kepala dengan sopan. Hidangan sudah dingin. Tak ada lagi yang berminat menyentuhnya. Gelisahku kini mencapai puncak. Bidadari di tepi ranjang menangis pedih. Terguguk seorang diri. Di depan kamar pengantin, sang Ayah, pria itu, tak berani mengetuk pintu. Sayup ratap pilu gadisnya dari dalam kamar, melebihi pilu di hatinya. 

Tengah hari mempelai pria mengabarkan batal datang hari ini, menunggu tanggal baik untuk menikah yang entah kapan. 

Sang Pangeran tidak akan pernah datang. Ia sedang bersenang-senang, menikmati imbalan atas kegagalan pernikahannya. Menikmati uang yang kuberikan padanya. Uang yang sangat banyak, yang hanya orang-orang berhati penuh dendam yang mampu membayar. 


Aku tahu semua rapi. Aku menggunakan foundation brush untuk mengaplikasikan mousse foundation. Sebuah 'ramuan' yang kuciptakan sendiri untuk melapisi wajah jahatku, yang bahkan suamiku pun tak tahu. 

'Ini sempurna,' seringaiku puas. 

****************** 17 Maret 2019


24 Maret 2020

Dua Putra Mahkota

Cerpen Anak

cerpen dua putra mahkota


Di negeri yang jauh, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang tinggal di istana mereka. Istana megah itu terletak di tengah ibukota kerajaan yang dikelilingi bebukitan dan alam nan indah. Raja yang bijaksana, membuat rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

Raja dan Ratu memiliki dua orang putra yaitu Pangeran Willy dan Pangeran Herry. Raja dan Ratu mendidik kedua putranya dengan penuh kasih sayang. Kedua pangeran sangat rukun dan tumbuh menjadi pemuda tampan yang cerdas dan dikagumi. Kecerdasan kedua pangeran masyhur hingga ke kerajaan sebelah yang terletak di lereng gunung.

Pada suatu malam, Raja dan Ratu hendak bersantap malam. Hidangan lezat sudah tersaji di meja makan. Raja menunggu kedua putranya untuk bersantap bersama. Tiba-tiba, seekor burung gagak hinggap di jendela. Gagak tersebut membawa kabar dari jauh. Serombongan pendatang sedang dalam perjalanan menuju kerajaan Sang Raja.

Seketika Raja kehilangan nafsu makannya. Ia memiliki firasat yang buruk.

Ketika Pangeran Willy dan Pangeran Herry datang, Raja menyampaikan kabar yang dibawa oleh burung gagak. Raja meminta pendapat dari kedua putranya.

Pangerang Willy menyatakan keberatan jika Raja menerima kedatangan rombongan pendatang tersebut. Menurut Pangeran Willy, para pedatang bisa membawa pengaruh yang buruk. Tatanan masyarakat yang tenang bisa kacau. Selain itu, menurut Pangeran Willy para pendatang tersebut bisa jadi hanya penyusup dari kerajaan di lereng gunung yang memiliki maksud jahat.

Raja mengangguk-anggukkan kepala. Ia setuju dengan pendapat putra pertamanya. Kecerdasan Pangeran Willy dalam menelaah masalah memang mengagumkan.

Tiba giliran Raja mendengarkan pendapat Pangeran Herry. Pangeran Herry memiliki pendapat berbeda dengan kakaknya. Ia justru senang mendengar kabar akan datangnya pendatang dari negeri di lereng gunung.

Menurut Pangeran Herry, pendatang baru justru bisa membawa pengaruh yang baik bagi warga kerajaan mereka. Pendatang akan membawa kebudayaan baru yang membuat kehidupan warga menjadi berwarna. Masyarakat bisa saling bertukar ilmu. Selain itu, menurut Pangeran Herry perekonomian masyarakat juga akan meningkat melalui perdagangan.

Raja pun membenarkan pendapat putranya yang kedua. Kecerdasan Pangeran Herry tak kalah dengan kakaknya.


Hari kedatangan rombongan para pendatang pun tiba. Pemimpin rombongan menghadap Raja untuk memohon izin tinggal sementara di wilayah kerajaan sebelum melanjutkan perjalanan sambil berniaga.

Melihat kesopanan dan tata cara berperilaku para pendatang yang baik, Raja pun memberikan izin tinggal. Raja merasa tak ada tanda-tanda yang aneh ataupun niat jahat yang tersembunyi di balik kedatangan mereka.

