Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
17 Desember 2019

Jati yang Meranggas

dialog hati jati yang meranggas


Benar.
Seseorang akan tumbuh sebagaimana jalan hidup membentuk pribadinya. Seseorang yang sering mengalami kekecewaan, akan cenderung lebih sulit membuka diri dan percaya pada orang lain.

"Saya harus melewati tahun-tahun penuh kepahitan untuk bisa berdiri tegak sampai hari ini, tanpa teman, tanpa dukungan, tanpa sandaran," katamu, "tidak ada yang peduli selain diri sendiri."

Aku tercenung melihatnya menitikkan air mata tanpa suara. Orang yang pernah menangis dalam diam, akan tahu jika itu sakit. Dan kutahu ia adalah orang yang sudah banyak sekali menangis dalam diam. Apa ia tak sakit?

"Saya sudah melewati batas rasa sakit," ujarnya tersenyum. Ah, senyumnya sungguh manis... tapi terasa hambar. Apa itu yang dinamakan mati rasa?

Aku mencoba menghiburnya, "maafkanlah masa lalumu," kataku, "maafkanlah dirimu. Itu akan membuat hatimu lebih ringan."

Ia hanya terdiam. Aku tak mampu meraba isi hatinya. Maka kuteruskan kalimatku, "kecewa hanya datang ketika kau banyak berharap. Jangan terlalu berharap maka kau tak akan kecewa lagi, percayalah."

"Kenapa saya harus percaya padamu?"

"Karena kita berteman," jawabku.

"Saya tak punya teman," ia menimpali.

Aku terhenyak. Aku sudah menemaninya, seumur hidupnya, dan ia bahkan tak menganggapku teman?

Aku yang paling tahu seberapa terpuruk dia saat itu. Hanya aku yang menemaninya saat semua orang pergi. Terseok-seok ia melangkah, mencoba bangkit di bawah tatapan sinis semua orang yang memandang sebelah mata.

Bagaimana bisa aku tak dianggapnya teman?

"Pergilah!" serunya.

Aku menatapnya tak percaya. Sebegitu tak percaya kah ia pada orang lain? Bahkan padaku yang begitu peduli padanya? Pantas saja ia tak punya teman. Ternyata memang ia tak bisa menghargai teman. 

Apa sebaiknya aku pergi? Buat apa aku tetap di sini jika ia tak menghargaiku lagi? Tapi aku tahu ia begitu ringkih di balik sosoknya yang keras dan acuh. Luarnya tegar dalamnya rapuh. Aku tak tega meninggalkannya seorang diri. Ia membutuhkanku.

"Aku tidak akan pergi," ujarku bersikeras. "Aku tahu kau selalu berusaha menghibur orang lain karena kau tahu rasanya hidup sendiri. Kau selalu mau mendengar cerita orang lain sebab kau tahu rasanya tak punya tempat berbagi cerita. Kau bantu orang-orang yang mengalami kesulitan sebab kau tau betapa susahnya mencari penghidupan. Aku mengenalmu lebih dari kau mengenali dirimu sendiri. Kau butuh teman. Biarkan aku jadi temanmu selamanya."

"Tapi saya sudah bahagia, pergilah. Saya sudah tidak membutuhkanmu lagi. Biarkan saya bahagia tanpa kamu."

Kuhela napasku panjang dan dalam. Ia memang keras kepala.
Bukan hanya kali ini ia mengusirku. Ia sering menyuruhku pergi. Berulangkali ia mengusirku, berulangkali pula ia memanggilku kembali. Katanya, bahagianya tak lengkap tanpa aku. Katanya lagi, ia menemukan bahagia saat bersamaku. Omong kosong! Sekarangpun ia mengusirku lagi.
Baiklah.
Jika itu yang ia inginkan.
Jika itu yang terbaik.
Mungkin memang itu yang terbaik.
Aku akan pergi.
Agar ia merasakan bahagianya secara utuh. Bahagia tanpa aku.

