Tes STIFIn Finger Print Untuk Mengetahui Potensi Kecerdasan Anak

Pernah dengar tes STIFIn? Apa sih tes STIFIn? Baru dengar sekarang? Saya juga baru mendengarnya bulan lalu, terus langsung tertarik buat nyoba

Memang, sembilan dari sepuluh orang responden Indonesia belum mengetahui tentang STIFIn. Sedangkan delapan dari sepuluh orang responden Malaysia justru sudah melakukan tes STIFIn. Tes ini bahkan sudah direkomendasikan oleh perusahaan-perusahaan besar yang melakukan rekrutmen karyawan di Malaysia. Padahal penemu tes ini, Bapak Farid Poniman, asli Indonesia lho.

Bunda Chairina Hasjiem Achier, Psi (Bunda Ina) dari STIFIn Bekasi kami undang khusus untuk tes dan konseling di rumah. Kebetulan akhir liburan lalu saya dan keluarga sedang liburan ke rumah saudara di Jakarta.

TES STIFIn


Tes STIFIn adalah tes dengan metode membaca sidik jari untuk mengetahui potensi kecerdasan anak. Tes ini sudah bisa dilakukan sejak usia dua tahun hingga usia berapapun dan bersifat permanen.

Saya dan kedua anak saya melakukan tes ini dengan harapan, kami, sebagai orang tua bisa mengarahkan anak pada pola belajar dengan tepat serta mengetahui minat dan bakat anak-anak. 

Sejak muncul teori yang menyatakan bahwa semua anak cerdas, jujur saya sangat penasaran dengan potensi kecerdasan saya sendiri sejak masih sekolah dulu. Namun ternyata, kesempatan itu baru datang setelah saya menjadi orang tua, haha! Hal ini karena saya sendiri merasa lemah di bidang tertentu tapi sangat bersemangat dan antusias di bidang lain. Nah, berdasarkan rasa penasaran inilah saya mengikuti tes STIFIn ini. Di bidang apakah anak-anak saya bisa menonjol? Lalu bagaimana gaya belajar yang efektif sesuai karakternya? Apa yang perlu ditingkatkan dan apa yang harus diubah agar kemampuannya makin terasah? Kira-kira pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang membuat saya penasaran.

Itu tes untuk anak-anak. Lalu, mengapa saya juga ikut-ikutan tes segala? Toh, saya sudah mantap dengan pekerjaan sekarang. Nah, saya mengikuti tes ini untuk menyesuaikan cara mendidik anak-anak sesuai gaya dan karakter saya. Ibaratnya, saya harus sudah selesai dengan diri sendiri dulu sebelum mulai membentuk karakter anak-anak.

BAGAIMANA CARANYA


Tes ini mirip perekaman sidik jari saat pembuatan KTP, yaitu dengan menempelkan jari-jari satu demi satu sampai sepuluh jari terekam. Scanner kecil yang terhubung dengan komputer langsung membaca pola sidik jari kita. Setelah semua sidik jari terekam, Bunda Ina mengakses hasilnya secara online dari STIFIn pusat. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, hasil tes pun keluar.

 

HASILNYA?


Jeng jeng jeng!
Hasil tes yang pertama keluar adalah anak sulung saya Tsabi. Tsabi ini 'terdeteksi' sebagai Intuiting ekstrovert (Ie). Lalu saya membujuk si Adik untuk mengikuti juga tes ini. Dan hasilnya sama dengan kakaknya, Ie juga. 

Penjabaran tentang karakter Ie ini membuat saya makin penasaran dengan diri sendiri. Jangan-jangan saya orang Intuiting ekstrovert juga. Secara ciri-ciri yang Bunda Ina terangkan makin lama makin mirip dengan yang saya rasakan. 

Dan setelah dites... saya pun orang Ie juga!

Kau tahu apa sebutan bagi 'kaum' Ie? Orang-orang Ie sering disebut manusia langit karena memiliki daya pikir dan imajinasi yang tinggi. Orang-orang kebanyakan tidak paham dengan cara berpikir orang Ie yang nyeleneh dan berbeda.

Di Indonesia sendiri, metode belajar yang sesuai dengan orang Ie belum maksimal. Metode yang paling mendekati dan cocok untuk orang Ie adalah kurikulum duaribu tigabelas (Kurtilas).

Bunda Ina sampai speechless lho, membayangkan wujud rumah kami. Menurutnya, satu orang Ie saja dalam satu rumah sudah cukup membuat seisi rumah berantakan. Bayangkan ada tiga Ie dalam satu rumah saya!

Saya dan kakak saya ketawa sepanjang konseling, menertawakan kebiasaan yang setelah dipikir-pikir ternyata lucu juga. Banyak hal menjadi potensi pergesekan antar anggota keluarga yang disebabkan ketidaktahuan karakter. Saya sering berbeda pendapat dengan kakak saya. Setelah dites, kakak saya ternyata seorang Sensing ekstrovert (Se). Dengan tes STIFIn ini, setelah mengetahui karakter dan kebiasaan sesuai genetik, kita sih berharap lebih bisa saling memahami sesama anggota keluarga.

Oh ya, tes STIFIn ini ada sertifikatnya lho. Karena sifatnya yang genetik dan permanen, nantinya semakin dewasa kita memiliki arah yang mantap untuk diikuti, baik studi maupun karir. 

Bagi yang berniat mengikuti tes STIFIn ini, silakan hubungi cabang di kota-kota besar seluruh Indonesia. Tarif tes Rp 350.000,- berlaku seluruh Indonesia di luar sesi konseling.***

perekaman sidik jari dengan scanner

sertifikat hasil tes



Blog about fashion, beauty, and culture

No comments:

Post a Comment