Semenjak kedatangan rombongan pendatang, suasana masyarakat di lingkungan kerajaan terasa meriah. Mereka saling bertukar budaya dan ilmu pengetahuan. Pasar-pasar menjadi ramai. Perdagangan laku keras. Kedai-kedai makanan laris manis. Warga mengadakan hiburan dan pesta-pesta kecil di kedai dan tempat hiburan hingga tengah malam.


Baca juga cerpen SANAKAN


Pangeran Willy yang kurang menyukai kedatangan rombongan pendatang, selalu bersiaga. Ia tak segan-segan berkeliling setiap malam untuk melihat-lihat situasi. Begitu juga malam ini.

Hari hampir tengah malam. Ketika sampai di sebuah tempat hiburan, betapa terkejutnya ketika Pangeran Willy melihat Pangeran Herry sedang berkumpul dan bersendau gurau di antara para pendatang. Pangeran Herry bahkan tampak mengobrol akrab dengan pemimpin rombongan. Minuman dan aneka makanan tersaji di tengah meja. Musik mengalun mengiringi beberapa orang yang menari riang.

Pangeran Willy menghampiri Pangeran Herry. Ia mengajak adiknya untuk segera pulang ke istana.

Pangeran Herry menolak untuk pulang. Ia justru mengajak Pangeran Willy untuk bergabung dan minum bersama para pendatang. Pangeran Willy pulang dengan kesal.

Saat dalam perjalanan pulang menuju istana, terdengar hiruk pikuk dari kejauhan. Warga menjerit-jerit panik melihat kedatangan pasukan berkuda yang tiba-tiba menyerbu kerajaan. Rupanya penjaga gerbang tertidur pulas setelah puas minum di kedai hiburan.

Perang tak terelakkan. Kekhawatiran Pangeran Willy menjadi kenyataan. Kerajaan lereng gunung menyerang istana. Warga panik berlarian menyelamatkan diri. Raja dan Ratu diselamatkan melalui pintu rahasia.

Pangeran Willy sigap menyiapkan barisan tentara kerajaan yang telah berlatih keras beberapa bulan terakhir di bawah pimpinannya. Pangeran Willy tampak sudah memprediksi adanya perang sejak jauh-jauh hari.

Perang mulai berkecamuk. Banyak prajurit yang gugur dan terluka. Tentara kerajaan di bawah pimpinan Pangeran Willy mulai terdesak.

Di tengah perang di malam buta itu, Pangeran Willy mencari Pangeran Herry penuh kekhawatiran. Adiknya itu pasti dalam bahaya berada di antara rombongan pendatang tanpa senjata.

Dari dalam kedai hiburan, terlihat Pangeran Herry keluar diikuti pemimpin rombongan pendatang. Tangan pemimpin pendatang tiba-tiba terangkat ke atas mengacungkan pedang yang terhunus.

Pangeran Willy tegang bukan kepalang. Dengan reflek ia memejamkan mata, mengira sang pemimpin pendatang itu hendak melukai adiknya. Namun, tiba-tiba susanana berubah senyap. Hiruk pikuk perang terhenti. Pangeran Willy merasa heran. Ia pun membuka matanya yang terpejam.  Dilihatnya pemimpin pendatang sedang memeluk erat Pangeran Herry. Setelah itu, ia membuka jubah yang dikenakannya sepanjang waktu. Seketika semua orang terperanjat. Pemimpin rombongan pendatang itu ternyata adalah raja dari kerajaan lereng gunung.

Raja itu berkata:
"Wahai kalian, Ketahuilah anak muda ini adalah putraku yang telah lama hilang. Aku berniat menyerang kerjaan ini karena mengira raja menculik putraku. Ternyata Raja justru menolongnya saat ia tersesat dan terlunta-lunta seorang diri di dalam hutan ketika ikut berburu rusa bersamaku.
Raja memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan mengangkatnya menjadi anak. Raja juga sudah mendidiknya menjadi pribadi yang berpikiran maju. Atas nama kerajaan di lereng gunung, saya menyampaikan permintaan maaf."

Perang pun dihentikan seketika. Raja dan Ratu dijemput dari tempat persembunyain.