Sebab aku hanyalah rasa SAKIT. ***


03 Oktober 2019

Menaklukkan Labirin Cinta Terlarang

 

"Seperti biasa, aku diam tak bicara
hanya mampu pandangi bibir tipismu yang menarik

Seperti biasa, aku tak mampu berjanji
hanya mampu katakan 'Aku cinta kau, saat ini'

Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah..."

Lirik ini sangat familiar di telinga saya karena sudah menjadi playlist wajib zaman perangkat komputer masih dekstop pentium satu yang hardisk-nya saja cuma 4GB. Dulu, hiburan satu-satunya selain game Soliter ya Winamp dengan playlist lagu-lagi Iwan Fals. Itupun tak banyak.

Sampai sekarang perangkat sudah Intel Core i5 640 GB HDD, lagu ini tetap ada dan saya putar sewaktu-waktu sebagai mood booster. Ya, namanya juga nge-fans, tak ada kata bosan didengarkan. Makin meleganda saja sosok penyanyinya.

Saya menyukai semua lirik lagu Iwan Fals. Menurut saya liriknya jujur, apa adanya. Meski menurut sebagian orang terlalu vulgar, tapi saya menyukainya. Tengok sebutannya pada orang yang dicintai: "perempuanku, betinaku", terdengar janggal tapi memang seperti itulah kaum laki-laki memandang perempuan. Setidaknya lirik-lirik lagu ini merepresantikan cara otak laki-laki bekerja.

Kadang saya iri dengan kaum adam. Hidup begitu sederhana di mata mereka. Praktis, tidak rumit seperti perempuan. Bagi laki-laki, hanya ada kata iya atau tidak. Sekarang atau tidak sama sekali. Lakukan saja, soal akibatnya bagaimana, pikir keri, pikirkan nanti saja, begitu kira-kira. 

Mungkin itulah mengapa tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dibebankan pada laki-laki. Mereka lebih banyak memakai logika dan spontanitas. Dalam mengambil keputusan tak banyak ragu-ragu seperti perempuan. Begitu pula dalam memperlakukan cinta pada lawan jenis. Coba cerna lagu ini: "...ingin kucongkel keluar indah matamu, agar engkau tahu memang indah matamu..."
Ya ampun, seperti itulah laki-laki. Seperti itu pula cara mereka menyampaikan pujian dan menunjukkan sisi keromantisan.

Mengapa saya tiba-tiba membahas lagu Iwan Fals? Sebenarnya saya sedang teringat dengan seorang teman laki-laki, sebut saja Mas Bambang. Evenhow saya memikirkannya karena pernah sedikit 'bermain hati'. 

Oke, saya salah. Dan secara dewasa saya sudah berhasil menetralkan perasaan yang sempat timbul. Saya sudah berumah tangga, dia pun begitu. Selesai. Maka ketika saya berhasil menuliskannya secara terbuka seperti sekarang, artinya sudah tak ada lagi yang perlu disimpan atau menjadi ganjalan di antara kami. Hubungan selanjutnya murni hanya teman. Jika lebih dari teman pun, saya menganggapnya sebagai guru.

Jujur, saya sendiri rancu dengan sebutan teman. Semua yang saya kenal, saya sebut teman. Entah itu kenal secara nyata maupun hanya lewat dunia maya.

Sebagaimana teman pada umumnya, tak ada batasan untuk melempar canda. Bagi saya sendiri yang bekerja di dunia hiburan, mau tak mau tentu mengikuti gaya pergaulan sesama para penampil dan penghibur acara. Saling melempar bully-an candaan, saling menggoda, bahkan sering memberikan sebutan atau panggilan 'sayang' pada sesama rekan seprofesi tanpa khawatir baper atau tersinggung. Sebutan seperti Bojo Keloro, Selingkuhan Nomer Papat, Pacar Bayangan, kerap mewarnai canda tawa kami. Tentu saja semua itu dilakukan tanpa melebihi batas dan tetap menjaga harga diri masing-masing.