Dua raja itu melakukan pertemuan. Raja dari lereng gunung meminta maaf karena telah berprasangka buruk selama ini. Ia bahagia ternyata putranya sudah tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan peduli dengan perekonomian rakyat.

Pangeran Herry pandai bergaul dengan siapa saja. Bahkan tak segan membaur dengan masyarakat pedesaan. Jika saja Pangeran Herry tak bergaul dengan raja lereng gunung yang menyamar sebagai pemimpin rombongan pendatang, ia tak akan mengetahui cerita sebenarnya.

Selama ini raja lereng gunung mengira raja menculik putranya. Ia merencanakan perang dan melakukan penyerangan untuk mengambil kembali putranya. Beruntung Pangeran Herry mengobrol dengan raja di kedai tepat saat malam penyerangan tiba.

Raja dari lereng gunung meminta maaf. Dua raja itu berpelukan. Begitu pula dengan Pangeran Herry. Mereka bertiga berpelukan erat.

Raja dan Ratu amat bersedih harus berpisah dengan Pangeran Herry yang sudah mereka anggap putra sendiri. Namun, mereka tetap harus berpisah.

Pangeran Herry pulang ke kerajaan di lereng gunung bersama rombongan pedagang dan tentara kerjaan yang pulih dari luka usai perang.

Pangeran Herry sering berkunjung ke istana Raja dan Ratu meski kini telah menjadi Putra Mahkota kerajaan di lereng gunung.

Saat Raja berpulang, Pangeran Willy diangkat menjadi raja. Begitu pula saat raja dari lereng gunung wafat, Pangeran Herry pun naik tahta menjadi raja.

Dua raja muda itu menjalin banyak kerja sama di bidang politik, ekonomi, militer, dan lain-lain. Mereka berdua saling melengkapi. Masyarakat dua kerjaan itu semakin makmur dan hidup berdampingan dengan rukun damai.

Begitulah, perbuatan baik di masa lalu akan menuai hasil di masa yang akan datang. Prasangka buruk dapat hilang dengan saling terbuka dalam jalinan persahabatan. Dendam menimbulkan kerusakan sementara kasih sayang menciptakan hidup rukun dan kedamaian.***



Cikadu, 24 Maret 2020



Kalian percaya pada mimpi? 
Percaya atau tidak, cerpen ini adalah mimpi saya tadi malam. Begitu random isi kepala saya sampai-sampai isi mimpi saja begitu kacau tak karuan. Seperti randomnya hidup saya dalam kedeharian.
Hehe ....

Untung saja plotnya utuh. begitu terbangun dari tidur, langsung saya tulis sebelum hilang dan menguap. Maklum, saya hampir tak pernah menulis cerita anak.

Selamat membaca!


03 Juni 2018

SANAKAN



SANAKAN
Oleh : Lasmicika

Kupacu Baleno-ku melewati angka 120 km/jam. Jalanan sepi. Gelap. Tentu saja, penunjuk waktu digital menunjukkan angka 01.33 dini hari. Teringat sekilas berita-berita seram yang menghias layar kaca, tentang banyaknya korban kecelakaan saat melewati tol Cipali ini. Ah, siapa yang peduli. Mungkin mereka hanya pengendara yang kurang beruntung. Kebetulan saja malaikat pencabut nyawa melaksanakan mandat Tuhan saat mereka sedang berkendara di sini. Bahkan jika umurku tercatat hanya sampai di sini malam ini pun, siapa yang akan peduli?
Oh, tidak! Tentu saja aku peduli. Esok adalah hari penting bagiku.
Tanpa sadar aku mulai tersenyum-senyum sendiri. Konyol. Ini sungguh konyol dan tak masuk akal. Begitu cepat dunia berubah. Fuhh…!
Sejurus kemudian kutarik dalam-dalam napas yang tiba-tiba menyesak. Apa yang sudah kulakukan? Aku yang tegas, penuh ambisi, bertekuk lutut pada sosok itu. Tak berdaya menyimpan tumpukan rasa bahkan hingga belasan tahun lamanya. Aku benar-benar tak berdaya.
Dalam folder pribadi yang sengaja kuatur hidden-file kutulis beratus-ratus puisi cengeng dan surat-surat cinta yang tak pernah sampai padanya. Yang benar saja. Semua tulisan itu tidak akan pernah kubiarkan dibaca siapapun, bahkan olehnya. Bisa hancur reputasiku.
Apa? Kau ingin tahu apa saja yang sudah kutulis tentang dia? Sudahlah kawan. Simpan saja keingintahuanmu. Itu tidak mungkin terjadi. Aku tidak akan membiarkanmu atau siapapun membacanya lalu kalian semua akan menganggapku sebagai laki-laki pengecut.
Ah, aku memang pengecut. Dan reputasiku memang sudah hancur berkeping-keping. Bahkan tak berbekas.
Sebatang rokok kunyalakan bersamaan dengan tangan kananku membuka kaca jendela. Sabuk pengaman kulepaskan. Angin malam menerpa wajah. Menelusup di sela-sela berewok tipis yang aku tidak pernah berniat mencukurnya dan sudah menjadi ciri khasku. Hanya sebentar saja rokok itu kembali kumatikan. Aku bukan perokok. Tapi kepala ini tiba-tiba saja pening teringat peristiwa lima tahun lalu. Saat kemunculan sosok itu untuk pertama kali di hadapan kedua orang tuaku. Sosok yang sudah kusebut ribuan bahkan jutaan kali dalam hidden file-ku.
Saat itu Mama menatapku dan menatapnya bergantian. Tak bisa kugambarkan ekspresi wajahnya kala itu. Hanya kulihat mulutnya sedikit terbuka, alis berkerut hingga hampir bertemu satu dengan lainnya. Setelah itu aku tak berani menatapnya lebih lama lagi. Sosok di sampingku tertunduk dalam, hampir membungkuk. Dalam ketertundukan yang dalam, aku masih sempat memperhatikan ia menggigit bibir tipisnya. Bibir itu sudah lama menginspirasi malam demi malam yang kuhabiskan untuk berpuisi dari balik tirai jendela yang terbuka menghadap langit saat bulan purnama. Jika ada peribahasa pungguk merindukan bulan, mungkin seperti itulah yang kurasakan menjadi si Pungguk.
Papa agak berbeda melahirkan ekspresi keterkejutannya. Jemari tangannya mengusap sekitar mulut berulang kali. Tak kuhitung berapa kali tapi aku tahu ia risau. Bisa kurasakan dari gerakan tangannya yang makin lama semakin cepat.
Aku sangat paham dengan kerisauan kedua orang tuaku. Sejenak kucari kata-kata yang tepat untuk meredam kecanggungan di antara kami.
“Ma, Pa, hanya hingga bayi itu lahir.” Suaraku memecah kesunyian.
“Entahlah Satria, Mama belum bisa memutuskan,” akhirnya Mama membuka suara setelah terdiam cukup lama.
“Pa…,” aku beralih pada Papa.
Papa mengubah posisi duduknya.
“Satria, apa kamu sudah pertimbangkan ini matang-matang?” suara Papa yang penuh wibawa membuatku kembali terdiam. Aku beruntung mewarisi wibawa dari suara berat papa yang oleh sebagian besar teman dianggap seksi, tapi sebagian besar lainnya menganggap itu menakutkan. Takut seperti saat kau mendengar suara teguran bos ketika tertidur di antara tumpukan laporan akhir bulan.
“Iya, Pa.”
“Baiklah,” suara Papa menembus masuk ke dalam relung hatiku. Menggema di alam bawah sadarku, bagai ketukan palu sang Hakim yang membebaskan terdakwa dari tuntutan jaksa penuntut umum.
“Terima kasih, Pa, Ma.”
Lalu dimulailah babak baru di rumah orang tuaku. Tetangga mulai mempertanyakan siapa sosok itu. Perempuan muda yang semakin hari makin membesar perutnya. Pastilah bukan pembantu Pak Haji.
Bisik-bisik yang semula lirih semakin terdengar nyaring. Dari mulut ke mulut, dari kampung hingga ke Jakarta, mengudara lewat jaringan tak kasat mata, mereka terus saja bergunjing.
Ibu-ibu muda menelpon suaminya yang bekerja sebagai kuli bangunan di ibukota. Remaja-remaja mencibir dalam kekecewaan. Satria Pinilih anak Pak Haji juragan beras sudah menghamili anak orang. Satria Pinilih yang dipuja-puja para gadis karena ketampanannya, yang diidamkan para bapak untuk menjadi menantu karena kecemerlangan karirnya di ibukota, kini namanya hancur dalam sekejap. Mengapalah aku harus menghamili anak orang dan memeliharanya pula di rumah orang tuaku? Sementara dengan ketampanan dan kemapananku saja di luar sana sudah mengantri perempuan-perempuan molek yang dengan bodohnya rela menyerahkan keperawanan hanya demi mendapatkan hatiku. Namun aku bukanlah orang seperti itu.