Kami, para pekerja seni ini sebagian besar berangkat dari pekerjaan sampingan. Paling banyak dari kami adalah guru, PNS, pegawai kecamatan, ada pula yang perangkat desa atau pekerjaan formal lain. Profesi pekerja seni 'ditelateni' sebagai hobi yang menghasilkan, menghibur diri dan orang lain yang dibayar, membuang jenuh tapi mendapat uang. Meski sebenarnya, realisasinya tak sesederhana itu. Tuntutan dan beban mental pekerja seni amat besar. Guyonan-guyonan ringan sangat efektif menurunkan ketegangan.

Agaknya kebiasaan ini sudah salah saya terapkan pada Mas Bambang. Guyonan yang semula iseng saya lemparkan, menjadi bumerang bagi diri sendiri. Saya mulai memikirkannya lebih banyak dari sebelumnya, menunggu-nunggu balasan chat darinya dengan hati penuh harap. Saya pun heran, mengapa bisa seperti itu. Dengan rekan seprofesi yang bisa memanggil Sayang saja saya tak ada perasaan apapun.

Setelah saya telaah (jeilahh...) dan saya pikirkan lebih dalam, mungkin hal ini karena kami tidak saling mengenal secara nyata. Tidak mengetahui baik dan buruk sifat masing-masing, hanya mengenal dan membayangkan yang baik-baik saja satu sama lain. Berbeda dengan teman dunia nyata, masing-masing kami saling mengenal suami atau istrinya, bahkan hingga keluarga besar. Maka semua candaan pun dianggap wajar-wajar saja.

Mengenal Mas Bambang, banyak membuka pemikiran saya tentang cara berpikir laki-laki. Atau cara dia berpikir, khususnya. Mirip Iwan Fals, menurut saya. Praktis dan spontan. Sangat berbeda dengan perempuan (saya) yang serba penuh pertimbangan.

Banyak kesempatan bagi saya untuk 'melepaskan diri' dari tekanan batin dan menjalin hubungan suka sama suka dengan Mas Bambang. Kami tidak khawatir kepergok karena pasangan tidak bermain media sosial, sebenarnya. Saya menyukainya dan dia menyukai saya, itu cukup bisa dijadikan alasan. Namun, ketika sampai pada satu titik itulah saya menyadari sesuatu yang lebih besar dan berharga. Yaitu saya sendiri. Saya akan mendapat perlakuan sesuai dengan perlakukan saya pada orang lain. Saya berharga jika bisa menghargai diri sendiri. Prinsip bahwa "perempuan baik untuk laki-laki baik, dan perempuan berkelakuan buruk untuk laki-laki yang buruk pula" harus saya pegang. Karma akan selalu ada dan saya tidak ingin suami melakukan hal yang sama dengan perempuan lain.

Lalu jika kami benar melakukan perselingkuhan, apakah ini salah Mas Bambang?

Tidak. Dia hanya menguji saya, seberapa kuat saya menahan godaan. Ia sangat menghargai saya. Saya sudah mengujinya. Buktinya, setelah memutuskan hubungan ini sebatas teman saja, beberapa chat saya yang berisi hal pribadi, tidak ia balas. Dari situlah saya yakin bahwa ia orang baik dan tulus. Hanya waktu dan tempat yang tidak tepat saja yang membuat hubungan kami menjadi salah di mata norma.

Sebelum merasakan sendiri, dulu saya sangat percaya diri. Yakin seratus persen, hati ini tak akan pernah mungkin bisa disinggahi rasa spesial lagi. Namun, tidak ada yang bisa menjamin kondisi hati. Rasa itu datang sekonyong-konyong tanpa disadari. Setidaknya saya tahu, rasa itupun bisa hilang juga, seperti dalam kutipan lirik lagu Iwan Fals di atas. "Aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti."

Ada alasan kuat mengapa saya perlu menuliskan hal ini. Banyak teman yang menyampaikan curahan hati pada saya. Ternyata, banyak sekali teman-teman perempuan yang terjebak hubungan semacam ini. Di zaman yang serba digital, online semudah sentuhan jari untuk berbagi informasi dan data diri, banyak kasus perempuan hilang yang bermula dari saling kenal di dunia maya.