Angin malam berhembus semakin dingin. Kututup kaca jendela. Tapi tetap saja aku harus menyalakan AC karena ingatanku masih melayang  peristiwa lima tahun lalu dan itu selalu membuatku gerah dan geram.
Mendengar gunjingan orang aku berusaha menutup telinga rapat-rapat. Bayangan sosok itulah yang menguatkanku. Sosok rapuh yang kurindukan sejak bertahun-tahun lalu saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Satria muda bertaruh dengan sahabatnya, siapa yang dapat menaklukkan hati sosok itu, dia harus menjaganya dengan bersungguh-sungguh. Tak peduli bagaimana akhirnya, dia harus berjanji satu sama lain.
Dan benarlah. Sahabatku benar-benar menepati janji. Lepas kuliah mereka menjadi sepasang pengantin yang serasi. Gagah dan cantik. Pastinya! Satu-satunya sosok yang menyedot seluruh perhatianku pastilah cantik. Cantik luar dalam. Entahlah. Aku pun sebenarnya belum pernah melihat selain yang biasa kulihat saja yaitu wajah dan telapak tangan. Dan sahabatku, ya, dia pantas mendapatkan sosok itu. Cerdas, religius, dan optimis.
Aku tahu mereka hidup bahagia. Hingga suatu malam ponselku berdering. Sahabatku mengalami kecelakaan. Baleno-ku melesat menuju rumah sakit yang dimaksud. Sahabatku sudah mendapat penanganan dokter saat aku sampai. Aku duduk di bangku panjang ruang tunggu. Sementara sosok itu duduk di ujung seberang sambil terisak. Tak ada keluarga yang hadir. Hanya beberapa rekan kantor dan seorang ibu paruh baya yang terus mengusap-usap bahu dan lengan sosok itu. Aku pernah melihat ibu itu dan diperkenalkan oleh sahabatku sebagai pemilik rumah sewa yang mereka tempati.
Sejurus kemudian seorang dokter keluar dari dalam ruang IGD.
“Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan dan bisa dijenguk keluarganya. Tapi kondisinya belum stabil. Harap tidak membuat pasien terganggu.”
Keterangan dokter yang singkat membuat semua yang hadir merasa lega. Kami menemui sahabatku di dalam kamar. Sosok itu langsung memeluk suaminya dengan isakan yang makin menguat. Aku tak sampai hati melihat pemandangan itu. Aku memilih keluar dari ruangan dan kemudian pulang ke apartemen. Biarlah, mereka butuh ruang untuk menumpahkan rasa.
***
Tangan kiriku menggapai-gapai sesuatu pada laci dashboard. Sebuah minuman kaleng yang konon bisa 'bikin melek' kuteguk hingga habis. Mata ini sama sekali tidak mengantuk. Sosok itu benar-benar sudah membuatku lupa dengan segala rasa yang lazim dirasakan oleh tubuh yang terus bergerak sejak subuh hingga dini hari ini. Esok adalah hari yang penting buatku. Aku tidak akan lupa itu.
Seperti aku pun tidak akan pernah lupa ketika sosok itu muncul di apartemenku tepat satu pekan sepeninggal suaminya yang juga sahabatku yang meninggal karena kecelakaan. Oh ya, aku sudah ceritakan itu sebelumnya kawan. Yang belum kuceritakan adalah sosok itu datang padaku dengan membawa rekaman pada telpon genggamannya. Nampak dalam rekaman itu sahabatku berkata dengan terbata-bata. Lama kuulang dan kuputar ulang lagi rekaman itu sampai kemudian aku bisa mencernanya.
“Satria, jika Tuhan memanggilku sekarang, aku ingin menitipkan istriku padamu. Tolong jaga dia, setidaknya hingga bayi kami lahir. Setelah itu, antarkan ia pada abangnya jika telah pulang. Mintakan maafku karena tidak bisa lagi menjaganya.”
Aku tergugu. Jika tak malu pada sosok di depanku mungkin aku sudah meraung sekencangnya. Tentu sahabat, tentu aku akan menjaga istrimu. Dengan sepenuh hatiku. Bahkan tanpa kau minta sekalipun….
Sebatang rokok kembali kunyalakan dan kembali kumatikan. Penunjuk waktu digital sudah menunjukkan pukul 02.05. Sebentar lagi si Baleno Biru akan memasuki kota kabupaten dan satu jam mendatang sudah bisa memasuki kampung halamanku. Hatiku gelisah tak menentu. Antara senang, salah tingkah, tak tahu nanti apa yang akan kukatakan pertama kali jika bertemu dengan sosok itu. Ya Tuhan, usiaku sudah lewat seperapat abad, tapi jika memikirkan tentang sosok itu, degup jantungku masih sama seperti remaja belasan tahun lalu.
Sosok itu masih menetap dan melanjutkan hidupnya di kampung halamanku. Kedua orang tuanya sudah tiada. Satu-satunya saudara lelakinya saat ini bekerja di Jepang sebagai anak buah kapal. Ia tinggal di rumahku. Di rumah orang tuaku. Oh, bukan. Lebih tepatnya di toko milik Papa yang sebagian kini difungsikan sebagai rumah tinggal bersama anaknya. Ia menjadi  sekretaris Mama merangkap teknisi dan operator komputer di toko Papa, sesuai jurusan kuliahnya dulu. Papa dan Mama sangat menyayangi mereka. Sore hari saat toko sudah tutup banyak anak-anak tetangga sekitar rumah yang belajar mengaji dan membaca buku di rumah Papa. Rumah yang semula sepi kini ramai dan semarak.
 
Kuinjak pedal gas lebih ringan ketika dari jauh sudah mulai nampak bayangan rumah-rumah penduduk yang kukenal sejak kecil. Semakin melambat dan akhirnya berhenti di depan rumah besar yang telah terpasang umbul-umbul janur kuning pertanda ada perayaan pernikahan di rumah itu.
Ooh… begini rasanya jadi calon pengantin. Mataku menelusuri setiap sudut rumah yang sudah dihias dekorasi cantik. Di dapur para perempuan sudah mulai sibuk memasak di bawah arahan Mama untuk acara pernikahanku pagi nanti. Seorang pria tinggi besar yang asing tampak tertidur lelah di kursi sofa depan televisi. Orang itu pasti kakak lelaki calon mempelaiku yang juga baru datang tengah malam tadi. Aku ragu, apa aku masih bisa memejamkan mata di saat-saat seperti ini.
Sesosok perempuan keluar dari dalam kamar mandi sambil menyeka wajahnya yang basah terkena air wudhu. Ia terkejut melihat kedatanganku. Kami saling tatap dalam diam. Diam yang mewakili jutaan kata-kata. Kata-kata yang kususun rapi sejak SMA yang tanpa sengaja terbaca olehnya karena kecerobohanku sendiri. Bagaimana bisa aku menyerahkan laptop pribadiku yang rusak untuk diperbaiki olehnya?
Aku tersenyum, hmm… duhai perempuan pujaanku, hari ini akan kupinang kau di rumah orang tuaku. Dan untuk sahabatku, saksikanlah aku pun akan menepati janjiku. Anakmu akan menjadi anakku. Dan kita akan menjadi sanakan, yaitu saudara yang bukan saudara.

 Ah, sudahlah. Ini toh hanya angan-anganku. Aku memasuki rumah Mama dan Papa dengan lunglai. Tidak ada dekorasi indah, tidak ada ibu-ibu yang sibuk memasak, tak ada sosok itu. Semua masih sama seperti ketika terakhir kali kutinggalkan. Aku menghela nafas berat. Membangun kepercayaan tidaklah mudah, terlebih jika kepercayaan itu pernah terkoyak. Mereka tetap menganggapku pezina. Setidaknya hari ini akan ada keputusan dari Mama dan Papa. Keputusan yang kuanggap sangat penting dan akan menjadi sejarah baru bagiku. Aku berharap begitu.
Mungkin aku memang seburuk itu. Mungkin kalian semua juga seburuk itu. Mungkin aku bisa berubah. Mungkin kalian semua juga bisa berubah. Mungkin kita semua bisa mengubah nasib.

*****

Cikadu, 18 Ramadhan 1439 H
3 Juni 2018 M