Saya bukan orang baik. Saya juga memiliki sisi 'nakal' dan keingintahuan yang besar terhadap hal-hal 'kotor' yang belum pernah dirasakan. Tapi percayalah, saya sangat tahu kegelisahan, kegalauan, dan ketakutan menyembunyikan hubungan tak resmi semacam ini sangat membuat hati tidak nyaman.

Teman-teman ini ingin mengakhiri, tapi tidak siap. Mereka ingin berhenti, tapi tak tahu bagaimana caranya.

Setidaknya ini yang saya pelajari dari masalah ini.
  1. Jika rasa itu tetap muncul, terima saja semua rasa apapun dalam hati. Semua riak emosi dalam hati itu wajar. Rasa cinta, benci, sedih, senang, kecewa, perlu memiliki tempat dalam hati. Mereka butuh pengakuan. Tidak perlu memberontak, biarkan saja mengendap. Waktu akan mengobati semuanya pelan-pelan. Rasa itu akan hilang dengan sendirinya.
  2. Laki-laki memikirkan seks dan tampilan fisik lebih banyak daripada perempuan. Maka hindari bercanda dengan hal-hal berbau seks dan eksplorasi fisik agar tak terpancing ke arah pembicaraan yang lebih pribadi.
  3. Perempuan lebih pandai memendam rasa. Maka jika kita memiliki rasa, cukup dipendam saja, endapkan. Pikirkan baik dan buruk segala sesuatu.
  4. Penyesalan selalu datang terlambat. Maka kendalikan diri agar tak melewati batas jika tak ingin menyesal di kemudian hari.
  5. Ujian rumah tangga bisa datang darimana saja. Ada yang diuji dengan masalah keuangan, ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan anak-anak, ada pula ujian hati. Maka apapun ujiannya, jalani dengan lapang dada. Tetaplah berusaha menjadi yang terbaik dan terus menjadi lebih baik.
  6. Berdoa dan memohon perlindungan pada Sang Maha Pembolak Balik Hati, agar mampu melewati ujian hati.
  7. Tidak ada manusia sempurna. Begitu pula pasangan kita, bahkan diri kita sendiri. Jika ada sesuatu yang tak bisa didapatkan dari pasangan, bukan berarti kita bisa mencarinya dari orang lain. Prinsipnya: kelemahannya bisa jadi kelebihanku, kekuatannya mungkin adalah kekuranganku.
  8. Sebisa mungkin kita menjaga komunikasi dengan pasangan agar tidak renggang.
  9. Dalam pernikahan, cinta dan kasih sayang memiliki porsi 50 %. Sisanya adalah komitmen. Maka apapun yang terjadi, tetap ingat dengan komitmen awal pernikahan.
  10. Prioritaskan mempertahankan rumah tangga dengan memperbaiki kekurangan dalam hubungan rumah tangga, bukan mencari pelipur lara di luar sana.
  11. Sepanjang tidak ada kekerasan dalam rumah tangga dan tidak terjebak hubungan toxic, semua masalah masih bisa diatasi.
  12. Jangan berputus asa atau berkecil hati. Cinta dari pasangan mungkin mengalami pasang surut. Namun, selama masih ada effort untuk saling bertahan, segala ujian dan godaan akan bisa dihadapi.

Sebelum menuliskan ini, saya sempat diingatkan oleh seorang teman, "jangan menyia-nyiakan orang yang memberikan perhatian dengan tulus. Bisa jadi hanya dari dialah kamu mendapatkan hal yang tak kamu dapatkan dari orang lain."

Saya setuju dengannya. Maka dengan tulisan ini saya ingin Mas Bambang tahu, ia sudah mengajarkan banyak pelajaran hidup. Rasa terima kasih ini sungguh besar dan tulus, melebihi rasa apapun yang sempat mewarnai pertemanan kami.

Ya, sekarang kami masih berteman. Teman yang saling mendukung, saling mendoakan, dan saling mengharapkan kebaikan satu sama lain. Meski sebelum bisa benar-benar lega seperti hari ini, butuh satu bulan penuh bagi saya untuk menangis dalam sepi.

Selalu ada pelajaran di balik setiap masa dan peristiwa.***
29 September 2019

Sepi


(Juni, 2019)
 
Hari sudah larut, hampir tengah malam. Badan pun terasa lelah tak karuan. Tapi mata ini begitu sulit terpejam.

Agaknya jam tidur yang sudah terlanjur bergeser sejak bulan ramadhan, belum kembali normal hingga jelang akhir bulan syawal. Padahal, pekerjaan yang menumpuk membutuhkan stamina yang optimal. Apa mau dikata, kantuk belum juga datang.

Memang, selama ramadhan, praktis waktu kerja lebih banyak saya habiskan malam hari. Membuat pola, memotong, mencetak pattern untuk tricot, furing, pelapis dan fiselin, dan menyiapkan tetek bengek keperluan menjahit lainnya.

Tak hanya itu, job rias bulan syawal yang sudah menanti pun, menyita waktu untuk persiapan jauh-jauh hari.

Alhasil hampir tiap malam saya begadang. Kebiasaan ini jadi terbawa sampai sekarang. Untunglah fisik saya cukup terbiasa, jadi tidak down atau drop dibawa kerja seharian.

Sekarang ini, walau tak ingin disibukkan dengan jahitan atau riasan, insomnia kembali datang. Seperti biasa, menulis selalu bisa jadi pelarian. Menumpahkan semua yang dirasa, mengurai keruwetan yang menyiksa, menyegarkan pikiran yang nelangsa.

Sendiri.

Sepi.

Hanya tik tak jarum jam menemani.

Ada yang hilang. Sehari kemarin saya masih bisa 'mengobrol' dengan seorang teman. Sekedar saling melempar canda, mengusir sepi. Teman mutual, kenal di dunia maya. Entah mengapa malam ini saya harus memikirkannya. Saya tak begitu mengenalnya, tapi pemikirannya dewasa. Itu yang saya suka.

Banyak teman akrab yang bisa diajak bercanda, dan mereka tahu benar saya memang suka bercanda. Saya tak perlu khawatir akan timbul bibit-bibit rasa. Istilah zaman sekarang baper atau terbawa perasaan. Tapi tetap saja saya lebih ingin mengobrol dengan orang itu.

Saya menceritakan tentang orang itu pada seorang teman, Indi namanya. Bisa dibilang Indi ini mutual friend dalam versi yang lebih personal. Aslinya dia adalah sahabat pena saya sejak SMP yang entah bagaimana dipertemukan Tuhan kembali saat sudah sama-sama tua setelah hilang kontak belasan tahun lamanya.

Indi bukan orang yang mudah menghakimi. Dia selalu berpikir positif. Saya memang butuh orang-orang positif di sekitar saya untuk mengimbangi pikiran yang kadang negatif.

Yang pertama saya tanyakan pada Indi adalah: apakah saya sedang berselingkuh jika memikirkan pria lain walau kami hanya berteman? Indi balik bertanya: "mengapa kamu tanyakan itu padaku? Tanyakan pada hatimu. Cukup luaskah hatimu menampung semua nama?" Tidak, jawabku. Hatiku memang luas, tapi ia hanya indah untuk disinggahi, bukan ditempati.

Memang seharusnya begitu, namun jika rasa itu datang sendiri, bagaimana harus menghadapi?

Tidurlah.
Bayangnya akan hilang seiring waktu. Seperti namanya, teman dunia maya, semu.

***

(September, 2019)
Ini perjalanan paling emosional bagi saya. Emosi ini terkuras habis. Raga saya bersama Mas Jo, tapi jiwa ini berkelana pada sosok lain. Sosok yang entah bagaimana sudah masuk begitu dalam, ke dalam hati.

Meski tak pernah kekurangan teman yang bisa diajak bercanda dan bergembira, tapi saya bukan orang yang mudah dekat dengan orang lain. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menempati posisi spesial dalam hati.

Sosok itu salah satunya. Sosok yang terasa begitu dekat hingga sulit enyah dari pikiran.

Tapi saya bertekad akan melupakannya. Semua rasa yang saya punya untuk dirinya, biarlah menjadi kenangan.

Mas Jo tahu beberapa hari ini saya sedang gundah. Oleh karena itu ia mengajak saya pergi berdua, tanpa anak-anak. Saya menangis di balik punggungnya saat melaju di atas roda dua. Ia tahu saya menangis, ia tahu saya sedang bersedih. Kesedihan yang sangat ambigu dan sukar dipahami.

Mas Jo bercerita panjang lebar sepanjang jalan. Tentang kegiatannya, tentang teman-temannya, juga tentang rencana-rencana masa depannya. Saya bergumam menimpalinya seraya menyeka ingus dan air mata yang tak henti mengalir deras. Kami berputar-putar mengukur jalanan. Tak penting ke mana arah dan tujuan, asalkan tetap bersama Mas Jo, saya rela!

Ya Tuhan, apa yang terjadi? Apa yang sudah saya lakukan?

Saya merasa sinting dan hilang akal. Begitu gelap kabut yang menutupi mata ini. Membuat penglihatan tak lagi sempurna menangkap kebaikan. 

Bukankah jika melihat seratus keburukan pada seseorang bukan berarti satu kebaikannya menjadi hilang? Mungkin Mas Jo memang bukan pasangan sempurna sebagaimana saya pun jauh dari kata sempurna bagi dirinya. Namun, hari ini ia bisa memposisikan dirinya sebagai sahabat paling pengertian sedunia. Ia tak perlu bertanya, dan mungkin ia pun tak perlu tahu masalah ini. Tapi ia ada. Ia hanya perlu ada di samping saya.

Kami berhenti di tepi pantai. Mas Jo masih bercerita ngalor ngidul, sementara air mata ini mengering dengan sendirinya. Kami memesan es kelapa, pecel dan tempe mendoan hangat plus sambel kecap. Di bawah atap saung pinggir pantai, kami memakan semua makanan dengan kalap, sembari memutar lagu-lagu dangdut karaoke dari youtube. Sesekali kami bergantian bernyanyi; sayang, mundur alon-alon, aku takut, sampai berjoged goyang grepe-grepe dengan heboh. Tak peduli tatapan aneh orang-orang di sekitar.

Mas Jo tertawa. Saya tertawa, tapi juga ingin menangis. Ah, tetaplah seperti ini mas Jo...

Saya berjalan di bibir pantai. Sendiri, sementara Mas Jo berpamitan sebentar mengobrol dengan seorang kawan. Mas Jo tahu saya juga butuh waktu untuk sendiri.

Ah, sepi lagi. 

Kutatap ombak yang datang dan pergi. Bergemuruh, datang sekonyong-konyong dalam gulungan gelombang yang cukup besar. Lalu ketika sampai di tepian pantai, ombak itu menjelma menjadi riak-riak kecil yang liris dan manis. Kemudian... lenyap. 

Apa perasaan ini juga akan seperti itu pada akhirnya?

Belum sempat kucegah, tetes bening kembali turun di pipi. Buru-buru kuseka sebelum jatuh tetes berikutnya. Cukup. Ini sudah berakhir. Saya merasa cukup siap untuk mengabaikan dan membuang apapun rasa yang tumbuh di hati ini untuk sosok itu. 

Senja menjelang. Kami pun pulang. 
Dari balik punggung, rintik air mata kembali menitik. Tangis ketidakberdayaan, saat menyadari sesuatu yang semu ternyata bisa menjadi nyata, tapi saya memilih membiarkannya tetap semu seperti adanya.

Selesai.
Saya, Mas Jo, dan dirinya, menyelesaikan semua ini sebagaimana sportifitas orang dewasa.
Dan begitulah kisah itu berakhir.***